Sudah setengah jam nanda duduk sambil memandangi ponselnya di atas meja. Tangannya gemetaran menahan diri. Kegelisahan tergambar pada jemarinya yang bergerak menari-nari. Hasrat seperti memaksanya untuk menyentuh ponsel itu dan menelpon mantan kekasihnya. Tapi nanda tahu, andai dia menghubungi siska berarti melanggar kesepakatan untuk tidak lagi saling menghubungi. Sama artinya dengan kembali menyiram bara ke dalam api. Perpisahan ditengah cinta yang masih menyala bagi mereka sudah cukup menyakitkan. Melanjutkan kembali hubungan kasih justru akan menambah luka yang telah ada. Dengan kedewasaan yang ada mereka berusaha untuk menyikapinya, bukan untuk memperkeruhnya. Mereka sama-sama berharap membiarkan api akan padam dengan sendirinya seiring waktu.
Perlahan-lahan nafas nanda mulai teratur. Cinta telah mengendalikan hasratnya, dia tak lagi melirik ponselnya. Cinta dan sakit hati telah meracuni pikirannya untuk berpaling pada sisi lain, yang menjanjikan segala kemungkinan dan sejuta asa. Luka itu harus disembuhkan. Dia berdoa memohon pada hujan agar berkenan membasahi tungku perapian.
Tapi mengapa perbedaan itu ada ? Mengapa siska harus terlahir dengan ras dan agama yang berbeda ? Lalu untuk apa cinta itu diciptakan ?
+ + + + +
Nanda berterima kasih pada dini yang telah menyadarkannya bahwa selama ini ternyata dia berjalan dengan masa lalunya, meski perpisahannya dengan siska sudah berjalan satu tahun. Selama ini dia tidak pernah menyembuhkan lukanya, tapi justru mengingkarinya. Dia telah membiarkan masa lalu menyiksa alam bawah sadarnya. Dia seperti berjalan di atas tidur, hanya berpura-pura seolah semua baik-baik saja.
Dini lah yang memaksanya untuk mengunjungi tempat favoritnya dengan siska selama merajut kasih di waktu malam. Sebuah dataran tinggi dengan pemandangan luas terbentang, dimana kemilau lampu kota bercanda mesra dengan cahaya bintang. Tempat yang sangat romantis, namun bagi nanda sangat menyakitkan.
Namun dini benar, saat berada di tempat itu semua yang selama ini menyiksanya berubah menjadi cerita yang sangat indah untuk di kenang. Kisah kasih anak manusia yang tidak sekedar untuk dilupakan. Masa lalu selamanya akan menjadi bagian dari dirinya, cinta dan sakit hati telah menghadiahinya sebuah taman bunga. Yang sewaktu-waktu bisa dikunjungi di kala kelelahan tengah mendera hati. Kini dia merasa lebih siap untuk menjalani hidupnya.
Nanda berterima kasih pada dini, yang sebenarnya juga baru saja mengalami putus cinta dengan kekasihnya karena perbedaan agama. Realita yang memaksa dirinya untuk menanyakan alasannya pada dini. Sebuah kata-kata sederhana penuh makna meluncur dari mulutnya, lepas bebas tiada beban menembus udara, “Luka hati yang kita alami akan lebih mudah terobati jika kita membantu menyembuhkan luka orang lain”
Jawaban yang menyentuh kedalaman hati. Kebesaran hati lewat cinta dalam wujud persahabatan, yang menghapus semua kesedihan di setiap sudut ruang. Namun itu semua masih belum menjawab pertanyaan nanda tentang cinta dan perbedaan.
+ + + + +
Setelah lulus kuliah nanda bekerja di sebuah bank swasta. Karyawan bank itu cukup banyak, meliputi beragam suku, etnis maupun agama. Ketika sibuk bekerja, mereka semua melarut dalam satu sistem kerja yang lebih mengedepankan sisi profesionalisme menurut bidangnya. Namun di waktu terpisah mereka kembali ke kelompoknya masing-masing. Tak ada lagi pembauran di saat istirahat makan siang, tak ada lagi percakapan untuk sekedar membuang rasa bosan.
Nanda tidak asing dengan lukisan beraneka warna, pengalaman yang menyakitkan di masa lalu telah mengingatkannya bahwa perbedaan itu ada. Nanda lebih memilih jalur aman, di luar jam kerja dia bergabung dengan mereka yang berlatar belakang sama. Tak jauh berbeda dengan kehidupan pribadinya, saat ini nanda menjalin hubungan serius dengan wulan yang seagama. Nanda telah merasakan pahitnya benturan karena perbedaan, dia tidak berminat untuk mengulanginya.
Suasana di tempat kerja nanda baik-baik saja, semua telah tertata oleh sebuah sistem kerja yang sistematis. Namun keteraturan itu mendadak sirna ketika rencana merger dengan bank lain mengemuka. Rasionalisasi besar-besaran akan terjadi, seleksi karyawan akan dilakukan kembali melalui sebuah evaluasi. Yang tersaring akan bertahan, yang tidak lolos seleksi harus angkat kaki. Semenjak itu suasana kerja berubah drastis. Wajah-wajah resah dan gelisah tampak dimana-mana, kelompok-kelompok kian mempertegas keberadaannya. Nanda merasakan hal yang sama, ancaman pemutusan hubungan kerja telah terbayang di pikirannya. Namun dia tidak tahu harus bergabung dengan kelompok yang mana, karena menurutnya topik yang mereka bicarakan sama saja. Yang nanda tahu, rencanannya menikahi wulan tahun depan bisa berantakan.
+ + + + +
Akhirnya merger itu jadi terlaksana, beritanya terpampang sebagai headline di sejumlah media. Nanda pasrah, karena pengalaman kerjanya yang baru dua tahun terlalu singkat jika dibandingkan dengan mereka yang telah bertahun-tahun bekerja di bank itu.
Siang itu nanda dipanggil untuk menghadap atasannya di ruang meeting. Di ruang itu dia tidak sendirian. Pimpinannya menawarkan kesempatan bagi nanda untuk bertahan, karena berdasarkan evaluasi kemampuan kerjanya selama ini dinilai cukup memuaskan. Dia sempat melihat orang-orang yang berada di ruang itu. Semuanya asing, tak ada satupun yang berasal dari kelompoknya. Kenaikan gaji, tawaran jenjang karier serta tantangan profesionalisme tertera di atas draft yang disodorkan kepadanya. Nanda tidak berpikir dua kali, dia memilih menandatanganinya.
+ + + + +
Sesampai di rumah nanda merenungkan segalanya. Di hari berikutnya dia akan bekerja sama dengan teman-teman kerja yang baru, yang semuanya berbeda ras dan agama. Sejak lama nanda memahami adanya perbedaan, namun baru kali ini dia bisa belajar menyikapinya. Andai dia lebih mementingkan kelompoknya, sama dengan mempersulit dirinya sendiri. Karena bank itu lebih percaya pada kemampuannya, bukan warna kulitnya. Pertama kali dalam hidupnya nanda menyadari bahwa perbedaan seharusnya disikapi bukan diingkari. Nanda tak ingin mengingkari kemampuannya sendiri.
Satu hal yang pasti nanda telah menyampaikan kabar ini pada wulan, bahwa rencana pernikahan mereka tidak jadi tertunda.
+ + + + +
Dua tahun berlalu. Suatu pagi nanda berangkat kerja dengan muka kusut, wajahnya menandakan dia baru saja begadang semalam suntuk. Namun kepenatan tiada terasa karena wulan istrinya baru saja melahirkan putra mereka yang pertama. Perasaan lega bercampur bahagia menyertainya hingga ke tempat kerja. Sambutan disertai ucapan selamat dari teman sekantor membuat wajahnya kian sumringah. Tubuhnya serasa kembali bertenaga.
Ketika sedang menuang kopi sebagai pengusir rasa kantuk, mata nanda tertuju pada televisi di sudut ruang. Yang sedang memberitakan acara pemakaman seorang tokoh negara yang juga pemuka agama. Pemakaman itu berlangsung di kota kecil, namun dilaksanakan secara kenegaraan dan dipimpin langsung oleh seorang kepala negara. Yang hadir pun luar biasa banyaknya. Tak hanya ribuan umat agama dari organisasi yang dipimpinnya, namun juga orang-orang berlatar belakang profesi, suku, ras dan agama yang berbeda. Mereka tak hanya datang dari segenap penjuru kota, namun juga penjuru dunia. Mereka semua datang untuk menghormatinya.
Seketika bulu-bulu di tangannya merinding, hatinya bergetar seiring jantungnya yang berdegup kencang. Pikirannya melayang jauh menggapai makna di antara luasnya langit. Menjemput rangkaian hikmah yang telah terjalin indah oleh sutas benang merah. Pertanyaannya tentang keberadaan cinta di tengah perbedaan beberapa tahun lalu kini terjawab sudah.
Tokoh besar itu telah memberi inspirasi yang tak ternilai kepadanya. Sepanjang hidupnya dia tidak hanya menyikapi perbedaan, namun juga mencintainya. Dia selalu bersedia menempatkan dirinya sebagai jembatan diantara keanekaragaman. Di akhir hayatnya, segala perbedaan itu menyatu dalam satu ruang dan waktu. Untuk memberikan penghormatan terakhir sekaligus menghantarkannya kepada Sang Pencipta.
Perbedaan diciptakan sebagai cermin, agar manusia bisa mengenali diri sendiri. Sementara cinta dilahirkan agar manusia mencintai perbedaan itu. Tokoh besar itu selalu berada diantaranya, dia tak pernah sendiri dalam kesendiriannya.
Adalah tiada guna memaksakan keakuan
dihadapan perbedaan
Biarkan kesantunan meraja di permukaan
dan kerendahan hati menari-nari
Agar kedalaman Iman terselami
membuka mata hati tanpa menggurui
Karena Yang Maha Bijaksana
tiada pernah menggurui
In memoriam KH Abdurrahman Wahid,
father of pluralism
**********************************************************


2 comments:
hanya Perbedaan itu yg bisa merubah pijaran menjadi benderang...lalu gemerlap...lalu redup...lalu terang kembali penuh sorak sorai.
perbedaan lahirkan damai...
dan perbedaan itu yg melahirkan nafas yang lembt hingga nafas yang tersengal, lalu nafas-nafas baru yg kelihatan mungil, lucu,tak berdosa, meski tak ada jaminan, kelak ia tak akan beringas dan tak akan binal
.....perbedaan lahirkan perang
lalu perbedaan itu, Telah lama dijadikan ALAT KELAMIN GANDA yang berfungsi menusuk hak asasi dan merendahkan sebagian yang lain.
(flashnya lancar???)
thanks mas...sudah dibukakan yg begitu dalam hokky number 100
Post a Comment