Di sebuah pemukiman suku indian, hiduplah seorang wanita tua yang dikenal sebagai seorang pendongeng, Dia bernama smiling moon. Konon menurut cerita orang tuanya waktu smiling moon lahir ke dunia, bulan di langit sedang tersenyum menyambut kehadirannya. Setiap malam dia selalu dikelilingi orang-orang, dari kecil hingga dewasa yang mendengar ceritanya dengan penuh seksama. Terkadang mereka tersenyum, terkadang tertawa, dan tak jarang mereka menangis karena mendengar ceritanya yang berkisar tentang makna kehidupan, yang bermuara pada perjalanan hidupnya. Dia melihatnya dari tempatnya kini berpijak, ranah asri yang bijak dimana sejatinya bahagia diatas suka dan duka.
Namun tak ada satupun yang tahu bahwa semua cerita itu adalah tentang dirinya, dan tentang caranya bercerita. Rahasia talenta antara dirinya dengan Tuhan nya.
+ + + + +
Waktu masih muda, smiling moon adalah pusat perhatian. Meskipun tidak terlalu cantik, namun wajah cerianya selalu menarik siapapun yang melihatnya. Dia menaklukan siapa saja, tak seorangpun yang mampu menolak permintaannya. Semua keinginannya terpenuhi, siang dan malam semesta bergerak untuknya.
Hingga suatu hari, ketika sedang bermain di sebuah hutan smiling moon bertemu seorang wanita tua yang dikenal sebagai penyihir. Sosoknya mengerikan, rambutnya panjang dan tak terurus. Dibalik rambut yang menutupi sebagian wajahnya, penyihir itu berteriak dengan suara parau, “Hey wajah pendusta, bercerminlah pada langit. Semua yang ada pada wajahmu memperdayai mereka demi keinginanmu. Penderitaan yang tiada akhir akan menyertaimu seiring waktu. Sampai kamu menemukan makna keberadaanmu bagi yang lain”
Smiling moon berlari ketakutan meninggalkan si penyihir. Semak belukar yang tajam menggores luka tiada terasa. Kata-kata itu hidup menjelma kutukan, dan menguasai semua pikirannya.
Sejak itu semuanya berubah menjadi terbatas, segala keinginannya menjadi sulit terpenuhi. Cinta yang ditebarnya berbalik menyakiti, kasih di sekitarnya berganti membebani.
+ + + + +
Sekuat tenaga tangannya yang angkuh mencoba mengusapi air mata, memaksakan senyuman yang kini tinggal sisa-sisa. Tawanya adalah tangisnya, kata-kata yang lahir dari mulutnya adalah kesepiannya. Hingga akhirnya dia benar-benar sendiri, tersudut tak bergerak dan tak ada lagi ruang untuk menipu diri. Tangisan di kedalaman menjelma jeritan hati.
+ + + + +
Suatu malam smiling moon terjaga dari tidurnya, dilihatnya langit yang berkelap-kelip bermandikan cahaya. Diantara kegelapan malam bulan di langit tengah bersinar menatap dirinya, lekat tegak lurus tepat di di atas wajahnya. Tiba-tiba dia teringat dengan kata-kata si penyihir. Dia melihat wajahnya sendiri di permukaan bulan. Bulan itu tersenyum ketika dia tersenyum, tertawa ketika dia tertawa, dan menangis bersama penderitaan hidupnya. Meratapi kesendiriannya yang mencekam dalam tiada terbilang.
Sejak itu setiap malam smiling moon selalu menanti kedatangan sang bulan, yang telah menjadi satu-satunya teman pengusir kesepian. Yang menjadi guru kehidupan baginya, untuk menelusuri penderitaan di kedalaman hati. Mengurai kesalahan di masa lalu yang menjadi muara segala permasalahan yang terjadi. Mencari jalan keluar untuk kembali, demi memperbaiki kesalahan tanpa harus terhakimi diri sendiri.
Bersama sang bulan perjalanannya berujung di inti rasa. Smiling moon menemukan kesejatian makna bahagia di atas suka dan duka. Dimana tak ada satu katapun yang mampu mewakilinya.
+ + + + +
Semesta kembali bernyanyi untuk smiling moon. Mempertemukan dirinya dengan mereka yang pura-pura bahagia diatas derita. Mereka yang setengah hati mendengarkan kata-katanya. Mereka yang membuang bunga yang dia berikan, yang selalu dipuungutnya kembali untuk dibersihkan dari debu kehidupan. Karena dia percaya, suatu saat pasti mereka akan membutuhkannya.
Bulan telah mengajarkan kepadanya tentang rahasia talenta. Untuk menggerakkan sorot mata dan garis bibirnya. Untuk mengubah-ubah wajahnya seiring suasana. Untuk memperlihatkan wajah kenyang di depan mereka yang masih ingin makan, untuk memperlihatkan wajah segar di depan mereka yang masih kehausan, dan untuk memperlihatkan wajah ketegaran di depan mereka yang tertekan. Semua murni dari hati nurani, panggilan suci dari jiwa yang tersembunyi.
Dia ada untuk mereka, agar mereka bahagia. Meskipun sesudahnya terkadang mereka melupakannya. Karena penderitaan mereka adalah cermin penderitaannya sendiri.
Namun smiling moon tak pernah lagi sendiri, karena bulan di langit selalu menemaninya. Selalu menghiasi parasnya agar tetap elok dan bercahaya di atas panggung sandiwara.
Sejati angat mahir berpura-pura,
namun tak berpura-pura bahagia
**********************************************************


No comments:
Post a Comment