Adalah alam dibalik alam, langit di atas langit yang menampakkan warna jingga kemerah-merahan. Tak ada matahari dan tak ada waktu, sedetik yang berlalu adalah ribuan tahun bagi yang fana. Begitulah jagad raya yang tak bertepi, yang kekal dan tiada akhir. Yang selama ini hanya menjadi negeri imajinasi milik dewa-dewi.
Sementara di salah satu sudutnya, sang rajawali tengah menghentikan kepakan sayapnya. Tiadanya panggilan para jiwa telah menuntaskan pencariannya. Sang macan dan sang naga kini tepat berada di hadapannya, keduanya sama-sama terpekur dalam kesunyian yang mencekam. Sang naga menjulurkan lehernya ke angkasa, sementara macan sama sekali tak bergeming. Hanya kedua matanya yang bergerak mengikuti gerakan kedatangan sang rajawali.
“Wahai pengusung sudut pandangNya, duhai penyebar benih inspirasiNya, dari mana saja dirimu ?” tanya sang naga
“Aku menelusuri setiap penjuru semesta, namun tak ada satupun yang memanggilku. Sungguh aku menangisi mereka, karena kearifan kian tak menemukan sarangnya” jawab sang rajawali
“Bukankah persaingan semakin tajam, tak terbersitkah bahwa mereka sebetulnya lebih membutuhkan ilham?” tanya sang naga tak percaya
“Sepertinya sabar sudah menjadi dongeng tak berguna. Mereka semakin memuja wujud akhir dibanding prosesnya” keluh sang rajawali
Sang naga dan sang macan sama-sama tersenyum mendengar penjelasan sang rajawali. Sang rajawali balik bertanya, “Setahuku kesunyian adalah bahasa sehari-hariku, sedangkan kalian senantiasa lebih akrab dengan sepak terjang dan keriuhan. Mengapa kalian di sini ? Apa yang terjadi ?”
Sang naga dan sang macan saling beradu pandang mendengar pertanyaan sang rajawali, mereka seperti saling menunggu untuk menjawab. Melihat sang macan masih duduk terpekur dan tak kunjung bergerak, sang naga mengambil insiatif untuk menjawab, “Seperti katamu, mereka lebih perduli pada wujud akhir. Bahkan kini mereka semakin terjerumus dalam pemahaman palsu. Mereka melampaui batas dengan mempermainkan prosesnya”
Sang rajawali menunjukkan ekspresi wajah tak mengerti.
Sang naga melanjutkan, “Mereka telah memahami kekuatan kami sebagai perantaraNya, kini mereka lebih senang memperebutkan kami tanpa melalui persetujuanNya demi kepentingan pribadi”
“Itulah sebabnya kami sekarang termanggu disini” kata sang macan mulai ikut bicara setelah sedari tadi lebih memilih diam.
Rajawali jadi mengerti, mengapa saat ini tak ada yang mencarinya, dan menunggu kedatangannya, “Andai pertikaian itu menunjukkan tanda-tanda telah usai, apakah itu menjadi batas penantianmu ?”
“Kami melayani mereka atas titahNya. Andai mereka menganggap kami tak lebih sebagai budak, adakah pilihan bagi kami ? “ kata sang naga.
“Siapakah mereka, melalui pintu mana kamu akan menyampaikan kekuatanNya?” tanya rajawali
“Kamu masih belum mengerti juga” kata sang macan mengambil alih jawaban, “Sesungguhnya tak ada yang berbeda diantara mereka yang berseteru, mereka adalah golongan yang sama. Sama-sama mengabdi pada kegelapan yang berkepanjangan. Mereka semua bicara atas nama yang lain, namun sesungguhnya hanya demi kepentingan mereka sendiri“
“Jelas mereka bukan pemujamu” sang naga menimpali, “Sungguh malang bagi mereka yang mesti menerima nafas apiku tanpa pernah mengerti sebabnya apabila salah satu dari para pengganggu keseimbangan itu telah menemukan kursiNya”
“Betapa tidak beruntungnya mereka yang menerima auman dan cengkeramanku hingga kehilangan kebebasannya” kata sang macan
Sang naga memandang rajawali seraya bertanya, “Apakah mereka yang terinjak-injak harga diri dan kebebasannya tak bertanya padamu tentang makna keadilan ? Sampai kapan ini semua akan terjadi ?”
Sang macan menambahkan “Mengapa raja langit dan bumi membiarkannya ? Mengapa kearifan tak kunjung dimenangkan ?”
“Mohon ketidaktahuan kami menemukan terangnya wahai sang rajawali, karena dikaulah tempatNya berbagi rahasia” kata sang naga memohon jawaban
“Selamanya rencanaNya adalah rahasia, semua telah diciptakan untuk mereka secara seimbang dan sistematis. Andai mereka mengganggu keseimbangan itu, bencana alam akan mendera mereka tak ada habisnya. Karena keseimbangan kehilangan sistematisnya. Semuanya akan musnah, peradaban akan menemukan akhir perjalanannya. Tak ada lagi materi dan simbol-simbol keduniawian, semuanya merujuk pada satu sikap dan perbuatan yang ber-Tuhan. Hingga akhirnya terhenti pada satu titik terciptanya keseimbangan baru”
“Sesungguhnya batin yang menjerit adalah yang paling beruntung. Karena merekalah penerima segala kearifan, mereka adalah cahaya yang terpinggirkan. Ketika kegelapan telah binasa karena saling menghancurkan, saat itulah cahaya kembali kepermukaan, memikul segala amanahNya untuk memulai lembaran baru”
Sang naga memahami penjelasan sang rajawali “Adalah pertanda berakhirnya masa perbudakkan, karena mereka yang tersisa lebih mengutamakanNya. Kita akan kembali melayani mereka atas ijinNya”
Selanjutnya mereka bertiga sama-sama terdiam, sama-sama menyadari tiadanya hak untuk memilih, dan kembali termenung dalam penantian panjang. Menunggu pemilik semesta alam datang dengan kereta kencana bersama para bidadari dan bala tentaraNya, untuk melakukan penghabisan sekaligus penyelamatan. Hanya yang memilih akan terpilih.
Andai negri ini yang sarat perhiasan
ibarat sebuah bahtera yang akan tenggelam,
percayalah, para malaikat hanya akan sibuk
menyelamatkan mutiara
Karena satu butir mutiara
sama dengan seribu perhiasan
**********************************************************


1 comment:
Min boleh ijin pakai naskahnya untuk acara dies natalis organisasi saya?
Post a Comment