Bedazzle adalah makhluk setengah malaikat dan setengah iblis, separuh laki-laki dan separuh perempuan. Setiap gerak lakunya mencerminkan harmoni kelembutan dan kekerasan, perpaduan kasih sayang dan kekejaman. Sorot matanya teduh sekaligus menakutkan, lidahnya tajam namun mampu meliuk erotis dan berbisa seperti ular. Memikat tapi mematikan.
Anatomi tubuhnya sangat proporsional, elok dan kuat. Cakar diujung jemarinya tak hanya berfungsi untuk melindungi diri, namun juga sebagai senjata yang mengerikan. Daya serangnya mampu mencabik-cabik semua lawan.
Diatas semua kelebihannya, kemampuan berpikir adalah yang utama. Perpaduan antara insting binatang dan kecerdasan manusia. Sempurna, tiada dua. Bedazzle adalah makhluk yang tak terkalahkan, tiada banding dan tiada saing. Mengagumkan sekaligus mengerikan.
+ + + + +
Bedazzle berdiri memandang hutan belantara di hadapannya. Dalam sekejap rengkuh langkahnya yang tegap dan perkasa mampu melampaui jarak sekian depa. Tak ada satupun taman kesenangan yang terlewati, semua persinggahannya berarti koloni. Semua berpulang pada apa maunya, tergantung pada panggilan hasratnya. Keinginan tak terbatas yang menjadi raja dalam dirinya. Segala yang ada dihisap sarinya tanpa tersisa, semula yang hijau membentang beralih kering kerontang. Pesona kehidupan sekejap sirna berganti wajah kematian. Bedazzle melakukannya sebagaimana biasa. Tak ada satupun yang mampu menghalanginya.
Namun itu semua belum cukup memuaskan bedazzle, karena kemilau puncak gunung masih menggodanya. Setia memanggilnya dari kejauhan, menjanjikan singgasana di atas sanjung puja. Menawarkan persekutuan dalam wujud ikatan, puncak kepuasan diatas segala pengakuan.
+ + + + +
Invasinya terus berlanjut tanpa henti, kian hari kian mendaki. Lereng terjal nan curam bukanlah penghalang, cakarnya yang kuat mampu mencengkeram kerasnya bebatuan hingga hancur berserakan. Demi satu lompatan panjang untuk menjejakkan kakinya di singgasana buana. Untuk menjemput kekuasaan sebagai lambang pencapaian.
Namun sesampai di puncak kepuasannya tak bertahan lama, segelas air yang habis diminumnya tak menjadi pertanda dia juara. Dahaganya berubah menjadi satu telaga, karena kecewa akan pemandangan yang dilihatnya. Jagad raya ternyata lebih luas dari isi pikirannya. Puncak-puncak yang bertebaran terlihat jauh lebih tinggi dibanding puncak yang dia pijaki.
Belum habis kecewa dan keterkejutannya, tiupan angin dewa yang maha dahsyat melemparkan tubuhnya kembali ke kaki gunung. Rasa sakit karena terhempas seperti terkalahkan oleh sekian pertanyaan yang belum terjawabkan. Hasrat kembali menggerakkan kaki dan cakar angkuhnya untuk mendaki gunung itu kembali. Namun ayunan langkah tegapnya menjadi sia-sia. Angin itu datang kembali mengalahkan segenap kekuatannya. Menghempaskan tubuhnya ke jurang yang lebih dalam dari sebelumnya. Jurang yang maha luas dan gelap gulita, dimana tak ada satupun titik cahaya.
+ + + + +
Tak jelas pandang, tak pasti arah dan tak tahu langkah. Semua terlihat sama, tiada beda. Satu-satunya yang hidup hanyalah suara nafasnya sendiri. Selebihnya adalah kematian di dalam hidupnya, atau mungkin sebaliknya. Semakin hari semakin dalam, hingga dasar kegelapan mampu disentuh oleh jari-jarinya yang lembut tapi perkasa. Kegelapan telah mencapai puncaknya.
Hasrat mulai memisahkan diri dengan tubuhnya. Menguasai aliran darah dan mengambil alih segala kekuatan yang ada dalam dirinya. Segenap bakat dan kekuatan yang tadinya adalah bagian dari tubuhnya hidup dan bergerak menjadikan dirinya sendiri sebagai mangsa.
Sang mata menatap dirinya tajam dan lekat. Memerah seperti nyala api menelanjangi semua kesalahannya. Lidahnya menjulur keluar, meliuk naik kemudian balik menghujam seraya menyebarkan bisanya. Meracuni lidahnya sendiri yang mahir berkata-kata. Cakarnya yang tajam bergerak tiada kendali, mencabik-cabik dan mengkoyak-koyak tubuhnya sendiri hingga terluka tiada tara. Yang terakhir kecerdasaannya terlepas bebas, lalu menari-nari dan tertawa. Menikmati kebodohan yang kini menjadi penguasa atas dirinya. Ketidakmampuan berselimut penderitaan menjadikan dirinya sebagai budaknya.
Tak ada lagi kekuatan, semuanya musnah ditelan perapian yang kini telah padam. Penderitaan yang maha hebat karena siksa kekuatannya sendiri menjadi alasan mengapa sakit hati terasa sedemikian dahsyatnya. Mengiris-iris dan menyayat-nyayat seluruh permukaan hingga relung hati yang paling dalam. Hingga air mata yang habis mengeringpun tak mampu menjadi penawarnya. Hatinya menjerit tiada terkira.
Kesalahan di masa lalu mulai hadir menghakimi, menggelar sekian pertanyaan yang lahir dari kedalaman hati. Dimana letak kesalahan ? Apa maksud dari semua ini ? Jika ini memang suratan takdir, mengapa Raja Langit tak segera saja mengambil nyawanya ? Andai memang bumi dan peradabannya akan menjadi lebih baik tanpa keberadaannya.
+ + + + +
Cahaya itu begitu halus, lembut menyapa hatinya dengan bahasa bunga. Melantunkan tembang rindu yang paling dinantikan, dan membasuh semua luka yang dideritanya. Semesta mendengar ratapannya.
Bedazzle kembali telanjang seperti awal mula, ketika dewi amor melahirkannya dengan tangisan cinta. Menghidupakan jiwanya yang telah lama terpenjara, namun tiada meninggalkan kemampuan berpikirnya. Melayang bersama angin melintasi langit tujuh warna, mengurai satu demi satu misteri kehidupan hingga semua pertanyaan telah usai terjawabkan. Air mata yang tersisa adalah lentera bagi jalan jiwa dan raganya, di sisa waktu kehidupannya.
+ + + + +
Ketika terjaga, sinar matahari yang bijaksana menghangatkan sosoknya yang kini telah berbeda. Tak ada lagi wajah, tak ada lagi tubuh dengan kedua sayapnya, dan tak ada lagi kaki yang mewujudkan hasratnya melanglang buana. Dia menjadi sebutir pasir diantara berjuta-juta pasir yang terhampar di tepi laut. Sesuatu yang sangat kecil diantara Yang Maha Besar.
Gulungan ombak tak segan-segan mempermainkannya. Menariknya ketengah lautan luas dan menenggelamkan dirinya ke dasar samudera hingga bertemu pijar mutiara. Kemilaunya bersama guncangan ombak secara perlahan mengembalikan tubuh dan kekuatannya. Hingga pada suatu ketika melemparkan dirinya kembali ke peradaban.
Bedazzle telah usai menjalani pembelajaran dibalik penderitaan. Semesta telah membekali diri untuk selalu memerangi kemiskinan hati. Kearifan adalah khasanah yang tak tertandingi, menafasi jiwanya untuk kembali hidup sesudah mati.
Demi sisa waktu, demi mencari sesuatu yang mencari dirinya. Karena hanya itulah misteri yang sesungguhnya.
Keilmuan adalah jalan menuju kearifan
dimana kebenaran tak lagi sembunyi
Perbedaan jelas terbentang lebar
mengikis keraguan berteman jawaban
Dimana kuasaNya
dan yang bukan
Dimana ke Esa an
dan yang persekutuan
Tipis tapi jelas,
samar tapi nyata
Seketika terbuka mata
yang ada kesejatian,
bukan kepalsuan
**********************************************************


1 comment:
we all have own bedazzle, but we must stand in grey area, cause God give us bad and good exactly have a purpose, we must gladfully to God cause He give us simple think which many time we forget it. it's call choose. and then we can be as human being.
I still search my true truth so sorry if I have wrong cause suzaku still learn how to moving the wing
two thumbs up for kriss gong
Post a Comment