Paska kejatuhan kerajaan wana mukti, patih marendra memutuskan untuk menjadi seorang pujangga. Dalam keseharian dia lebih sering menghabiskan waktunya dengan bertapa, demi mencari makna kehidupan tentang perjalanan hidupnya. Menelusuri lelikuan hidup berteman renjana mencari cintanya Cinta, lewat dicintai dan mencintai.
Di sisa hidupnya dia mencoba untuk belajar mencintai kekurangan orang-orang disekitarnya, belajar mencintai segala hal yang dinafsui mereka.
Sisi dicintai telah dialaminya, saat bahagia dan sakit hati menyatu dalam satu kalbu. Sesuatu yang tak mungkin dimiliki, yang selalu menyertai setiap langkahnya, dan tak pernah hilang ditelan waktu. Namun dia telah merelakannya, dan tak pernah berpikir tentang pertemuan berikutnya. Hanya sebaris doa agar cinta sejatinya bahagia dengan pilihan hidupnya.
Namun patih marendra keliru, setelah lima belas tahun semesta mempertemukan kembali dirinya dengan dewi ratih, cinta sejatinya.
+ + + + +
Saat bertemu langit membiru, kerinduan bersembunyi dibalik lidah yang membeku. Ribuan kata-kata yang tersimpan di dalam lubuk hati marendra seperti berebut mencari ruang, namun yang tersaji hanya kata-kata sederhana yang tak berarti apa-apa. Dewi ratih masih seperti dulu, tatapan mata dan lembut suaranya langsung menghujam ke jantung hati marendra, meracuni aliran darahnya dan menguasai pikirannya. Satu hal yang pasti berbeda, marendra tak melihat lagi hati cinta sejatinya. Dewi ratih menutup rapat kenangan itu di balik luka baru. Derita hidup yang tersembunyi di balik senyumnya yang berkilau seperti kemerlip biji sesawi.
Jari-jari marendra yang teguh tak kuasa menyentuhnya, sesuatu yang sudah berlalu tak mungkin lagi diubahnya. Jalan hidup mereka selamanya akan berbeda, kala hati bertaut dunia akan memisahkannya seribu depa, rahasia hati mungkin tak akan pernah terungkap selamanya. Hati tetap membisu, menyimak canda tawa di permukaan yang tiada arti, dan tak pernah mampu menyentuh sisi terdalam yang akan tetap menjadi misteri. Pertemuan itu pun berlalu bersama hembusan angin. Marendra masih terpaku, setia mencari kedalaman makna, menanti jawaban dari dalam hatinya.
+ + + + +
Marendra kecewa, karena hatinya enggan berbicara, tak lagi bernyanyi sebagaimana biasanya. Keindahan tentang keindahan yang tak terungkap melukai dirinya, pertanyaan tentang keutuhan hati yang tak terjawab merajam pikirannya, tetes air matanya berganti menjelma telaga.
Menjelang tenggelam, tujuh bidadari mengangkat tubuhnya, dan menerbangkannya menuju nirwana untuk bertemu dewi cinta.
Dewi cinta yang cantik dan anggun tengah duduk di singgasana khayangan sembari menatap marendra yang berdiri dihadapannya, ”Lihatlah dirimu yang kini di depan waktu, bukankah kamu sekarang merasa jauh lebih baik dibanding dulu ? Kamu kini mampu berdiri tegak diatas rasa bahagia dan tersiksamu, adakah yang lebih indah selain bersemayam di tahta kesadaran diatas kesadaran ? Kembalilah ke kehidupanmu, jangan memaksakan pikiranmu untuk mengungkap rahasia hati. Ladang cinta akan terlihat utuh dan indah jika terlihat dari kejauhan, kedekatan akan menggodamu mengusik prasasti cinta yang telah diukirNya. Biarkan cinta yang mengurai dengan bahasanya sendiri seiring waktu”
+ + + + +
Ketika marendra kembali memijakkan kakinya di bumi, dia terkejut karena tubuhnya berubah menjadi seorang wanita. Namun tak ada lagi yang menyiksa pikirannya, karena perasaan telah menjadi raja atas dirinya. Jemarinya berubah menjadi lentik, segala yang disentuhnya berubah menjadi bunga. Setiap tanaman tumbuh dan bersemi di setiap jalan yang dilaluinya, bermekaran dan mewangi semerbak lestari. Kepada mereka yang berbunga dan mekar kelopaknya, marendra selalu berpesan, “Jangan mencintai jasadku, karena yang kau lihat bukanlah wujud asliku. Sejatinya aku adalah sebuah hati yang ingin dicintai”
Bagi mata hati,
mencintai adalah
meniti tangga tujuh surga
Bagi mata ragawi,
mencintai adalah
meniti tujuh anak tangga
Cinta sejati selamanya adalah milikNya
cintanya Cinta,
yang menyatukan para jiwa
di depan altar Raja Diraja
**********************************************************


No comments:
Post a Comment