Tuesday, December 15, 2009

PENJARA JIWA


Bunga melati bertanya pada tanah tempatnya berpijak,

kamukah yang membuatku berdiri, tumbuh dan mewangi ?

Aku hanyalah bejana bagimu,

akarlah yang menopangmu,

akarlah yang setia berburu sari untuk menghidupimu

Betapa beruntungnya dirimu,

betapa malangnya mereka yang terkulai,

layu dan mati

Karena sang akar sibuk sendiri

merusak setiap sudut ruangku


Dede lahir pada tanggal tujuh Juli sembilan belas tahun yang lalu, tepatnya pada hari kamis sore. Sebagian berpendapat, menurut penanggalan jawa hari lahir dede sudah termasuk hari jumat legi. Kata mereka yang berstatus sebagai saksi kelahirannya, tangisan dede memekakkan telinga seluruh penghuni rumah sakit bersalin tempatnya dilahirkan, tak ada satupun yang tak mendengarnya. Tangisan itulah yang menjadi senjata andalan dede di masa kecilnya. Dalam situasi apapun kedua orang tuanya pasti akan berpaling kepadanya, dan menuruti apapun kemauannya. Meskipun terkadang yang mereka berikan lebih bersifat spekulasi atau berdasarkan tebakan saja, tapi dede tidak perduli akan wujudnya. Baginya perhatian penuh kasih sayang dari ayah dan ibunya adalah yang utama. Masa-masa itu adalah masa terindah bagi jiwanya, meskipun seiring waktu daya ingat pikirannya tak mampu menjangkaunya.

Semua mulai berubah ketika dede menginjak bangku sekolah dasar. Tangisannya tak sakti lagi, bahkan tidak jarang menjadi senjata makan tuan. Bukan perhatian yang dia terima, melainkan amarah dan omelan yang dia dapatkan. Bahasa tegangan tinggi yang sering digunakan ayah ibunya sehari-hari perlahan-lahan mulai menjadi bahasa mereka kepadanya. Tak jarang dede melihat seisi rumah berterbangan ketika kedua orang tuanya beradu kesaktian. Biasanya dede langsung lari ke kamar dan menangis, namun dia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Karena jika tangisannya terdengar, seisi kamarnya akan ikut berterbangan juga. Dia tak ingin semuanya ikut hancur seperti yang pernah terjadi pada digimon, robot kesukaannya. Seiring waktu dede tak pernah lagi menangis. Karena tangisan bukan lagi senjata, melainkan berarti datangnya bencana.

Segala yang disukai dede pun mulai menjadi masalah, kegemarannya menggambar lebih sering mendatangkan amarah. Ayah ibunya lebih sering memaksa dede untuk terus menerus mempelajari hal-hal yang tidak disukai. Bagi dede berhitung atau menghapal adalah sesuatu yang sangat sulit dipelajari. Itulah sebabnya nilai rapor dede hanya sebatas rata-rata, bahkan tak jarang dibawah teman-temannya. Suatu hari ayahnya pulang kerja dan mendapati dede sedang menggambar, akibatnya buku gambar dan semua perlengkapannya dibuang ke tempat sampah. Kata-kata yang diucapkan ayahnya waktu itu tidak mungkin dilupakannya, katanya itu semua tidak akan bisa mendatangkan uang. Sejak itu dede tak lagi menggambar.

Setiap ayah ibunya bertengkar hebat sepulang kerja, selalu mengimbas pada kesukaannya. Dede tak lagi menonton film kartun, dede tak lagi bernyanyi menirukan penyanyi favoritnya, dede tak lagi meniru gerakkan tari michael Jackson, dede tak lagi menyukai apa-apa. Apapun yang dilakukannya hanya sebatas keinginan ayah ibunya. Dede tak lagi memiliki keberanian untuk mengutarakan kenginannya. Tempat teraman bagi dede, hanyalah ketika dia berada di depan buku-buku pelajarannya.

Waktu bersosialisasi bagi dede pun sangat terbatas. Masa istirahat sekolah terlalu singkat baginya untuk menjalin pertemanan dengan teman-temannya. Sepulang sekolah berarti kembali ke dalam penjara, tak ada ijin bagi dede untuk bermain bersama teman-teman tetangganya. Dede hanya bisa melihat mereka bermain melalui kaca jendela. Satu-satunya teman bagi dede hanyalah pembantu rumah tangga, namun dede tak berminat untuk menjalin persahabatan dengan mereka. Karena mereka silih berganti datang dan pergi, tak ada yang pernah bertahan lama.

+ + + + +

Ada dua kejadian penting yang menemani dede ketika dia menginjak bangku smp. Yang pertama ayahnya mendapat pemutusan hubungan kerja. Alhasil ayahnya jadi lebih sering menghabiskan waktu di rumah bersamanya. Rumah yang menurut dede tadinya adalah penjara, seketika beralih menjadi neraka.

Karena ayahnya tak kunjung mendapat pekerjaan, akhirnya rumah tinggal mereka terpaksa dijual, mereka pun pindah ke rumah kontrakan. Pertengkaran antara ayah dan ibunya kian sering dan bertambah hebat. Namun pertikaian itu tak bertahan lama, ayah dan ibunya memutuskan untuk bercerai, dan dede tak punya pilihan lain selain mengikuti ibunya. Keadaan tidak berarti lebih baik bagi dede, malah semakin memburuk. Karena ibunya sekarang seorang diri menghidupinya, dede harus ikut menanggung semua tekanan yang dipikul ibunya. Karena bagi ibunya dede adalah beban. Beban berarti masalah.

Yang kedua adalah peristiwa yang terjadi diantara teman-teman sekolahnya. Dede seringkali mendengar kata-kata jadian. Si yanti jadian sama si raul, atau si rafi jadian sama si yuni. Seiring waktu dede semakin sering mendengarnya, namun sampai lulus smp dede tidak pernah mengerti arti sebenarnya kata jadian.

+ + + + +

Menjelang lulus smp, ibu dede menikah lagi dengan seorang tuan tanah yang kaya raya. Pesta perkawinannya berlangsung mewah dan meriah, sangat jauh dari kesan sederhana. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama dede melihat ibunya bisa tersenyum, mungkin karena penderitaan ekonominya sudah berakhir. Dede dan ibunya meninggalkan rumah kontrakan sederhana menuju rumah besar yang megah dan mewah. Uang dan segala kebutuhannya sudah tidak lagi menjadi masalah bagi ibunya. Namun bagi dede pernikahan itu justru menjadi awal mimpi buruknya.

Ayah tiri dede adalah seorang yang sangat keras, segala sesuatunya selalu diukur dengan uang. Yang menyesakkan dede, dalam segala hal ibunya tidak pernah berada dipihaknya. Ayah tiri dede memaksa untuk mendaftarkannya ke sebuah sma favorit, meskipun nilai kelulusan smp dede terbilang pas-pasan. Namun uang ayah tirinya mampu menjadikan semua persyaratan yang ada menjadi tiada. Dihari-hari berikutnya ayah tirinya sering mengucapkan berulang-ulang besarnya uang yang telah dikeluarkannya untuk pendaftaran di sma favorit tersebut. Yang lebih menyedihkan ibunya mengucapkan kata-kata yang sama.

Di sma favorit itu proses belajar mengajarnya berlangsung sangat serius dan cepat, materi yang diajarkan juga terbilang cukup berat. Dede merasa heran, teman-temannya begitu mudah mengikuti semua pelajaran, sementara dirinya kian hari kian tertinggal. Seperti sudah diduga akhirnya dede tidak naik kelas. Amarah kedua orang tuanya berlangsung berjam-jam. Semua kesalahan yang ditimpakan kepadanya ibarat palu godam yang dijatuhkan. Besarnya uang pendaftaran terlontar lagi dari mulut ayah tirinya. Sementara diantara amarahnya ibunya berpesan agar dede tidak sebodoh ayah kandungnya. Dede ingin menyampaikan penjelasannya, ingin mengungkapkan yang dirasakannya. Namun diurungkannya, karena suaranya terlalu pelan untuk bisa mereka dengarkan.

Hasilnya, di tahun berikutnya terulang peristiwa yang sama. Dede tidak naik kelas lagi. Artinya sesuai kebijakan sekolah dede harus keluar dan mencari sekolah lain. Dede tahu, kali ini kedua orang tuanya tidak akan sekedar marah melainkan mengamuk sejadi-jadinya. Keduanya seperti membentuk harmoni paduan suara, yang satu suara iblis jantan yang satunya suara iblis betina.

Setelah paduan suara yang berlangsung berhari-hari dede didaftarkan ke sma lain yang sudah pasti tidak berstatus unggulan. Sumbangan besar yang diberikan ayahnya pada sekolah itu membuat dede tidak hanya diterima dengan baik tapi juga tetap naik kelas. Seperti sudah diduga dede, di hari-hari berikutnya ayah tirinya mengucapkan berulang-ulang jumlah uang yang telah dikeluarkannya, pun demikian dengan ibunya. Yang membedakan dengan sebelumnya, kali ini disertai ancaman. Jika tidak naik kelas lagi dede tidak akan disekolahkan selamanya. Sebenarnya dede tidak mengerti, karena baginya itu tidak ada bedanya.

Di sekolah yang baru suasana belajarnya jauh lebih mudah dan santai, dede merasa jauh lebih mudah mengikutinya. Sepertinya ancaman kedua orang tuanya tidak akan menjadi masalah baginya, toh sebenarnya dede tidak pernah memikirkannya. Bahkan setelah sekian lama tenggelam dalam belenggu keinginan orang tuanya, dede akhirnya menemukan kesenangan baru, olah raga basket. Baginya basket berarti kesenangan, semua beban berat yang dirasakannya seperti terlupakan begitu saja. Pun demikian dengan teman-teman basketnya, perlahan-lahan mereka menjadi komunitas baru baginya. Penjara atau neraka di rumah, menjadi seimbang dengan bermain basket dengan teman-temannya. Untuk pertama kalinya dede merasa bahagia.

Kebahagiaan yang dirasakan dede tidak berhenti sampai disitu saja. Setiap bermain basket ada seseorang yang selalu memperhatikannya. Ketika akhirnya mereka bertatap mata, senyum ramah tergambar dari orang itu, mereka pun berkenalan sesudahnya. Seiring waktu mereka kian akrab dan semakin sering menghabiskan waktu bersama-sama. Untuk pertama kali dalam hidupnya dede bertemu dengan seorang yang bisa mengerti dan bisa menerima dirinya apa adanya. Sebenarnya dede tidak pernah mengerti dari mana datangnya perasaan itu, semuanya mengalir begitu saja ke suatu titik dimana dede tak mampu menolaknya. Akhirnya dede bisa mengerti arti kata jadian.

Semula mereka bermaksud merahasiakan hubungan mereka demi kebaikan bersama. Namun seiring waktu mereka tidak mampu menahan dan menutupi kemesraan yang terjadi. Sehingga semua teman-teman bahkan guru-guru di sekolahnya menjadi tahu hubungan khusus diantara mereka berdua. Kedua orang tua dede pun awalnya tidak curiga, namun pada akhirnya mereka mengetahui juga. Tidak cukup sebatas amarah yang diterima dede, melainkan juga caci maki dan sumpah serapah. Semenjak itu semuanya berubah menjadi serba sulit dan sangat menyakitkan bagi dede. Tidak hanya orang tuanya, teman-temannya pun mulai menjauhinya. Guru-guru juga melarang hubungan mereka. Semuanya menentang dede, karena hubungannya dengan yudi adalah hubungan sesama jenis.

+ + + + +

Yudi tumbuh di lingkungan yang tak jauh berbeda dengan dede. Pertengkaran antara kedua orang tuanya menjadi pemandangan sehari-hari sejak masa kecilnya. Yang membedakan, ayah yudi lebih sering mengambil sikap mengalah demi menghindari perseteruan. Ayah yudi juga sering membela kepentingannya jika ibunya tidak berkenan dengan sesuatu yang sedang disukainya. Tapi justru berawal dari pembelaan ayahnya itulah pertengkaran hebat sering terjadi.

Dimata yudi ibunya jauh lebih beruntung dibanding ayahnya. Ayahnya hanya seorang pekerja bergaji rendah, sementara ibunya memiliki pekerjaan, karir dan sudah pasti finansial yang jauh lebih baik. Semakin hari sikap ibunya semakin tidak menghargai ayahnya, pun demikian dengan segala hal yang disukai yudi. Akhirnya mereka bercerai, ayahnya memilih untuk pulang ke kota asalnya, dan yudi memilih untuk menumpang di rumah saudara ayahnya untuk menyelesaikan sekolahnya. Bagi yudi, memilih mengikuti ibunya sama dengan neraka.

Sebelum kedua orang tuanya bercerai, tidak sekali dua kali ibunya membawa teman selingkuhannya kerumah ketika ayahnya sedang bekerja di luar kota. Semua itu dilakukan ibunya di depan mata yudi. Wanita pertama yang dikenal yudi dalam hidupnya adalah ibunya. Ketika masih smp yudi sempat dua kali mengenal teman wanita, namun keduanya hanya membuat yudi kecewa. Dimata yudi semua wanita adalah sama, sebenarnya mereka juga merasakan kesepian seperti yang dirasakannya. Namun mereka lebih suka bersikap mencari perhatian untuk menutupinya. Yudi tak bisa menerimanya, karena dia juga membutuhkan seseorang yang perduli pada kekosongan hatinya.

Ketika pertama kali melihat dede, yudi seperti merasakan adanya kesamaan rasa diantara mereka. Yang membuatnya tertarik, dede tidak mencari perhatian orang lain untuk menutupinya. Dede menjiwai rasa kesepian dalam sikap yang sangat sederhana, apa adanya. Awalnya yudi hanya tergerak untuk mencoba mengenal dede lebih dekat dan menjalin pertemanan biasa. Seiring sejalan perkembangan yang terjadi sangat diluar dugaan yudi sendiri. Lewat berbagi cerita, berbagi beban hingga berbagi rasa, getaran-getaran yang tak terduga yang muncul menuntun mereka berdua untuk menciptakan dunia bagi mereka sendiri. Dunia terpisah yang tak bisa dipahami semua orang yang mereka kenal. Ketika akhirnya semua orang termasuk orang tua dede menentang hubungan mereka, dan dede berkeras hati mengambil sikap untuk membelanya, yudi sudah merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

+ + + + +

Hari sudah larut malam, yudi masih terpaku di depan pagar rumah dede. Sudah tiga hari dede tidak menampakkan batang hidungnya di sekolah. Kesedihan yudi pun bertambah setelah kedua orang tua dede menolak keras kehadirannya, bahkan disertai dengan pengusiran dan ancaman. Namun pengusiran itu sudah bisa dia duga sebelumnya. Sebenarnya yudi hanya berharap dapat melihat dan bertemu dede untuk terakhir kalinya. Dia ingin mengucapkan terima kasih atas semua kebersamaan yang indah bersama dede sekaligus berpamitan. Dia akan pulang ke kampung halaman ayahnya.

Sejak lama yudi merindukan pertemuan dengan seseorang yang bisa mengerti isi hatinya. Kebenciannya pada ibunya, kegagalannya menjalin pertemanan dengan makhluk bernama wanita sepertinya impas terbayar dengan pertemuannya dengan dede. Dede lah yang mengenalkan padanya arti kata bahagia. Meskipun yudi sendiri tidak pernah mengerti dari mana datangnya perasaan itu. Semua berjalan begitu saja, alami dan mengalir apa adanya. Ketika situasi berubah menjadi sulit, perasaan itu pula yang berkata pada yudi untuk mengakhirinya. Yudi tak ingin dede menderita, perpisahan adalah jalan terbaik bagi mereka berdua.

Dengan langkah gontai yudi meninggalkan rumah dede. Terpikir olehnya untuk membuat surat perpisahan, karena pertemuan dengan dede sepertinya sudah tidak mungkin lagi terjadi. Ketika langkah kaki yudi memasuki jalan yang sepi, tiba-tiba sebuah mobil van berhenti disampingnya. Bersamaan dengan pintu samping yang terbuka seseorang berbadan tegap keluar dari mobil itu dan langsung mencengkeram leher yudi, lalu menarik dan melempar tubuhnya ke dalam mobil. Belum habis keterkejutan yudi, pukulan bertubi-tubi mendarat di wajah serta seluruh tubuhnya. Yudi tidak menghitung berapa orang yang berada di dalam mobil, dan dia sama sekali tidak mengenal mereka. Yang pasti mereka semua memperlakukan yudi dengan cara yang sama. Rasa sakit mendera sekujur tubuhnya, hingga tubuhnya seperti sulit untuk digerakkan. Ketika rasa pusing mulai hinggap di kepala, sekonyong-konyong siraman air menerpa wajahnya. Dalam kondisi setengah sadar dia mendengar kata-kata kasar berbau ancaman dari salah satu dari mereka. Ancaman itu bebarengan dengan segepok uang dalam amplop yang dimasukkan kedalam bajunya yang berlumuran darah. Katanya uang itu lebih dari cukup untuk mengobati luka dan pengganti biaya transport kepergiannya. Sesudahnya mereka melempar tubuh yudi ke jalan, dan meninggalkannya begitu saja.

+ + + + +

Dengan sisa-sisa tenaga yudi berhasil mencapai rumah saudaranya. Dia sengaja langsung masuk ke kamarnya lewat jendela, agar tidak menimbulkan permasalahan baru. Setelah membersihkan luka-lukanya, dan usai menulis sepucuk surat perpisahan buat dede, yudi segera mengemas barangnya dan beranjak pergi ke rumah dimas temannya. Yudi tahu bahwa dimas tidak pernah menyetujui perbuatannya, namun paling tidak yudi percaya bahwa dimas masih mau membela perasaannya untuk menyampaikan surat perpisahannya.

+ + + + +

Yudi sudah duduk di bus malam menuju kota ayahnya. Semuanya berlangsung begitu cepat, lebih dari yang diduga yudi sendiri. Salah satu bagian dalam hidupnya telah usai. Cerita bahagia yang hanya sementara telah berakhir sangat menyakitkan. Yudi pun menghela napas panjang.

Ketika teringat dan membayangkan bahwa luka hati yang dirasakan dede bakal terasa jauh lebih berat dibanding dirinya, rasa sakit sekujur tubuhnya seperti menghilang. Air mata mengalir membasahi pipinya. Untuk pertama kali setelah sejak sekian lama yudi menangis.

+ + + + +

Dede merasa sudah sekian lama hidupnya terpenjara, yudi lah yang membebaskannya. Yudi telah memperkenalkannya pada dunia penuh kesenangan yang tak pernah dia kenal sebelumnya. Yudi adalah orang yang telah membasahi kekeringan yang dirasakan jiwanya. Yudi telah menjadi bagian hidupnya. Oleh sebab itulah kali ini dede berusaha melawan dengan sekuat tenaga pada kedua orang tuanya yang berusaha merengut sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya. Dede tak mau lagi terpenjara.

Namun perlawanan dede sia-sia, karena ibu dan ayah tirinya menggunakan segala cara untuk membatasi ruang geraknya. Cara-cara paling keras dan sangat menyakitkan hati lebih dari yang pernah diterima dede sebelumnya. Sejak isolasi total di dalam rumahnya, tak ada satupun celah bagi dede untuk bertemu yudi. Situasi ini bagi dede adalah penjara yang sesungguhnya, tak ada lagi kehidupan dalam dirinya. Ketika sepucuk surat dari yudi sampai ke tangannya, dunia pun runtuh seketika. Tangisan menjadi-jadi menggema di setiap sudut kamarnya. Relung hatinya bak hancur porak poranda menjelma puing-puing yang berserakan.

Sejak itu, pintu rumah dede kembali terbuka. Kedua orang tuanya mengingatkan sekaligus mengancam akan mengusir dede jika mengulangi lagi perbuatannya. Dede berlalu begitu saja, dia sudah kehilangan pendengaran atas semua kata-kata orang tuanya.

+ + + + +

Dede menjejakkan kakinya dari satu tempat ke tempat yang lain. Satu ketika dia mengunjungi rental komik tempat yudi meminjam bacaan kesukaannya. Sepulangnya dede meneteskan air mata. Dilain waktu dede berada di multiplayer online, tempatnya bermain game untuk menghabiskan waktu sepulang sekolah bersama yudi. Sepulangnya dede menangis. Karena teringat masa-masa penuh tawa yang mampu meluruhkan semua beban yang dipikulnya. Kini dede merasakan kesendirian, jauh lebih dalam dibanding sebelumnya.

Terakhir dede tampak duduk sendiri di pujasera sebuah plasa. Kenangan masa lalunya bersama yudi melintas dekat alam pikirannya. Sepertinya itu semua baru saja terjadi dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Namun kali ini dede tidak lagi menangis. Air matanya sudah mengering. Perasaan sedih, sakit hati bercampur amarah telah terbungkus rapi dalam satu jeritan yang tersimpan dalam hatinya. Pikirannya telah berhenti bekerja, jiwanya meronta-ronta.

Tiba-tiba dede merasa terjadi perubahan disekitarnya. Semua lalu lalang orang terlihat dalam gerakan lambat. Hiruk pikuk di sekitarnya berubah menjadi sayup-sayup kedap suara. Ada yang halus lembut memanggil namanya, dede pun beranjak dari kursinya. Ayunan kakinya terasa ringan seperti tak ada satupun yang membebani tubuhnya. Langkahnya terhenti di depan pagar pembatas lantai tujuh. Samar-samar didengarnya suara yang menawarkan pembebasan atas semua penderitaannya. Dede melangkahkan kakinya melewati pagar pembatas yang tingginya hanya sebatas pinggang orang dewasa. Sepertinya suara itu berasal dari lantai dasar, dede pun meloncat untuk menemuinya. Tubuhnya terasa ringan dan hampa. Dia merasa seperti terbang melayang. Dede tersenyum, dia belum pernah merasa seringan itu. Jeritan orang-orang disekitarnya tak mampu lagi didengarnya. Semua kenangan semasa hidup melintas cepat dalam benaknya, salah satunya adalah kenangan masa kecilnya yang indah. Saat kedua orang tuanya senantiasa perduli padanya dengan penuh kasih sayang. Saat mereka perduli pada semua jeritan hatinya.

Tiba-tiba semua menjadi gelap gulita, tak ada satupun titik cahaya. Suara-suara itu telah menghilang, beralih menjadi kesunyian yang mencekam. Baru saja dede merasa terbebas dari sebuah penjara, kini dia seperti terperangkap dalam penjara yang lain. Dede berusaha berteriak, memanggil-manggil siapa saja agar mau menolongnya untuk mengembalikannya ke masa kecil saat dia merasa bahagia dalam hidupnya. Namun tak ada satupun yang mendengarnya. Dia kini sendiri lagi tanpa siapa-siapa. Hanya kegelapan yang menemaninya, selamanya.




Mungkin kita tidak perlu membenarkan perbuatannya

dan mungkin juga tidak perlu menghakiminya

namun paling tidak untuk membela perasaannya

Demi penulusuran jejak sebab akibat

karena tak ada satupun kejadian yang berdiri sendiri

Sebagai bekal intropeksi diri

untuk semua pewaris bangsa di esok hari



In memoriam AD 02




**********************************************************

No comments: