Sudah lama Al Jeni mendengar cerita tentang keindahan negeri antah berantah dengan pemiliknya Sang Raja Cinta, namun belum pernah sekalipun mengunjunginya. Sebuah negeri dengan kelembaban udara tertentu, suhu panas dan dingin menyatu dalam satu kalbu. Tempat yang sangat jernih dan jauh dari segala macam distorsi. Adalah pusaran ketenangan sejati, sehingga semua talenta dan hasrat hati dapat sempurna termanisfestasi.
Awalnya Al Jeni mengetahui keberadaan negeri itu lewat dongeng-dongeng pengantar mimpi. Keindahan yang menggoda hasratnya untuk menelusuri cinta di kedalaman hati. Mencoba mengenali Raja Cinta, dengan permainan cintanya yang agung melalui ketulusan cinta orang-orang disekitarnya. Lewat perantara kasih dan persahabatan.
Dalam keseharian Al Jeni selalu berusaha mencoba membalas cinta Sang Raja Cinta yang memabukkan, namun sudah tentu masih sangat jauh dari sekedar mengimbanginya. Karena jalan yang mesti ditempuh adalah melalui mencintai segala kekurangan orang-orang terdekatnya. Perjalanan yang penuh liku dan melelahkan sekaligus menyakitkan, karena mengagumi suatu kelebihan terasa jauh lebih mudah untuk dilantunkan.
Hingga akhirnya dia merasa kelelahan di sudut ruang, karena cintanya semakin bertepuk sebelah tangan. Seluruh raga dan pikirannya tenggelam dalam ketidaksadaran orang-orang yang dicintainya. Dia kesulitan untuk bernafas, tinggal sepasang tangannya yang tersisa di permukaan, mencoba menggapai akar kehidupan agar terselamatkan.
Sebelum tenggelam semakin dalam Al Jeni memutuskan untuk pergi ke negeri antah berantah, demi ketenangan jiwanya, demi keselamatan hidupnya.
+ + + + +
Al Jeni telah berada diantara barisan antrian panjang di depan pintu gerbang, untuk menjalani seleksi uji timbangan. Sedikit sekali yang berhasil melaluinya, satu yang terpilih berbanding seribu yang terbuang.
Al Jeni sangat berharap kedua telapak tangannya seimbang, agar dirinya diterima di negeri impian. Namun kesalahan di masa lalu mendera pikirannya, menebar desah kekhawatiran dan keraguan berkepanjangan.
Seketika angin berhembus kencang menerpa pelataran. Pintu gerbang terbuka lebar menyambut Raja Cinta yang baru tiba dari bepergian. Ayunan langkah Raja Cinta yang anggun dan penuh pesona menggeletarkan seisi jagad, kehidupan seperti menyambut kehadirannya dengan salam hormat. Pijar auranya menyapa hati Al Jeni yang resah dan gelisah. Menggantinya dengan keteduhan berteman nyanyian alam.
Tiba-tiba Raja Cinta menoleh pada antrian, matanya tertuju pada Al Jeni diantara barisan, “Wahai pemuja cinta yang tengah gundah gulana, sudah lama aku menunggumu. Tinggalkan barisan itu, bergabunglah denganku”
Al Jeni meninggalkan antrian, bersama Raja Cinta melewati pintu gerbang menuju negeri impian. Cinta tiada mengenal timbangan.
+ + + + +
Di depan mata Al Jeni terhampar bunga mawar sedemikian luasnya, sejauh mata memandang warna merah menggores kanvas hingga batas cakrawala. Di lain sisi beribu-ribu melati bersanding tak kalah cantiknya, tergelar apik membentuk permadani alami. Menyungging tepi bibir untuk bergerak seiring nyanyian hati.
Al Jeni menghirup nafas panjang, menikmati asal muasal wewangian, yang setia menafasinya dikala sakit hati hadir menyesakkan dada.
Raja Cinta yang sedari tadi mendampinginya berkata, “Jika dikau telah menemukan kesejatian, adakah hasratmu untuk mengingkarinya ? Jika dirimu telah melihat setitik cahaya, dimana keperdulianmu untuk tetap menelusurinya?”
Al Jeni bertanya dengan kerendahan hati, “Mengapa aku ? Mengapa harus aku ? Mengapa bukan mereka yang mengagung-agungkan cahaya diatas cahaya ?”
Raja Cinta tersenyum sambil berkata datar, “Aku tak memilihmu, kamu yang memilih cinta, dan cinta memberi kekuatan pada mereka yang mampu menanggungnya“
“Lalu kemana semua daya, mengapa matahari bersembunyi dan tak menampakkan senyumnya untukku?”
“Cintalah yang memberimu makna, menjembatani lidahmu untuk berpura-pura demi kebaikan mereka, bukan kebaikanmu sediri. Di sanalah batas segala daya, batas cahaya dan kegelapan. Karena cinta tak akan pernah membiarkan siapa saja yang akan memanfaatkan pijar kemilaunya, cintalah yang akan memanfaatkan mereka untuk kepentingan cinta itu sendiri. Semuanya atas nama cinta, demi cinta dan untuk cinta, tiada yang lain. Selebihnya adalah tipu daya, bukan cinta”
Al Jeni terdiam, menyelami kedangkalannya sendiri, “Kepada siapa sebenarnya cinta diperuntukkan? Andai aku yang memilih memetik dawai harpa, kepada siapa tembang ini didendangkan?”
“Mereka hanya tahu aku, tapi tak pernah mengenalku, sedetik yang berlalu mereka berpaling dariku. Dimanakah hatimu ketika mereka mengingkari cinta ? Mereka mengetahui bejana kehidupan dan semua periuknya, namun mereka hanya melihatnya dari dua bola mata mereka sendiri. Dimanakah jiwamu saat cinta kehilangan makna ?”
Al Jeni tercenung mendengar kata-kata Raja Cinta, “Sungguh aku merasakan kepedihan mereka yang menelusuri jalan cinta, sungguh aku menangisi ketidaktahuan mereka yang mengingkarinya. Dimanapun hatiku berlabuh, aku menjerit, mengkais-kais ilham untuk menguraikannya”
Raja Cinta tertawa, “Jangan tangisi dirimu, kamu berada di ruang dan waktu yang berbeda. Kamu mengerti mereka namun mereka tiada mengerti dirimu. Tiada guna berteriak dari ketinggian langit, mereka tak akan mampu mendengarnya. Gelombang udara di depan matamu akan menyesatkan semua kata bijak menjadi nyanyian salah paham. Ketika ilalang membumbung tinggi hingga mengaburkan pandangan, bunga kerinduan dari cinta yang kamu tanam akan menggerakkan sepasang mata ke arah langit untuk mencari dan memanggilmu. Hanya cinta yang mampu mempersingkat jarak ruang dan waktu, cinta jua yang mampu menggerakkan semesta untuk mewujudkan impian mereka tanpa tahu asal keberadaannya”
“Itukah yang disebut kesempurnaan?” tanya Al Jeni
“Kesempurnaan yang ada padamu bukanlah milikmu. Memaksakannya pada ketidakmampuan hanya akan membutakan mata mereka pada semua kelebihanmu. Keengganan berujung kebencian akan menari-nari di sekitarmu, berbalik memaksamu untuk menyelami keterbatasanmu dan mengungkap ketidakmampuanmu sendiri. Biarkan kesempurnaan melarut dalam lautan ketidaksempurnaan. Biarkan tenggelam bersama kekuatan cinta kedalam kelemahan dan ketidaktahuan hingga pijarnya menerangi luas samudera”
Al Jeni menyadari musabab kekeringan hatinya, memahami jeritannya yang tak terdengar, dahaganya yang tak pernah terpuaskan, celotehannya yang membentur dinding bebatuan. Karena cinta bukanlah satu-satunya pilihan, selama semua yang berwujud dan aneka simbolnya masih bertebaran dan berserakkan di setiap tepi jalan. Al Jeni terhanyut dalam kebisuan, namun menolak segala bisikan bertajuk kesepian.
Raja Cinta berkata syahdu di penghujung waktu, “Meskipun ladang cintamu meratap pedih ditinggal sang hujan, aku tiada bosan memberimu serbuk sariku. Cinta tak akan pernah meninggalkanmu kecuali dirimu yang meninggalkannya”
Al Jeni memberanikan diri menatap paras elok Sang Raja Cinta seraya lirih berkata, “Beri lagi aku sedikit waktu, aku ingin pulang”
+ + + + +
Al Jeni tengah berdiri di tepi dermaga, memandang luas lautan berteman belai sapa dan bujuk rayu angin malam. Tak ada lagi kegundahan yang menyiksanya, karena cinta telah membebaskannya. Karena cinta telah memberinya dua sayap, bahagia dan sakit hati.
Dia berbisik pada alam, tak akan lagi mencari hati Picantri kekasih sejatinya. Kemanapun hati Picantri berlabuh adalah bukan kuasanya, dia pun tak mampu memaksa hati Picantri untuk selalu berpaling kepadanya. Dia menyerahkan seutuhnya pada cinta yang memiliki bahasanya sendiri. Seiring waktu cintanya akan menjadi cinta Picantri sebagaimana dua sayapnya. Cintanya akan menjadi cinta orang-orang yang membutuhkan uluran tangan Picantri dengan kerelaan hati, agar bakatnya teraktualisasi. Bahagia Picantri akan selalu menjadi bahagianya, derita Picantri akan selalu menjangkaunya lewat bahasa jiwa yang rahasia.
Sejak itu Al Jeni tak enggan lagi mengangkasa, untuk mendampingi dan mengamati ketidaksadaran dari kejauhan. Tak lagi menjejakkan kaki di muka bumi, kecuali bagi mereka yang perduli dengan kerendahan hati. Sarang peraduannya adalah wahana sederhana nan bersahaja. Titik temu antara kelebihan dan kekurangan, pengetahuan dan ketidaktahuan. Dimana tak satupun yang merasa lebih dibanding yang lain. Semua yang ada saling bicara tanpa menggurui, dan membiarkan pengalaman menjadi gurunya.
Hanya satu yang menjadi raja diraja, cinta itu sendiri. Sepanjang ruang dan waktunya masih ada.
Merajut cinta denganMu
lewat jalan penderitaan
laksana keterasingan
Tak ada yang semengertiMu
Tak ada yang seperduliMu
Jagalah rasa takut dan rinduku
Jangan berhenti mencintaiku
Bagilah hatiku,
sesukaMu
**********************************************************


No comments:
Post a Comment