Hujan turun dengan derasnya, selama satu jam mengguyur seluruh pelataran kota. Tempat yang tinggi menyambut berbasah-basah, sementara yang rendah bak bejana yang menampungnya. Percikannya berkilau indah di permukaan kaca jendela, gemuruhnya menyapa hati untuk ikut bernyanyi. Namun hujan seperti hanya menghela napasnya, tak lama melanjutkan kembali nyanyiannya lewat gerimis panjang hingga larut malam.
Berteman hawa dingin, menghantarkan sebagian orang untuk berelaksasi menjemput mimpi. Sementara wajah-wajah kecewa menghiasi mereka yang berkarya, karena merasa terganggu aktifitasnya. Bahkan tak sedikit yang menggerutu, karena lelah menunggu reda, menganggap hujan justru bersikap sebaliknya. Tiada lelah, dan tak perduli pada mereka.
+ + + + +
Di salah satu sudut kota, seseorang telah sekian lama tak bercengkerama dengan hujan. Dia berhenti menjadi pawang hujan karena dewa hujan berhasil membujuknya untuk tidak lagi mengganggu keseimbangan alam. Alasan yang mendukung rayuan dewa hujan adalah karena kemampuannya menjinakkan hujan hanya diganjar dengan dua bungkus rokok kretek. Dia terluka, karena orang-orang tak menghargai bakatnya.
Keluhan sebagian orang tentang hujan yang tak kunjung reda mengusik kerinduannya untuk menyapa dewa hujan, menggodanya untuk sekedar bertanya, atas nama persahabatan. Hujan pun berhenti tepat di atas tubuhnya.
“Wahai dewa hujan, tak kau dengarkah keluhan mereka?”
“Sudah tentu aku mendengarnya, apa salahku sehingga mereka mencurigaiku?”
“Mereka menganggap dirimu memusuhi mereka, karena suaramu tak kunjung berhenti mengusik telinga”
“Kecurigaan itu membuatku bersedih hati. Tahukah mereka bahwa sebenarnya aku telah berbaik hati? Apa jadinya bila air sebanyak ini aku jatuhkan secara keseluruhan dalam waktu yang singkat? Apakah mereka tidak tahu bahwa gerimis seusai hujan lebat adalah pertanda terhindarnya sebuah bencana?”
“Maafkan kedangkalan kami, keduniawian membuat kami kian tak memahami bahasamu”
“Tahukah mereka dari mana asalnya air di langit bisa sebanyak ini? Pedulikah mereka dengan yang hatinya menjerit hingga tangisnya membasahi bumi?”
Mantan pawang hujan itu tertunduk, memahami pesan yang disampaikan dewa hujan, bahwa manusia sendirilah yang menciptakan ketidakseimbangan alam, “Andaikata kezaliman ini tak menunjukkan tanda-tanda berhenti, masih adakah keperdulianmu kepada kami?”
“Bukankah kepedulian adalah tugas manusia? Aku hanya mengembalikan apa yang telah kamu beri, semuanya sudah tercatat, andai semuanya melampaui batas, tak ada lagi kuasaku untuk menyelamatkanmu”
Mantan pawang itu terdiam menatap langit, percakapannya telah terhenti. Sekejap gerimis membasahi sekujur tubuhnya, bersamaan dengan air mata yang membasahi wajahnya. Tangisnya seiring dengan tangisan dewa hujan, seirama dengan jeritan alam, menangisi tanda-tanda akhir peradaban.

Sebatas yang telah dijanjikan,
selama pelangi masih terlihat
di kaki langit
**********************************************************


No comments:
Post a Comment