Anak kecil itu bergerak tanpa berpikir, dia hanya menggunakan rasa, mengolah rasa, atau berpikir menggunakan rasa yang ada dalam dirinya. Permukaan rasa melahirkan naluri yang menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Kedalaman rasa menyuarakan tawa dan tangis yang menjadi bahasa utamanya.
Dia adalah pemenang sejati, karena semua ungkapan rasanya menjadi perhatian semua yang memandangnya. Rasa yang menguasai dirinya adalah bahagia, karena dia menjadi pusatnya, dia berselimut cahaya.
Namun dia tidak tahu, kemenangan ini mungkin hanya sekali saja terjadi dalam kehidupannya. Selanjutnya dia harus berjuang untuk memperolehnya.
+ + + + +
Si remaja mulai mengenal akal dalam dirinya, akal mampu berbicara dengan seluruh anggota tubuhnya. Akal juga yang melahirkan segala keinginan atas masukan dari panca indranya. Ketika mata melihat sesuatu yang indah, akal menghadiahinya keinginan untuk meraihnya. Namun ketika sang akal membisikkan keinginan jatuh cinta, akal mulai tertinggal entah dimana. Ketika cinta datang menyapa, si remaja lebih mengutamakan rasa ketimbang akalnya. Cara berpikirnya melahirkan sikap yang tak bisa dimengerti sekitarnya, karena rasa telah menguasai dirinya. Kesulitan hadir mendera, kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai makhluk hidup tak berjalan sebagaimana mestinya.
Satu hal yang belum dia ketahui, sebenarnya sang rasa mampu menemaninya berpikir andai dia mampu menyikapi rasanya. Namun pasti dia tidak akan perduli meski kebuntuan kian membayangi. Tapi paling tidak dia bertemu bahagia, meskipun tidak bertahan lama.
+ + + + +
Setelah melewati proses yang menyakitkan di masa remaja, si dewasa lebih sering melakukan tawar menawar antara rasa dan akalnya. Dia telah mengerti segala kesulitan berawal dari rasa yang tak terkendali, dan peran sang akal adalah untuk mengimbangi, bahkan kalau perlu mengambil alih kendali.
Dia juga memahami bahwa bahagia bersemayam pada sang rasa, sang akal akan memantik hasrat si dewasa untuk mencapainya. Namun ketika beban hidup kian menghimpit pikirannya, si dewasa mulai meninggalkan rasa nya. Dia semakin sulit bertemu bahagia, makin sering bergumul dengan kesenangan semu yang tak pernah ada habisnya, demi mengimbangi kesulitannya. Bahkan sang akal melengkapi dirinya dengan senjata berupa alasan dalam wujud pembelaan hingga pembenaran diri.
Dia semakin tidak tahu bahwa sang rasa mampu menjangkau akalnya, tidak sebaliknya. Ketika sang akal yang terbatas terbentur pada kekuatan yang jauh lebih besar, si dewasa akan terjatuh, mencari, merengek-rengek, hingga mengkais-kais, melakukan segala cara untuk menemukan rasanya. Karena hanya rasa yang mampu menolongnya, yang masih menyimpan senjata rahasia berupa harapan dan keyakinan.
Sesudahnya, sebagian akan memilih jalan yang sulit, yaitu mencoba menyatukan keduanya. Sedikit yang memilihnya.
Sebagian lain akan membiarkan sang akal kembali menjadi raja atas dirinya, tergoda akan jaring kesenangan yang ditebar sang akal, yang pada akhirnya akan berujung pada kesalahan yang sama. Pilihan kedua adalah yang paling diminati.
+ + + + +
Si tua tak punya pilihan lain, selain kembali berjuang mencari sang rasa karena sang akal mulai menjauhinya. Hasrat tak mampu lagi menggerakkan sekujur tubuhnya. Namun rasa seperti enggan menemuinya lagi, bahkan mengusiknya dengan ketakutan akan kematian dan panasnya api neraka.
Akhirnya hukum alam menjatuhkan vonisnya pada si tua, sang akal mulai sering meninggalkannya, dan hanya sesekali menghampiri untuk sekedar memulihkan ingatan dunianya. Bahkan terkadang si tua telah lupa dengan anak cucunya, apalagi namanya.
Seluruh anggota tubuh kian bergerak semaunya tanpa terkendali, termasuk segala sesuatu yang keluar darinya.
Tiba-tiba sang rasa hadir menghujam dirinya, menikam dalam hingga ke jantung hati. Mengambil alih seluruh daya ingatannya sejak masa kecil hingga dewasa. Semua yang telah direkam oleh rasa tersaji utuh dan jernih dalam ingatannya hingga seluruh kejadian di masa lalu menjelma kemarin hari. Sering kali air mata mengalir membasahi pipi, saat teringat akan segala kesalahan yang pernah dilakukannya. Tak jarang pula dia tersenyum ketika teringat masa-masa bahagia, masa-masa terindah dalam hidupnya. Anak cucunya bersedih karena berpikir si tua sudah gila.
Rasa dalam dirinya ingin berbagi pada mereka, bahwa surga dan neraka sejatinya ada. Namun lidah seperti hantar kelu dan bersembunyi di ruangnya sendiri. Mungkin karena itulah semuanya disebut rahasia, karena surga hanya bagi mereka yang sungguh-sungguh menginginkannya.
Yang bisa dia lakukan hanya menunggu waktunya tiba. Menunggu cahaya yang sering dilihatnya sewaktu kecil menjemputnya.
Kepada yang waktunya berjalan lambat,
dengan siapa pertemanannya ?
Kepada yang waktunya berjalan cepat,
siapa yang melewatkannya ?
Melaju tanpa terasa,
hingga terhenti di depan titik cahaya
saat langit berubah tujuh warna
**********************************************************


No comments:
Post a Comment