Raja Langit tengah duduk di singgasana didampingi sepuluh patih yang bijaksana. Dihadapannya berdiri seorang laki-laki paruh baya dengan wajah harap-harap cemas. Kecemasan berselimut ratapan, berhasrat mengungkap kata-kata memohon jawaban.
Setelah membungkuk penuh hormat dia berkata, “Baginda Raja Langit yang bijaksana, aku datang dari tanah yang sangat jauh karena mendengar kemurahanmu yang terkenal di seluruh jagad. Di negriku kecerdasan adalah raja, kebodohan yang menjadi budaknya. Majikan ku sangat kikir, kelebihannya membuat diriku terpedaya. Meskipun aku telah menunaikan kewajibanku, namun dia mengingkari hak ku dengan segala tipu dayanya yang mempesona. Dengan segala kerendahan hati aku mohon perkenanmu untuk hidup di negrimu yang mewakili segala suka cita ini”
Raja Langit tersenyum sambil berkata, “Hiduplah dengan pilihan nasibmu, bernafaslah dengan udaraku, petiklah yang ingin kau petik sewajarnya. Namun jangan lupa untuk menanam benihnya demi kelangsungan hidupmu”
Laki-laki itu membungkukkan tubuhnya sambil mengucapkan kata terima kasih berulang-ulang.
Sang patih pun bertanya, “Paduka Yang Mulia, laki-laki itu baru saja menginjakkan kakinya di tanah ini, mengapa engkau mengabulkan permintaannya?”
“Karena dia datang dengan ketetapan hati, ratapannya nyaring terdengar dari kejauhan. Karena dia bersungguh-sungguh menyebut kemurahanku, andai aku tak mengabulkannya, apa bedanya aku dengan majikannya yang kikir itu?”
+ + + + +
Seorang dengan baju serba hitam dan gerak-gerik laksana pendekar berdiri dihadapan Raja Langit. Dengan nada datar bersamar kesombongan dia berkata, “Baginda Raja Langit, hidupku di negriku bergantung pada patung dan batu hitam yang menjadi sumber kekuatanku. Semua tanamanku tumbuh subur, bertahun-tahun aku hidup dalam kemakmuran. Namun kini istriku sakit dan tak kunjung sembuh, namun patung dan batu hitam itu tiada menunjukkan kesaktiannya kepadaku. Aku mendengar banyak cerita tentang kekuatan dan kedigdayaanmu yang termashur. Dengan segala ketidakberdayaan, aku memohon padamu agar engkau berkenan menyembuhkan istriku. Jika engkau mengabulkan permintaanku, aku akan meninggalkan patung dan batu hitam itu. Aku akan tinggal di negrimu yang maha daya, dan patuh pada semua perintahmu”
Sang patih hendak bereaksi marah mendengar kata-kata tantangan dibalik kesopanan itu, namun Raja Langit mencegahnya sambil berkata, “Bawalah istrimu ke negriku, agar jiwanya bernafas dengan cintaku yang tak terbatas. Istrimu akan sembuh”
Sesudah mengucapkan terima kasih orang itu berlalu, sang patih pun bertanya, “Mengapa Paduka Yang Mulia memenuhi permintaannya, sementara ketinggian hatinya masih mengangkasa”
“Karena dia berada di batas daya, karena dia mencintai istrinya. Andai aku tak menyembuhkan istrinya, apa bedanya aku dengan patung dan batu hitam itu? Biarkan dia belajar sesudahnya untuk mengendalikan kesombongannya lewat pintu keyakinan”
+ + + + +
Tak lama berselang datanglah seorang anak muda dengan penampilan sederhana. Setelah memberi hormat dia berkata, “Baginda Raja yang berkuasa atas semua peristiwa, aku datang hanya ingin bertanya. Banyak sekali kejadian yang tidak aku pahami. Mengapa ada derita jika bahagia tercipta, mengapa ada kematian jika kehidupan terasa menyenangkan. Mengapa orang-orang berduyun-duyun datang padamu dan meminta sesuatu, namun tak seorangpun yang berhasrat menanyakan sebab dari segala sebab? Apa maksud dari semua ini?”
Sang patih hendak bereaksi marah mendengar kelancangan pemuda itu, namun terhenti karena melihat Raja Langit tertawa terbahak-bahak.
“Anak muda, pertanyaanmu sangat sederhana namun tak mudah untuk menjawabnya. Besok aku akan berkeliling negri ini. Ikutlah, duduklah disampingku, akan kujawab semua pertanyaanmu”
+ + + + +
Perjalanan melintas ruang dan waktu telah usai dijalani, tak ada satu sudut negri dan sendi kehidupan yang terlewati. Selama perjalanan tak sekalipun Raja Langit berbicara, namun semua yang diperlihatkannya menaburkan sejuta makna. Semua jawaban telah tersaji dihati si anak muda yang kini telah kembali berdiri di hadapan Raja Langit.
“Anak muda, aku telah memenuhi janjiku. Apalagi yang ingin kau katakan?” tanya Raja Langit.
Sambil mencoba untuk tetap terjaga anak muda itu berkata,”Cinta Baginda Raja sungguh menakjubkan, andai kau tak mencubitku niscaya aku kehilangan kesadaran. Hakekat tentang perjalanan menuju kesempurnaan lewat sekian godaan dan permintaan telah aku pahami. Kini dengan segala kedangkalan yang kumiliki ijinkan aku untuk memohon kesejatian. Aku ingin bahagia diatas suka dan duka, dan aku ingin hidup diatas kehidupan dan kematian”
“Anak muda, engkau telah mengajukan permintaan diatas permintaan, namun sebagaimana yang telah kau ketahui tiada yang tak kukabulkan. Aku berikan padamu sebuah kereta kencana untuk mencapainya”
+ + + + +
Anak muda itu telah duduk di kursi kendali kereta, bersiap memulai perjalanannya.
“Baginda Raja yang penuh cinta, ijinkan aku bertanya untuk terakhir kali. Mengapa kereta ini sedemikian panjang?”
“Penghuni keretamu bukanlah beban, mewujudkan impian mereka tanpa mengetahui keberadaanmu berarti mempermudah tujuanmu. Suka duka mereka adalah penentu keseimbangan, kulminasi tertinggi untuk terbang menggapai harapan. Jangan kau tunjukkan wajahmu, pikiran mereka akan mengingkarimu. Mereka mengikutimu atas panggilan jiwa yang merdeka. Pergilah, berangkatlah, biarkan kereta membawamu ke langit tertinggi bersama nafas kerinduanku”
+ + + + +
Kereta itu pun melaju menembus waktu, merambah awan berarak yang kini tak lagi berjarak. Menguak semesta raya yang tak bertepi, menyingkap tabir menuju mimpi di atas mimpi.
Merangkai imajinasi berteman harapan, mengikis keterbatasan untuk wujudkan impian menjadi kenyataan.
Hanya di tingginya langit,
tempat berpijarnya bintang gemintang
dimana tujuan mulia layak disandarkan
Meski duri sarat berserak di lelikuan
tak selamanya impian hanya impian
Demi menjadi jawara,
pada nantinya
******************************************


No comments:
Post a Comment