Friday, December 25, 2009

LEGEND OF THE PET CAT

Herman adalah kucing peliharaan yang kesekian dari majikannya, bahkan nama herman bukanlah yang pertama. Konon ceritanya, herman yang pertama bernasib nahas, dia mati karena terlindas ban mobil akibat kebiasaannya tertidur di bawah mobil yang diparkir di halaman. Mungkin karena faktor sejarah itulah herman yang sekarang dibatasi ruang lingkupnya. Herman hanya bisa menyaksikan dunia luar lewat kaca jendela. Ada apa di luar sana ?

Herman sangat dimanja, fasilitas yang diperolehnya serba kelas satu. Keranjang tidur yang nyaman, makanan serba enak dan tak ketinggalan susu segar kapanpun herman menginginkannya. Majikannya sangat sayang padanya, sering kali kepala herman dielus-elus hingga tertidur. Tidak jarang herman tidur dalam pelukan majikannya. Namun semua itu berubah ketika majikannya menduduki bangku universitas.

Majikannya semakin jarang berada di rumah, terlalu sibuk dengan dunia perkuliahannya. Perhatian untuk herman diserahkan pada pembantunya. Segalanya tak lagi sama, makanan jadi seadanya dan tidak selalu ada, susu segar pun semakin jarang dia temui. Herman semakin sering berada di depan kaca jendela. Di luar sana mungkin lebih baik.

Sesekali dia mendapat jatah makan setelah mencoba mengambil sendiri di meja makan, itupun si pembantu melakukannya dengan setengah hati. Namun usaha kesekian kali dampaknya berbeda, si pembantu mencengkeram leher herman dan membuangnya keluar, hingga teriakan herman tak lagi terdengar. Pintu telah tertutup rapat untuknya. Herman memalingkan pandangannya ke dunia luar yang luas terbentang, barangkali disana akan banyak makanan.

Herman mulai menelusuri jalan-jalan di depannya, pendorongnya sudah pasti adalah rasa lapar. Di setiap jalan yang dilalui, herman sama sekali tidak menemui mangkuk berisi makanan atau susu segar. Ketika herman mendekati seekor kucing yang sedang sibuk membongkar-bongkar tempat sampah, kucing itu menggeram sambil menunjukkan taringnya. Herman urung bertanya, kali ini dia tahu tempat yang dia tuju. Akhirnya di sudut jalan herman menemukan tempat sampah yang lain. Menurutnya tempat itu sepertinya begitu besar namun makanan yang tersedia sangatlah sedikit, itupun tidak dalam wujud yang utuh. Namun itu sudah cukup untuk menghilangkan rasa laparnya. Sebagai pemuas rasa haus sesudah makan, herman memilih air got di samping tempat sampahnya. Sudah pasti tak senikmat susu segar majikannya.

Sesudahnya herman berpaling ke belakang, dia sudah tidak tahu jalan pulang. Herman lebih memilih jalan terbentang di hadapannya, dimana berbagai misteri telah menantinya. Herman memulai babak baru dalam kehidupannya.

+ + + + +

Herman memahami bahwa untuk bertahan hidup dia tidak bisa bergantung pada satu tempat sampah, oleh sebab itulah dia berpindah-pindah. Tidak jarang herman mesti bersitegang dengan kucing lain yang mengincar tempat sampah yang sama. Aturan yang berlaku adalah hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang berkuasa.

Terkadang herman merasa letih dengan hidup yang dijalaninya, segala sesuatu seperti tidak pernah berjalan mudah. Sangat berbeda dengan masa lalu yang serba ada dan tersedia. Namun ketika rasa lapar kian tak tertahan, kenangan masa lalu segera menghilang begitu saja. Berpikir tentang masa lalu tidak menghilangkan rasa laparnya.

Suatu ketika herman tidak mendapatkan makanan hingga sore hari, dia nekat memasuki halaman rumah dan merengek-rengek memohon belas kasihan. Terbersit dalam pikirannya kemungkinan untuk dipelihara. Namun ketika yang diterimanya adalah pengusiran, herman tidak pernah tertarik lagi untuk mencoba cara yang sama. Garis takdir sudah cukup jelas baginya, dulu adalah masa lalu dan dia tidak mungkin kembali. Masa depan dengan segala kemungkinan yang terjadi ada di hadapannya, hanya itu pilihannya. Herman melanjutkan langkahnya.

+ + + + +

Jalan yang dilalui herman kian lebar dan ramai, persaingan antar kucing pun kian ketat, karena kucing yang ditemuinya jauh lebih banyak dibanding lahan makanan yang tersedia. Terkadang herman hanya bisa makan makanan yang tercecer di pinggir jalan, baginya sudah merupakan keberuntungan. Herman menjadi terbiasa dengan rasa lapar, tak ingat lagi dengan susu segar.

Sering kali herman terjaga ditengah tidurnya, keriuhan dan kebisingan di lingkungan barunya tak mengenal batas waktu. Hari demi hari, waktu demi waktu, rasa lapar dan kebisingan telah menjadi bagian dari hidupnya. Kenangan masa lalu kembali melintas dalam pikirannya.

+ + + + +

Suatu hari langkah herman terhenti di sebuah bangunan besar yang yang habis terbakar, sama sekali tak ada gambaran adanya makanan. Ketika dia memutuskan hendak beranjak pergi, tiba-tiba terdengar suara dari dalam sebuah pipa. Suara itu terhenti bersamaan dengan munculnya kepala seekor tikus di ujungnya. Awalnya tikus itu seperti terkejut dengan keberadaan herman, namun dengan percaya diri tikus itu menyapanya, “Hai, kamu pasti bekas kucing peliharaan”

Herman heran, “Bagaimana kamu tahu?”

Si tikus tertawa, “Karena kamu tidak tertarik untuk memangsaku, kamu terbiasa dengan makanan yang tersedia”

Herman masih tidak mengerti, “Bagaimana kamu tahu bahwa kamu bukan makananku?”

Merasa dirinya aman, si tikus keluar dari tempat persembunyiannya sambil tertawa, dia menikmati ketidaktahuan herman, “Semua kucing yang dalam pengawasan majikan hanya akan makan makanan yang layak dimakan, sementara kucing yang tidak mengenal majikan akan memangsa siapa saja yang lemah, termasuk aku adalah salah satunya”

Kali ini herman yang tertawa, “Wah betapa malangnya kamu, kenapa kamu mau?”

Kali ini si tikus menatap herman dengan wajah serius, “Benar yang pernah aku dengar, kucing peliharaan dikuasai sifat lemah dan manja, sama sekali tidak mengenal permainan takdir. Tahukah kamu, mengapa takdir melemparmu ke jalanan?”

Herman terdiam, kata-kata si tikus seperti bermuatan energi yang membuatnya terkesima dan tak mampu berkata apa-apa.

“Agar kamu menjadi lebih kuat, dan menjadi lebih baik. Agar kamu bisa meraih cita-citamu”

“Kalau ini adalah bagian dari permainan takdir, sungguh aku tak bisa menikmatinya. Yang kualami saat ini bukanlah pilihanku, dan aku sendiri merasa tak pernah punya cita-cita”

Si tikus tertawa terpingkal-pingkal, “Lihatlah betapa bodohnya kamu, kamu sungguh-sungguh tak mengenal dirimu. Jangan berbohong pada diri sendiri, jujurlah bahwa sebenarnya kebebasan yang kamu alami saat ini adalah keinginanmu yang dulu. Pada waktu itu mungkin kamu menikmati semua yang serba ada, namun sebenarnya kamu juga menginginkan kebebasan dunia luar yang mungkin hanya bisa kamu saksikan dari balik kaca jendela”

Herman terkejut, “Bagaimana kamu bisa mengetahuinya sejauh itu?”

“Tidak ada satupun makhluk yang mau hidupnya terbelenggu, semuanya merindukan kebebasan. Sebenarnya dirimu menikmati kebebasanmu saat ini, namun itu semua tertutupi oleh kenangan akan kemudahan di masa lalumu. Sehingga sedikit kendala yang sedang kamu hadapi saat ini menjadi terasa berat, akhirnya tanpa sadar kamu menjadi lebih sering mengeluh di setiap langkahmu”

Herman terkagum-kagum, “Luar biasa pengetahuanmu, dari mana asal kearifanmu? Apakah kamu selalu bisa menikmati kebebasanmu yang terbatas, karena sewaktu-waktu para kucing bisa memangsamu?”

Si tikus tersenyum, “Aku mengenal permainan takdirku, menurutku takdirmu jauh lebih baik dariku. Tak ada satupun makhluk yang mau menerima keberadaanku, apalagi bersedia memelihara seperti yang mereka lakukan pada dirimu. Akhirnya aku harus hidup dalam lorong-lorong kegelapan, jika semua makhluk sudah terlelap dalam tidurnya, adalah waktuku untuk melihat dunia. Namun aku menikmatinya, karena mungkin begitulah takdir yang ditetapkan padaku. Jika aku mengingkarinya, kesulitan akan menjadi bagian dari hidupku”

Herman menjadi malu hati, dia sama sekali tidak mengenal kehidupan yang dia jalani. Dia hanya berpikir hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup. Hanya makanan yang ada dalam pikirannya, sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya tentang hidup dan permainan takdirnya, “Lalu kemana takdir akan membawamu?”

“Aku tidak tahu, yang bisa kulakukan hanyalah merubah nasibku dengan cara menentukan tujuan hidupku. Sebenarnya aku hanyalah seekor tikus yang beruntung. Tempat tinggalku ini tadinya adalah tempat hiburan, lebih banyak minuman yang tersedia dibanding makanannya. Lalu aku mendengar cerita-cerita tentang sebuah tempat yang dikenal sebagai surganya tikus, mereka menyebutnya restaurant. Aku pun bermimpi ingin sekali mencapai tempat itu, dan ingin menghabiskan semua sisa hidupku disitu. Lalu dikemudian hari datanglah api yang menghanguskan seluruh tempat ini. Aku dan teman-temanku berlari kesana-kemari menghindari amukan si jago merah. Akhirnya aku terpojok diantara geliat api, aku sempat berpikir bahwa mungkin hanya sampai disitulah takdirku. Lalu aku melihat setitik cahaya diantara api, karena terjepit aku tak punya pilihan selain mengikutinya. Ternyata cahaya itu tidak membohongiku, aku selamat hingga kini aku dapat bertemu dirimu. Kamulah yang mengingatkan aku tentang cita-citaku mencari surganya tikus. Mungkin cita-cita itulah yang membuatku masih bertahan hidup hingga sekarang, sementara teman-temanku semua binasa oleh api. Betapa beruntungnya aku”

Herman menggeleng-gelengkan kepala, mendengar cerita pengalaman hidup si tikus yang luar biasa itu, “Bagaimana aku bisa menikmati pilihanku tanpa harus mengeluh?”

“Setiap pilihan selalu ada resikonya, dibalik sebuah kenyamanan selalu tersembunyi ketidaknyamanan, demikian pula sebaliknya. Terimalah, tanggunglah, dengan begitu tanpa disadari kamu belajar bertanggung jawab atas semua pilihan hidupmu. Lalu tetapkan tujuanmu, setiap penderitaan yang kamu rasakan di setiap jalan yang kamu lalui akan terasa lebih ringan, dan lebih mudah menghilang jika kamu mengingat tujuan hidupmu. Anggap saja segala masalah itu sebagai harga yang harus kamu bayar demi tercapainya cita-citamu”

Herman mengangguk-angguk mendengar penjelasan si tikus, “Adakah surga bagi para kucing? Mampukah aku yang bodoh dan lemah ini mencapainya?”

“Ada atau tidak ada bukanlah yang utama, selama kamu meyakini bahwa tempat itu ada, semuanya akan menjadi terasa lebih mudah. Hidup adalah tentang penyikapan, bukan tentang seberapa hebat atau seberapa kuatnya dirimu. Kalau kamu tidak mampu menyikapinya, kekuatan macam apapun bisa berubah menjadi kelemahan yang akan mempersulit dirimu sendiri”

Herman tersenyum, “Betapa beruntungnya aku bisa bertemu dengan dirimu yang membukakan mata hatiku tentang makna hidup dan tujuannya”

Si tikus merendah, “Kita sama-sama beruntung karena dipertemukan, karena pertemuan dan perpisahan adalah bagian dari permainan takdir. Dibaliknya selalu tersaji rangkaian hikmah sebagai bekal perjalanan selanjutnya”

Si tikus menghela napas panjang, “Sepertinya aku sudah terlalu lama disini, kini saatnya tiba bagiku untuk melanjutkan perjalanan. Aku akan kembali mencari surganya tikus”

Si tikus pun segera berlalu sambil mengucapkan salam perpisahan. Herman berteriak mengucapkan kata terima kasih dari kejauhan. Sesudahnya herman melanjutkan langkahnya. Dimanakah surganya kucing ?

+ + + + +

Di suatu siang yang cukup terik, langkah herman terhenti di mulut sebuah gang buntu. Matanya tertuju pada sebuah tempat sampah yang berukuran besar, mungkin ini surganya kucing.

Herman segera berlari mendatanginya. Baru saja herman melompat ke bagian atas dinding pembatas, dari arah berlawanan dilihatnya sekumpulan kucing yang semuanya menggeram dan berlari menuju ke arahnya dengan wajah penuh amarah. Herman segara meloncat turun, setelah sempat terpeleset herman langsung mengambil langkah seribu. Ternyata surganya kucing dijaga oleh mafia kucing.

+ + + + +

Dicekam oleh rasa takut yang luar biasa herman berlari tanpa henti. Dari jalan ke jalan, dari tikungan ke tikungan, dari blok ke blok herman terus berlari tanpa menoleh kebelakang. Yang ada dalam benaknya, sekumpulan kucing itu masih dibelakangnya, mereka semua akan memangsa dirinya. Seiring habisnya tenaga, akhirnya herman berhenti di sebuah gedung tua, tak ada satu makhlukpun di dalamnya. Dengan napas tersengal herman menengok kebelakang, kawanan kucing itu telah menghilang. Herman tidak tahu seberapa jauh dia berlari, dia pun merebahkan diri. Karena tenaganya habis terkuras herman tertidur, dia lupa dengan rasa laparnya. Dalam tidurnya dia bermimpi tentang surganya kucing.

+ + + + +

Menjelang sore hari herman terbangun, dia mencari asal suara-suara yang membuatnya terjaga. Beberapa ekor anak kucing tampak sedang bermain-main tak jauh dari tempatnya. Salah satu dari mereka mendatanginya dan menyapa, “Hai, kamu pasti pendatang baru”

Herman memilih tak menjawab, pikirannya bekerja. Di tempat ini pasti ada banyak kucing, dan dia adalah kucing yang belum dikenal.

“Kamu sepertinya kelelahan dan belum makan, ayo ikut aku” ajak si anak kucing.

Herman berdiri, bangkit dari rebahnya mengikuti langkah si anak kucing, dia teringat dengan rasa laparnya. Teman-teman si anak kucing mengikuti dari belakang mengiringinya.

“Tapi sebelumnya kuperkenalkan dulu kamu dengan ayahku” kata si anak kucing.

Herman menghentikan langkahnya, pikirannya masih belum lepas dari kejaran sekelompok kucing yang akan memangsanya. Jangan-jangan dia akan dijadikan santapan ayah si anak kucing itu.

“Ayo jangan takut, ayahku adalah kucing yang bijaksana” bujuk si anak kucing.

Bujukan si anak kucing menggerakkan kakinya. Mereka tiba di sebuah tempat yang rimbun di samping gedung tua, herman terkejut melihat beberapa ekor kucing dengan wajah tersenyum menyambutnya, kesan bersahabat tampak di wajah mereka. Si anak kucing memperkenalkan herman pada ayahnya yang ternyata pemimpin kucing-kucing di tempat itu. Setelah saling memperkenalkan diri, ayah si anak kucing mempertanyakan asal-usul herman. Herman pun bercerita panjang lebar tentang perjalanan hidupnya. Berawal sebagai kucing peliharaan yang kemudian terbuang, lalu menelusuri jalan kehidupan dengan bertahan melalui tempat sampah satu ke tempat sampah yang lain, pertemuannya dengan tikus yang bijaksana, hingga dikejar-kejar sekelompok kucing yang ingin memangsanya, kemudian dia berlari sejauh mungkin tanpa henti hingga akhirnya dia sampai di tempat itu.

Semua kucing yang ada di tempat itu mendengar cerita herman dengan penuh seksama, mereka terpesona dengan perjalanan hidupnya yang penuh liku namun berujung pada kemampuan bertahan hidup.

Ayah si anak kucing berkata, “Sungguh luar biasa ceritamu, aku mohon kamu bersedia tinggal disini, anggaplah kami sebagai keluargamu. Aku berharap kamu berkenan membagikan cerita hidupmu pada semua anak keturunan kami, agar mereka mengenal makna kehidupan dan permainan takdirnya”

Kata-kata ayah si anak kucing sangat merasuk ke dalam relung hati herman, sudah lama dia tidak merasakan keperdulian hati yang terakhir dirasakannya dari majikannya. Herman terharu, air mata membasahi pipinya.

Sesudahnya herman diajak si anak kucing untuk membuang rasa lapar dan dahaganya. Ketika sampai di belakang gedung tua itu langkah herman terhenti, terkejut dan takjub, dihadapannya terbentang sampah yang begitu luas dan tak bertepi, pembatasnya hanyalah sungai yang mengalir. Herman tak pernah kelaparan lagi.

+ + + + +

Hingga akhir hayatnya herman tak pernah beranjak dari tempat itu, tak hanya karena persediaan makanan dan minuman yang tak pernah ada habisnya, namun juga karena di tempat itu dia menemukan persahabatan antar kucing yang penuh dengan kasih sayang, yang terwujud dalam sikap saling perduli dan saling menghormati. Menurut herman tempat itu adalah surganya kucing.

Sesuai dengan anjuran ayah si anak kucing, di sela waktu herman selalu berbagi pengalaman hidupnya yang panjang dan penuh liku pada semua anak kucing. Dalam setiap ceritanya, herman tak pernah lupa menceritakan pertemuannya dengan tikus yang bijaksana, yang membuka mata hatinya untuk melihat kehidupan dari sisi yang berbeda, bahwa kecewa dan sakit hati andai disikapi dengan cara yang bijak dapat menjadi jalan terbaik untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Tikus pula yang mengajarkan padanya tentang pentingnya sebuah tujuan, agar kehidupan dengan semua masalahnya dapat dilihat dari sisi yang lebih sederhana.

Setelah herman tiada, cerita tentang perjalanan hidupnya terus berlanjut turun temurun, lestari tiada henti, dari generasi ke generasi. Mereka menyebut cerita itu sebagai legenda mantan kucing peliharaan.




Ada arti dibalik arti

ada makna diatas makna

Ada hidup,

ada sejatinya hidup




*********************************


No comments: