Tuesday, January 5, 2010

THE SINGLES

Saat doa usai dipanjatkan

kesunyian pun hadir di kedalaman

Seseorang akan tergoda mencari keteduhan semu

menciptakan pengalihan baru

demi meninggalkan pengalihanNya

Mereka tak pernah sampai di mana-mana

dipermainkan takdir berkalung asa


Suatu siang yang cerah, suasana di dalam gereja roh kudus terlihat tenang dan khidmat. Seorang romo tampak khusuk memimpin acara sakral pernikahan, membacakan doa pemberkatan pada sepasang mempelai yang ada dihadapannya.

Seusai acara itu wanda telah resmi menjadi istri henry, pria yang pertama kali dikenalnya enam bulan yang lalu. Masa pacaran singkat yang berakhir di pelaminan.

Suasana tampak haru ketika wanda dalam pelukan kedua sahabatnya. Sambil menyeka air matanya wanda berkata, “Aku akan lebih bahagia jika kalian juga mengalaminya”

Nuning dan le mengangguk tersenyum penuh arti.

“Janji ya ?” desak wanda.

“Janji “ jawab nuning dan le bersama-sama.

Ketika kemudian nuning dan le berlalu, lambaian tangan dan pandangan mata wanda dari kejauhan adalah doa bagi kedua sahabatnya.


SETAHUN YANG LALU


Nuning adalah karyawati sebuah perusahaan jasa telekomunikasi. Perawakannya tinggi, wajahnya manis dan berkulit kecoklat-coklatan, kesan eksotis melekat pada penampilannya. Sehari-hari waktunya dihabiskan dengan bekerja, dari pagi hingga senja. Sepulang kerja biasanya dia membelikan roti kesukaan mamanya. Sepeninggal ayahnya, mama adalah teman satu-satunya. Teman berbagi cerita, berbagi beban hidup dan berbagi segalanya. Nuning dan mamanya sangat memahami makna kesendirian, menyadari bahwa mereka sama-sama saling membutuhkan.

Bila malam tiba, biasanya mamanya berangkat tidur lebih dulu, sebelumnya dia selalu menyempatkan menengok putri satu-satunya itu dengan pertanyaan yang sama, “Kamu, nggak tidur nduk ?”

“Enggak ma, belum ngantuk” jawab nuning ringan.

Menjelang tengah malam, tak ada lagi suara di rumah itu. Nuning dan mamanya telah menjemput peraduan, menunggu pagi kembali datang. Selanjutnya hari berjalan seperti biasa, sebagaimana biasanya.

Begitulah nuning, hidupnya lebih banyak dihabiskan dengan bekerja dan menghabiskan sisa hari bersama mamanya.

Pernah sekali waktu mamanya bertanya, “Kamu apa nggak punya pikiran untuk menikah nduk ?”

“Belum ma, belum ada yang cocok”

+ + + + +

Sudah tiga bulan wanda yang keturunan etnis cina bekerja sebagai staf keuangan di sebuah pabrik kertas. Sebelumnya dia bekerja di sebuah perusahaan jasa ekspedisi yang sarat dengan konflik internal, sehingga waktu pabrik kertas itu menawarkan kesempatan kerja, peluang itu langsung disambarnya.

Sesuai dengan posisinya, kepala wanda penuh dengan angka-angka. Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan akurasi itu sudah tentu menguras tenaga dan pikirannya, sepulang kerja biasanya wanda lebih memilih untuk langsung tidur. Hanya sesekali atau sebentar saja waktu yang dia luangkan untuk berkumpul dengan papa dan mamanya, atau dengan adik laki-lakinya.

Mungkin karena sedikitnya waktu yang tersisa dalam keseharian, wanda tidak terlalu memikirkan masalah pertemanan. Pernah sekali atau dua kali teman laki-laki bertamu kerumahnya, namun tak bertahan lama, sesudahnya mereka berlalu begitu saja.

Sering kali mamanya bertanya, “Nik, apa kamu tidak pernah berpikir untuk menikah ?”

Jawaban wanda selalu sama, “Belum ma, belum ada yang cocok”

+ + + + +

Lestari atau yang akrab dipanggil le adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Pergaulannya cukup luas, dia memiliki banyak teman dari berbagai level sosial. Sejak sma dia sudah mengenal pacaran, namun semuanya tak pernah bertahan lama. Pacar terakhirnya semasa kuliah pun meninggalkannya, meskipun masa pacaran terakhir adalah yang terlama dibanding sebelumnya.

Seusai kuliah, le memilih untuk bekerja di sebuah event organizer. Pekerjaan yang mempertemukan dirinya dengan banyak orang, yang berarti sama dengan memenuhi hasrat sosialnya. Waktu sehari-hari le banyak dihabiskan dengan bekerja, sangat jarang dia berada di rumah, sehingga tak heran kalau papi dan maminya sering menegurnya.

Sesudah pacar terakhirnya le tak pernah lagi menjalin hubungan serius dengan laki-laki lain. Ada beberapa laki-laki yang datang ke rumahnya, namun semua tak ada kabar kelanjutannya.

Pada suatu malam sebelum tidur maminya bertanya, “Nak, apa kamu nggak pernah berpikir untuk menikah ?”

“Belum mi, belum ada yang cocok”

+ + + + +

Sepertiga malam, para mama terjaga dari tidurnya. Demi membuang segala kekhawatiran mereka memanjatkan doa. Semoga Tuhan Yang Maha Bijaksana memberikan yang terbaik buat putri mereka.

+ + + + +

Banyak orang yang mengatakan penampilannya tomboy. Nuning tidak perduli, dia menikmatinya. Duduk berjam-jam di depan kaca dengan segala perlengkapan kosmetik adalah bukan dunianya. Tak sedikit teman laki-laki yang mengagumi, bahkan sebagian ada yang mencoba untuk mendekati. Namun nuning lebih memilih untuk menjalin pertemanan biasa, tidak lebih.

Ada yang berkomentar bahwa cara mengemudi motor nuning yang rada ngebut lebih mirip laki-laki dari pada wanita. Namun nuning tak perduli, menurutnya cara mengemudinya biasa saja.

Namun senja itu menjadi tidak biasa, sepulang nuning kerja hujan turun cukup deras membasahi permukaan jalan, cukup mengganggu pandangan mata. Nuning tiba di sebuah jalan dimana terdapat rel kereta api yang melintas di tengahnya, dia tidak mengurangi kecepatannya. Tiba-tiba ban depannya selip, motornya terjatuh dan meluncur cepat di atas permukaan jalan. Nuning yang merasa kepalanya sempat terantuk aspal ikut terseret bersama motornya hingga terhenti di tepi trotoar. Kejadian itu cukup membuat kemacetan di tengah arus lalu lintas yang memang selalu padat. Dibawah guyuran air hujan nuning sempat melihat aspal jalan begitu dekat, hanya beberapa senti dari matanya, sementara tubuhnya seperti sulit untuk digerakkan. Sayup-sayup didengarnya suara orang-orang, semakin lama semakin tidak jelas, sesudahnya dia tidak ingat apa-apa lagi.

+ + + + +

Wanda sudah mendapat peringatan dokter agar amandelnya yang kian membesar segera dioperasi, karena suhu badannya semakin sering turun naik. Sebelumnya wanda masih menawarnya, yang menjadi alasan sudah tentu adalah pekerjaannya. Namun akhirnya wanda menyerah juga, ketika badannya drop lagi untuk kesekian kali. Dia pun meminta ijin kepada atasannya untuk menjalani operasi. Keesokan paginya wanda pergi ke rumah sakit diantar mamanya.

Operasi wanda berjalan lancar, meski wanda tidak sepenuhnya tahu karena dia tidak sadar. Ketika membuka mata dia sudah tergeletak di atas tempat tidur ruang kelas tiga. Di kanan dan kirinya ada pasien lain dengan sakit yang berbeda.

+ + + + +

Biasanya le mampu melewati jadwal event yang padat, namun kali ini le merasa kondisi badannya tidak bersahabat. Dia merasa sangat kedinginan, meski jaket tebal telah menutupi setengah badan. Karena takut kondisinya bertambah buruk le akhirnya minta ijin pada koordinatornya untuk pulang beristirahat. Dia berharap esok hari kondisi tubuhnya akan membaik dengan sendirinya.

Namun harapan le tidak terwujud, ketika terbangun tubuhnya justru menggigil. Dia merasakan kedinginan yang amat sangat, sementara panasnya kian menghebat. Le menyerah ketika maminya memaksanya untuk pergi ke dokter. Le juga tak bisa berkata apa-apa ketika dokternya memberi surat pengantar ke rumah sakit untuk menjalani opname. Le merasa tubuhnya sudah tak bertenaga lagi. Sesudah pemasangan botol infus dan suntik dari dokter, le memasuki alam mimpi.

+ + + + +

Pertama kali tersadar di rumah sakit, nuning melihat sekeliling, kepalanya masih pusing. Dia merasakan nyeri di sekujur tubuh, keterbatasan gerak karena perban dan gips memaksanya mengaduh. Pikirannya pun bergerak berusaha mengingat kejadian sebelumnya.

Di sampingnya ada dua pasien lain, namun nuning masih enggan berbicara dengan mereka. Selama dua hari tidak ada percakapan diantara ketiganya, dan nuning tidak tertarik untuk memulainya.

+ + + + +

Le sangat membenci sinetron, selama dua hari dia memilih diam dan tidak menonton. Namun pada hari ketiga le tidak tahan lagi, dia memaksa untuk memberanikan diri, “Channel tv nya boleh aku ganti nggak?”

Wanda dan nuning mengangguk tanda tidak keberatan. Le menggantinya dengan acara live musik sambil melihat keduanya, ekspresi mereka menunjukkan tanda persetujuan. Senyum mengembang dan tegur sapa telah hadir diantara mereka.

+ + + + +

Percakapan awal hanya seputar hal-hal yang ringan, sekedar untuk membuang rasa bosan. Namun perlahan-lahan mereka mulai tertarik untuk mencoba saling mengenal, mungkin karena tidak ada orang lagi di kamar itu selain mereka bertiga. Kunjungan saudara atau teman sudah tak mampu mengobati rasa kesepian, masa besuk dianggap terlalu singkat dibandingkan satu hari yang panjang dan membosankan.

Topik yang dibicarakan juga semakin dalam, tidak jarang mereka berdiskusi hingga larut malam sehingga para suster terpaksa harus memberi mereka peringatan.

Sesekali mereka juga terlihat bercanda, saling mengolok berseling tawa.

Kedekatan kian tak berjarak, mereka kian mengenal satu sama lain, persahabatan pun mulai terjalin. Mereka sepakat bahwa wanda adalah yang paling wanita, nuning adalah yang paling laki-laki dan le adalah yang tengah-tengah.

+ + + + +

Di sepertiga malam, para mama bersyukur karena putri-putri mereka mendapat teman baru, dan berdoa agar Tuhan memberikan kesembuhan.

+ + + + +

Diantara canda tawa mereka menemukan banyak persamaan. Yang paling prinsip adalah mereka sama-sama masih menjomblo, sama-sama merasa belum bertemu dengan seorang yang mereka anggap cocok sebagai calon pasangan hidup, dan yang pasti mereka sama-sama sering diingatkan oleh mama mereka. Untuk yang terakhir mereka merasa geli sendiri, tapi mereka sepakat bahwa peringatan itu adalah ungkapan rasa sayang dalam bentuk kekhawatiran. Karena datangnya sering di saat yang tidak tepat, membuat mereka sulit untuk menerimanya. Sehingga mereka lebih sering mengambil sikap untuk menjawab sekedarnya.

+ + + + +

Hari berikutnya pembicaraan mereka tidak berbeda, topik seputar masa lajang dan berbagai kemungkinannya masih menjadi masalah paling menarik untuk didiskusikan. Salah satunya adalah fenomena semakin banyaknya wanita karier yang memilih untuk hidup sendiri.

Mereka begitu serius membahasnya, melalui berbagai sudut pandang yang berbeda-beda. Hingga melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab sampai larut malam. Apakah itu sebuah pilihan ? Apakah itu keterpaksaan ? Apakah pilihan berdasarkan keterpaksaan bisa dianggap sebagai sebuah pilihan ?

Ketika akhirnya seorang suster datang menegur dan menyuruh tidur, mereka terpaksa menyudahinya. Namun mereka bertiga sepakat tak ingin melajang selamanya. Di satu sisi mereka menikmati masa lajang yang menawarkan kebebasan, namun sejujurnya mereka juga merasa tidak siap untuk menghabiskan sisa hidup seorang diri.

Lalu dari mana datangnya keterpaksaan itu ? Meraka tak sabar menunggu hari berikutnya.

+ + + + +

Keesokan harinya diskusi dilanjutkan. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini masing-masing mulai mencurahkan isi hati yang paling dalam. Semua jeritan hati terungkap bebas tanpa batas, impian dan segala batasannya tergelar di permukaan, mengalir deras tiada tertahan. Kesamaan rasa dan perjalanan emosi yang terbentuk dari hari ke hari sudah cukup bagi mereka untuk saling mempercayai. Mereka bersama-sama menelusuri makna keberadaan diri dan menggali arti di kedalaman hati. Bersama-sama mencoba menyikapi semua beban, mencari jawaban dari semua pertanyaan.

Ketika akhirnya waktu menunjukkan pukul tiga pagi, tak ada lagi air mata, tak ada lagi kegundahan hati. Semua ganjalan dan tekanan telah merujuk pada satu tujuan. Garis senyuman di sudut bibir mengisyaratkan bahwa mereka tidak sabar untuk segera kembali ke aktivitas sehari-hari dengan segala keleluasaan hati yang kian terselami.

Selanjutnya mereka terbang ke alam mimpi.

+ + + + +

Atas ijin dokter, wanda adalah yang pulang paling awal. Sambil berpamitan wanda mengucapkan terima kasih pada dua sahabatnya yang telah mengajarkan kepadanya tentang ketegaran hati dalam menghadapi esok hari yang masih misteri. Nuning dan le juga mengucapkan terima kasih pada wanda yang telah mengingatkan tentang sisi wanita dalam diri mereka yang ingin dicintai.

Mereka akhirnya sama-sama menyadari bahwa kesendirian sebenarnya adalah tekanan yang bersembunyi dibalik kebebasan. Andai keliru atau berlebihan menyikapinya, mereka akan tenggelam di dalamnya. Kebebasan yang tak terkendali hanya akan menimbulkan ketakutan akan perubahan secara perlahan. Rasa ketakutan yang melahirkan pengingkaran hati bertajuk keterpaksaan.

Tak ada pilihan lain selain untuk lebih jujur pada perasaan mereka sendiri. Hidup adalah pilihan, kehendak hati diatas kesadaran.

Pertanyaan seputar masa lajang sebenarnya adalah peringatan, meski terasa menyakitkan. Kekeliruan dalam menyikapinya akan menjadikannya tekanan, yang akan berujung ketidakjujuran pada suara hati yang paling dalam. Hanya akan melahirkan sikap berpura-pura, seolah semua baik-baik saja.

Yang pasti mereka bertiga sama-sama berjanji, tidak lagi menjawab sekedarnya kepada mama mereka. Mereka akan memilih kata-kata dan sikap yang lebih bijaksana.

Bersabar, menjaga keteguhan hati, dan tidak mudah larut dalam kebebasan dan kesenangan, serta senantiasa memperbaiki citra diri lewat kehidupan sehari-hari adalah langkah terbaik dalam menyikapi masa lajang mereka saat ini. Mereka meyakini, bahwa orang lain hanya akan perduli pada seseorang yang perduli pada perbaikan dirinya. Selebihnya, hidup ini terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja.




Adakah yang lebih disukaiNya

selain suara jeritan hati ?




**********************************************************

2 comments:

Anonymous said...

siplah...

toni said...

iya mas ceritanya kok hampir mirip seperti diriku berdalih belum ada yang cocok dan segala macamnya , mohon do'a nya aja mas !!