
11/11/ 2008, pukul 00.15
Malam terasa gerah, nyaris tak ada hembusan angin. Seluruh penghuni kos jomblo united tidur bertelanjang dada. Kipas angin menyala, jendela dan pintu terbuka, tak mampu memupus ketidaknyamanan mereka dalam menjemput peraduan. Dokter bahlul bahkan memilih tidur di atas lantai, matanya terpejam namun sesekali terjaga, menggumam mengeluhkan panasnya cuaca. Baru saja, beberapa jam lalu dia berjuang melupakan kandasnya hubungan asmaranya dengan mahasiswi asal banyuwangi, sekarang dia harus berjuang melawan gerahnya udara malam.
12/11/ 2008, pukul 07.15
Dokter bahlul sedang memanaskan mesin motor maticnya, bersiap untuk berangkat kuliah. Wajahnya masih terlihat capek, mengingat tidurnya yang tidak nyaman karena terganggu cuaca panas di malam hari. Sebagai mahasiswa kedokteran, dokter bahlul membutuhkan istirahat yang cukup, karena masa perkuliahannya lebih banyak dihabiskan dengan praktikum-praktikum yang cukup menguras tenaga dan pikiran.
Sebenarnya dia belum resmi menyandang gelar dokter, namun teman-temannya lebih suka memanggilnya dengan panggilan dok di depan namanya karena menurut mereka penampilannya sudah seperti dokter sungguhan. Dokter bahlul pun tidak keberatan, baginya gaya boleh duluan, skill bisa nyusul belakangan, dia menganggapnya sebagai motivasi untuk mengejar gelar dan profesi yang sesungguhnya.
Langit terlihat sedikit mendung, alam pikiran dokter bahlul berkata, kemarau tahun ini sudah berlangsung cukup lama, mungkin ini pertanda hujan akan datang, mungkin itulah sebabnya tadi malam terasa lebih panas dari biasanya.
Selang beberapa menit, dokter bahlul memacu motornya menuju kampus.
12/11/ 2008, pukul 07.25
Rencana dokter bahlul untuk mampir sarapan di kantin kampus sepertinya gagal total, karena ban sepeda motornya bocor. Dia terpaksa mampir di tukang tambal ban pinggir jalan, sebelah jembatan. Dia bahkan belum ada satu kilo dari tempat kosnya.
Bau tajam menyegat tercium dari tempat tambal ban itu, dokter bahlul melihat saluran got yang airnya tidak bergerak dan bercampur sampah. Dokter bahlul menggeleng-gelengkan kepalanya, menurutnya dia sedang akrab dengan ketidakberuntungan.
12/11/2008, pukul 13.15
Seusai kuliah, dokter bahlul memutuskan untuk pulang ke kos dengan menu makan siang nasi bungkus. Ketika sedang asyik menyantap makan siang diatas meja belajarnya, matanya tergerak melihat barisan semut di dinding yang bergerak dari bawah menuju ke atas. Mereka seperti koloni yang akan berpindah tempat. Mata dokter bahlul lalu bergerak melihat sekeliling kamar, berantakan dan berserakkan. Wah, bisa jadi sarang semut nih, pikirnya. Dia buru-buru menghabiskan makanannya, lalu segera membersihkan dan merapikan kamarnya. Sekejap, semua yang berserakkan telah tersusun rapi di atas meja belajarnya.
12/11/2008, pukul 17.20
Dokter bahlul pulang dari berolah raga, bermain basket di kampusnya . Baginya olah raga basket adalah kegiatan yang menyehatkan sekaligus menyenangkan, apalagi jika ketika dia sedang bermain ditonton oleh mahasiswi-mahasismi adik kelasnya. Badannya berpeluh keringat, namun wajahnya sumringah, capek tapi asyik, katanya.
Dia melihat langit begitu gelap, awan terlihat sangat pekat dan begitu rendah. Angin seperti menggerakkan awan dengan arah yang berbeda-beda. Bagaimana jika awan-awan itu saling berbenturan dan tak ada yang mau mengalah, tanyanya, mungkin saat itulah hujan turun, dia mencoba menjawab sendiri pertanyaannya.
Dari arah selatan dilihatnya sekawanan burung sedang terbang bersamaan dan beriringan, dari mana mereka ? Dan kemana mereka menuju ?
12/11/2008, pukul 18.35
Perut dokter bahlul keroncongan, melantunkan orkestrasi tembang kelaparan. Di hari-hari biasanya dokter bahlul makan malam pada pukul delapan atau lebih, ini di luar kebiasaanya. Mungkin karena kurang istirahat, mungkin kecapekan karena habis bermain basket, atau entahlah, yang pasti konsentrasinya untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya menjadi terganggu. Dia memilih menuruti kemauan perutnya. Sebelum berangkat, dia melihat sekumpulan laron mengelilingi lampu teras tempat kosnya, sejak kapan laron itu ada ?
12/11/2008, pukul 19.05
Hujan turun dengan derasnya, namun tak cukup mengganggu dokter bahlul yang sedang berkonsentrasi menikmati soto marengan masakan favoritnya. Meskipun tempatnya terbilang cukup jauh dari tempat kosnya, dokter bahlul tak pernah berpaling pada yang lain. Menurutnya, rasanya tiada saing dan tiada banding, yang pasti terjangkau isi dompetnya.
12/11/2008, pukul 19.55
Hujan masih deras, tak kunjung reda, dokter bahlul yang sejak tadi sudah menyelesaikan makan malamnya memilih menunggu hujan berhenti sambil menghisap rokoknya.
12/11/2008, pulul 20.10
Hujan reda, dokter bahlul memacu motornya pulang ke tempat kos, tugas-tugas kuliah telah menantinya. Dia memacu motornya lebih cepat, mengingat waktu yang telah terbuang karena menunggu hujan berhenti.
Mendekati tempat kos, jalanan tampak macet. Mobil-mobil sama sekali tak bisa bergerak, hanya motor yang masih bisa melaju dengan sangat lambat memanfaatkan celah-celah di antara mobil maupun sisa ruas jalan. Pertanyaan dokter bahlul tentang penyebab kemacetan terjawab ketika mendekati jembatan, air meninggi setinggi lutut sehingga tak mungkin bisa dilalui sepeda motornya.
Jalan sesudah jembatan menuju tempat kos dokter bahlul memang terbilang lebih rendah dibanding jalan sebelumnya, kepanikan dan kekhawatiran pun mulai membayangi alam pikirannya, pertanyaan demi pertanyaan silih berganti menguasai benaknya, bagaimana dengan tempat kosnya, buku-bukunya, baju-bajunya, semua barangnya ?
Setelah menitipkan motornya pada pemilik bengkel langganannya, dokter bahlul memutuskan berjalan kaki, menerobos ketinggian air demi menyelamatkan yang mungkin masih bisa diselamatkan di tempat kosnya.
12/11/2008, pukul 20.40
Dokter bahlul tiba di tempat kos, air menggenangi setiap kamar setinggi paha orang dewasa. Teman-temannya tampak duduk dengan ekspresi berbeda-beda, sebagian duduk di atas meja, sebagian duduk di atas sandaran kursi.
Demi menjawab kekhawatirannya dokter bahlul langsung menuju kamarnya. Dia sedikit lega, yang terendam air hanya kasur dan baju bagian bawah lemarinya, selebihnya aman di atas meja. Jika besok terang, bisa dijemur untuk mengeringkannya, pikirnya. Satu-satunya yang gagal terselamatkan hanya komik silat, bacaan alternatif kesukaannya yang dia sewa di sebuah rental, yang sebelumnya dia letakkan di sebelah kasur tidurnya.
12/11/2008, pukul 21.15
Air tak kunjung surut, seandainya ada selisihnya sangat sedikit sekali. Mengingat tugas-tugas kuliahnya belum dikerjakan, dan situasi serta kondisi tidak mendukung, dokter bahlul memutuskan untuk mengungsi ke rumah saudaranya.
13/11/2009, pukul 00.30
Tugas-tugas telah selesai dikerjakan, namun mata dokter bahlul masih enggan terpejam. Duduk di teras rumah saudaranya, menghirup udara malam yang dingin sambil menghisap sebatang rokok mild menjadi pilihan relaksasi terbaik bagi dokter bahlul setelah melalui hari yang padat dan melelahkan. Satu hari yang sarat dengan hal-hal diluar rencana yang memberinya banyak kejutan.
Memorinya bergerak mundur, menelaah secara urut kejadian yang dia alami selama dua hari terakhir. Keheningan malam seperti membuka pikirannya, kejernihan seperti menuntun hatinya untuk memaknai semua yang terjadi.
Menurutnya, betapa kehidupan menunjukkan dua sisi yang berbeda secara bersamaan bagi dirinya, ketidakberuntungan dan keberuntungan. Singkatnya masa pacarannya, sehingga dia harus menjomblo lagi untuk kesekian kali, tidurnya yang terganggu karena gerahnya malam, ban bocor sampai banjir yang menggenangi tempat kosnya adalah seperti gambaran serentetan ketidakberuntungan.
Namun adalah gerahnya malam juga, saluran got yang tersumbat yang mengganggu hidungnya, mendung tebal yang digerakkan oleh angin, iring-iringan semut, arak-arakan burung hingga kehadiran laron-laron, semua adalah informasi aktual bagi dirinya tentang akan datangnya hujan dan banjir. Bagaimana mata dan pikirannya tergerak untuk melihat semua itu, bagaimana dia tergerak untuk merapikan kamarnya, dan meninggalkan kosnya untuk makan malam lebih cepat dari biasanya yang membuatnya terhindar dari banjir, adalah sederet keberuntungan yang luar biasa baginya. Betapa dia mampu terhindar dari kemungkinan yang lebih buruk yang bisa menimpanya.
Dalam kesendirian dokter bahlul menggeleng-gelengkan kepalanya, takjub akan bahasa semesta kepada dirinya. Dibalik segala kejadian yang dialaminya, yang dianggapnya sebagai ketidakberuntungan, tersembunyi sebuah keberuntungan yang luar biasa. Semua berpulang pada kejelian hati dalam melihatnya, perbedaannya sungguh amat tipis, sedikit saja sudut pandang itu bergeser, maka ketidakberuntunganlah yang akan menguasainya. Bagaimana dia dapat melihat semua kejadian itu secara utuh dan dapat memaknainya, bagi dokter bahlul itu adalah keberuntungan yang sesungguhnya.
13/11/2008, pukul 01.15
Dokter bahlul berusaha memejamkan matanya, bibirnya tersenyum, alam pikirannya berkata bahwa dia adalah seorang yang sangat beruntung. Mengenai masa pacarannya yang tidak pernah berlangsung lama, dia yakin, itu semua adalah pertanda keberuntungan yang tertunda.
**********************************************************


1 comment:
waduh mas...kok malah jadi DR. goblik, artinya goblik kan bahlul...embuh menni lek gak ngerti lek artine yo iku...
Post a Comment