Friday, December 11, 2009

TALE OF THE EAGLE


Mentari berkilau memancarkan cahaya disuatu pagi, pertanda buana telah bersiap membuka hari. Laju kereta kencana berwarna kuning keemasan terhenti di tepi hutan liar, bersama terbukanya pintu, delapan anjing dengan warna yang berbeda berhamburan keluar. Mereka adalah maya, old jack, shorty, max, truman, dewey, shadow dan buck. Semua berlari menuju kegelapan hutan, meninggalkan kereta yang berhenti di jalan yang datar dan lebar. Si pengendali kereta berteriak mengingatkan, “Bersenang-senanglah, namun jangan sampai tersesat. Jangan lupa, saat senja aku akan menunggu kalian semua di jalan yang sama”

Ketujuh anjing yang berlari mendengarnya samar-samar, maya yang tertinggal di belakang sempat menoleh, menyimak pesan si pengendali kereta. Bagi maya pesan itu seperti energi yang membuat kakinya terasa berat sekaligus ringan, ia seperti tidak punya pilihan selain mengikuti kemana arah yang dipilih ketujuh temannya. Dia adalah pembawa pesan, dan sadar bahwa takdir telah ditentukan.

+ + + + +

Sekilas hutan itu menampakkan lukisan satu warna, namun lelikuan selanjutnya terhampar aneka ragam lewat pandangan mata, memantik hasrat mereka untuk menenggelamkan diri dalam suka cita. Mereka berlari kesana kemari, bernyanyi-nyanyi menikmati semua yang ada. Semua yang tersaji terlihat nyata, sedangkan hikayat asal usul yang diceritakan para pendahulu hanyalah dongeng dan mitos belaka. Dalam alam kesenangan mereka, untuk merekalah semua ini diciptakan, hanya merekalah penghuni satu-satunya, tiada yang lain. Mereka larut dan lupa akan batas waktu. Tak ingat lagi dengan pesan pengendali kereta, tidak terkecuali maya. Hari seperti masih panjang, dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.

+ + + + +

Namun semuanya berubah ketika terdengar sebuah teriakan panjang, aum menggelegar yang menyuarakan kemarahan, menyampaikan pesan tentang kekuasaan dan kelaparan akan kematian. Nyanyian terhenti, canda tawa terputus, suka cita beralih keheningan. Mereka merapatkan barisan, rasa takut lekat mendekap berteman ancaman. Ketakutan menjadi-jadi seiring teriakan yang kian dekat, dan derap langkah yang makin keras terdengar. Sekejap dari balik rerimbunan muncul sebuah bayangan besar, hitam legam yang meloncat dan menerjang. Secara fisik tampak banyak kemiripan, namun jauh lebih besar dalam skala ukuran. Ukuran itulah yang memaksa mereka untuk menghindari dan berlari. Bagi mereka inilah akhir dari kehidupan, dengan segala keterpaksaan mereka kini sedang menyambut datangnya kematian.

+ + + + +

Awalnya mereka berlari dalam satu barisan, namun karena terdorong keinginan untuk menyelamatkan diri sendiri, akhirnya tercerai berai meniadakan keutuhan. Takdir telah berubah, delapan anjing yang tadinya pemangsa sekejap berubah menjadi calon mangsa. Demikian pula dengan maya, berada dalam posisi paling belakang menjadikan dirinya satu-satunya incaran terdekat sang pemangsa. Maya terus berlari menerjang segala keterbatasan, luka dan sakit hati silih berganti merajam sekujur tubuhnya. Namun semuanya seperti sirna ditelan rasa takut yang tak terbayangkan. Langkah maya akhirnya terhenti di tepi jurang yang sangat lebar dan dalam, demikian pula sang pemangsa. Sang pemangsa telah memahami segala aturan main berdasarkan kebiasaan, jika mangsa sudah berhenti berlari, itu tandanya hidangan telah disiapkan.

+ + + + +

Nafas maya yang tadinya terengah-engah berangsur-angsur melambat, detak jantungnya yang tadinya berdegup kencang mulai mengisyaratkan tanda keteraturan. Jurang dihadapannya membentang mengalunkan orkestra kematian, kehidupan pun berseru memanggilnya untuk berpaling arah, mengabaikan jurang dan menghirup ketenangan. Untuk menghadapi ancaman dengan segala kerelaaan hati. Pertama kali dalam perjalanan sepak terjangnya maya dihadapkan pada tiadanya pilihan. Semua dongeng para leluhur tentang kengerian ancaman kematian bermunculan dalam benaknya, sejarah para legenda yang menghadapi kematian dengan gagah berani mulai menghiasi imajinasinya. Inilah yang mereka sebut sebagai ambang batas kesabaran, keikhlasan dan kepasrahan. Akhirnya maya memilih untuk mengambil posisi duduk dengan penuh keanggunan dan menghadapi pemangsanya bak seorang putri yang bersiap menyambut sang pangeran yang akan mempersuntingnya. Pesona ketenangan yang dipancarkan maya memantik kecanggungan sang pemangsa yang pada akhirnya memilih sikap serupa.

“Siapa kamu ? Dan apa yang sedang kamu lakukan ?” tanya sang pemangsa.

“Aku adalah kesejatian yang berselimut kepalsuan, Maha Pencipta mengukirku agar aku hidup, menafasiku dengan jiwa dan roh agar aku bisa menyelami dan memaknai kehidupan“

Sang pemangsa tertawa, “Bagiku kamu adalah mangsaku, kamu diciptakan untuk memenuhi keinginanku. Jikalau kamu berdoa akan keselamatanmu, aku pun berdoa mengucapkan rasa syukur karena Sang Pencipta memberikan aku sebuah hidangan dalam wujudmu”

“Aku tidaklah kekal, aku terikat pada ruang dan waktu. Jika habis waktuku maka aku harus kembali pada kesejatianku. Jika penguasa langit dan bumi berkehendak memanggilku melaluimu maka berakhirlah batas waktuku”

Sang pemangsa kembali tertawa, “Aku tidak sebodoh itu, bahkan menurutku kamu menghina kecerdasanku dan merendahkan pengetahuanku. Tidakkah kamu tahu, bahwa aku mengetahui segala keinginan yang ada dalam pikiranmu secara terperinci ? Tak ada satupun keinginanmu yang terlewatkan dalam benakku, dan aku mampu mewujudkannya buatmu. Bukankah itu lebih baik bagimu dibanding dijadikan santapan bagiku sebagai imbalan sujud sembahmu pada penciptamu ?”

Maya menundukkan kepala, menyadari betapa bahayanya keinginan yang dimunculkan oleh alam pikirannya, karena makhluk dihadapannya adalah cermin hawa nafsunya sendiri. Menyadari tak ada satupun mahluk dimuka bumi yang berkuasa menilai imbalan atas segala sujud sembah yang telah dilakukan. Adalah tiba waktunya bagi maya untuk memilih yang paling diinginkan Sang Pencipta melalui suara hatinya. “Hilang sudah semua keinginanku, karena kamu telah mengutarakan hasratmu. Musnah sudah segala kekuatanku, karena kamu telah menunjukkan dayamu. Kamu boleh mengoyak-ngoyak daging dan tulangku, namun tidak atas sesuatu yang kasat mata dalam diriku. Karena jiwa adalah milik Raja Langit dan Bumi”

Sang pemangsa menjadi marah atas penolakan calon mangsanya. Api menjalar sekujur tubuhnya, bersenyawa dengan udara, bergeliat dan meliuk-liuk mengikuti arah angin. Nafsu pemusnahan menggerakan seluruh bagian tubuh sang pemangsa untuk menerjang dan menyerang kekuatan takdir dihadapannya. Gerakan sang pemangsa yang sangat cepat dan tiba-tiba semestinya mengejutkan, namun maya melihatnya seperti gerakan melambat. Sesuatu menarik kakinya untuk melangkah mundur menghindari ancaman penuh amarah. Sang pemangsa menghentikan langkahnya ditepi jurang, karena takdir telah menentukan batas perbedaan antara cahaya dan kegelapan.

Sementara maya menyaksikan sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya, sesuatu yang menguasai dirinya untuk mengendalikan ketakjubannya sendiri. Semula yang tiada menjadi ada, disekelilingnya bertaburan beribu-ribu butir cahaya yang berkelap-kelip seperti kunang-kunang, mengangkat dan menghindarkan tubuhnya dari kejatuhan pada jurang yang dalam. Sekejap dilihatnya kakinya menjadi dua, dan di punggungnya melekat dua sayap besar yang bergerak turun naik dengan menggunakan kunang-kunang sebagai pijakannya.

Lamat-lamat dikedua telinganya terngiang suara-suara leluhurnya. Sayup-sayup, rendah, jernih namun jelas terdengar menyampaikan pesan kebijaksanaan, “Terbanglah rajawaliku, dari ketinggian langit kamu akan melihat jelas peta belantara kehidupan. Cari dan temukan teman-temanmu, kabarkan pada sahabat-sahabatmu, pada semua yang kamu cintai. Bahwasanya dunia tidaklah kekal, semua hanya bersifat sementara. Semua yang mereka lihat dengan kedua mata hanyalah ilusi, bukan yang nyata. Adalah kedekatan yang tiada batas pada Sang Pencipta yang dapat membuat mereka yang masih bernafas dapat menikmati dunia tanpa terpedaya. Sesungguhnya keabadian hanya diperuntukkan bagi mereka yang tiada tersesat, dan hanya bagi mereka yang sungguh-sungguh menginginkannya”

+ + + + +

Segala sesudahnya terasa menjadi ringan bagi maya, ruang dan waktu tak lagi seluas dulu. Masa lalu menjelma menjadi hari kemarin, menjadi guru pembimbing bagi hari-hari selanjutnya. Tiada lagi beban, yang tersisa adalah amanah, untuk menyikapi kehidupan selanjutnya dengan cara yang berbeda. Demi sisa waktu, demi kelangsungan peradaban, demi cinta pada Sang Raja Diraja Yang Maha Mencintai.


Saat ruang dan waktu tak lagi memihakku

kerinduan berkuasa atas diriku

kekhawatiran menggodaku

ketakutan akan kehilangan merayuku

nafsu memiliki memaksaku menjadi sekutu

Tuhan maafkan aku,

yang sebelumnya menafsuiMu

menafsui semua ciptaanMu


Maya sudah kembali ketubuh aslinya dan tengah berada diantara kelima sahabatnya. Dia sedang bercerita tentang pengalamannya, pertemuannya dengan sang pemangsa yang merupakan cerminan hawa nafsunya sendiri, dan berbagi hikmah mengenai batas hidup dan mati. Old jack yang sedari tadi mendengar kisah maya dengan penuh takjub tergerak untuk bertanya. “Sungguh beruntungnya dirimu, betapa beruntungnya kita semua, tiada jauh dari jangkauan tuntunan Sang Maha Agung, lalu bagaimana dengan kedua teman kita truman dan shorty? Mengapa Yang Maha Berkehendak tak menggerakkan laut dan gunung untuk menuntun mereka bersatu dengan kita kembali?”

“Adalah diluar kuasaku, Yang memiliki wasillah dan keutamaan selalu memiliki caranya sendiri untuk menuntun semua ciptaanNya. Terkadang kita dibiarkan menciptakan kesalahan, lalu melalui bimbinganNya kemudian kita akan dipertemukan dengan kebenaran. Terkadang pula kita dibiarkan mendua, lalu melalui sentuhan cintaNya yang menakjubkan kita akan disadarkan untuk mengetahui satu yang paling layak kita cintai. Namun sudah pasti itu semua disesuaikan dengan batas kemampuan yang menanggungnya, karena sesungguhnya Dia Maha Mengenal diri kita dibanding kita sendiri”

Dewey yang berlinang air mata ikut andil bicara, “Sungguh benar kisah-kisah itu, dongeng-dongeng para legenda mengenai hidup dan mati adalah nyata, dan mereka berharap agar kita semua mengikuti jejaknya"

Max dan shadow yang mulai bisa memetik intisari dari percakapan tadi bertanya silih berganti, “Lalu bagaimana selanjutnya ? Apakah tak ada lagi pemangsa di hari berikutnya ? Seandainya mereka adalah penguasa ilusi, bagaimana kita yang buta menghadapinya ?”

“Jangan takut, jangan berpikir tentang mereka, yang harus kamu waspadai adalah keinginanmu sendiri. Biasakanlah untuk menerima dan menikmati yang ada, jangan kamu ingkari yang kamu terima, dan jangan kamu sertai dengan angan-angan, karena dari situlah awal datangnya bujuk rayu yang menyesatkan yang tidak mungkin kamu tolak kehadirannya.”

Old jack berkata sambil mempersilahkan maya, “Wahai engkau yang terpilih mengemban amanah kebijaksanaan, jalanlah di depan kami, pimpinlah kami dalam menghadapi kenyataan yang tidak nyata ini agar kami selamat dan tiada sesat“

“Yang memilih akan terpilih, adalah bukan kuasa bagiku untuk menguasai keinginanmu, tak ada satupun yang selama di dunia ini yang terbebas dari keinginan. Mari kita lanjutkan perjalanan, mari kita teruskan yang telah kita mulai dengan sikap yang berbeda. Bersuka citalah sewajarnya, sampai batas waktu yang telah ditentukan. Hingga kamu bertemu dengan keinginan sejatimu. Aku akan berjalan paling belakang demi kebebasanmu dan kebebasanku, untuk mengamati dan untuk mengingatkanmu tentang tujuan akhir dari perjalanan ini “

+ + + + +

Suasana berangsur-angsur kembali seperti semula, perjalanan kembali dilanjutkan. Maya sedang menemani sahabat-sahabatnya yang tengah bersuka cita, sesekali dia melihat langit biru sambil tersenyum. Dia seperti merasakan kesendirian diantara keramaian, namun dia mengerti bahwa sesungguhnya sendiri tak pernah berarti sendiri.




All characters were Inspired from eight down belows

Thank’s for DP 32, and best wishes for CMM 326




**********************************************************

No comments: