Wednesday, December 2, 2009

ZHE YANG DE AI

Pada sebuah lembah di propinsi guangzhou daratan tiongkok, terdapat sebuah desa yang letaknya mengapit sungai yang tze yang jernih. Desa tersebut bernama desa huan tsuk. Masyarakat desa huan tsuk hidup tenang, rukun dan damai. Satu-satunya ancaman bagi desa tersebut hanyalah aksi kawanan perampok dari hutan xu wung yang terkenal kejam dan tak berperikemanusiaan. Mereka tak hanya menjarah, namun juga merusak, tega membunuh dan memperkosa. Namun aksi tersebut tak pernah terjadi lagi karena kawanan perampok takut dengan kepala desa huan tsuk, thian sam gong. Aksi terakhir kawanan perampok terjadi dua tahun yang lalu saat thian sam gong dengan gagah berani memimpin rakyat desa huan tsuk untuk melakukan perlawanan. Para perampok tidak hanya kalah telak, mereka juga harus kehilangan banyak nyawa di peperangan tersebut akibat sabetan pedang thian sam gong. Sejak itu kawanan perampok lebih memilih bersembunyi di dalam hutan xu wung, sambil menunggu waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan.

Thian sam gong adalah orang yang sangat dihormati oleh rakyat desa huan tsuk. Selain cakap dan jago kungfu, dia juga terkenal santun dan suka menolong. Thian sam gong sangat menjunjung prinsip keadilan, menurutnya yang lemah harus dilindungi agar tidak diperlakukan sewenang-wenang oleh yang kuat. Karena itulah rakyat desa mempercayakan kepemimpinan desa huan tsuk kepadanya. Thian sam gong merasa bahagia selama keluarganya dan rakyat desa hidup tenang. Satu-satunya yang menggangu pikirannya adalah dia tidak memiliki anak laki-laki. Thian sam gong sangat berharap anaknya juga menguasai kungfu seperti dirinya. Agar mampu melindungi dirinya sendiri dan juga orang lain. Oleh sebab itulah, meskipun anaknya seorang perempun thian sam gong mendidik putri satu-satunya itu dengan cara yang keras seperti tak ubahnya anak laki-laki. Putri satu-satunya itu bernama thian hua jie.

Hua jie adalah seorang gadis dewasa yang cantik dan menarik. Karena didikkan ayahnya yang keras, dia lebih menyukai hal-hal yang disukai kaum lelaki. Hua jie lebih menyukai kungfu dan berkuda dibanding menghabiskan waktu di dapur. Teman-teman pergaulannya, sudah pasti lebih banyak laki-laki dari pada perempuan. Wajahnya mewarisi kecantikan ibunya, namun sikap dan tingkah lakunya sangat mirip dengan ayahnya. Seperti ayahnya, hua jie juga memiliki jiwa sosial yang tinggi, sehingga membuat rakyat desa huan tsuk mencintainya. Semua laki-laki suka padanya, namun hanya sedikit yang berani mendekati hua jie. Sudah pasti selain karena reputasi ayahnya juga dikarenakan bakat yang menyertainya. Singkat kata hanya laki-laki yang cakap dan jago kungfu yang berani mencoba mendekatinya, mereka semua berjuang untuk bisa meraih hati thian hua jie.

Hal inilah yang meresahkan thian sam gong, karena hua jie justru lebih sering menghabiskan waktunya dengan seorang laki-laki yang sama sekali tidak bisa kung fu. Di mata thian sam gong laki-laki itu tidak layak menjadi pendamping bagi hua jie. Karena selain tidak menguasai kungfu, sikapnya sangat tidak cakap dan tidak tegas untuk ukuran seorang laki-laki. Dia sangat mudah diperintah atau disuruh-suruh oleh hua jie. Laki-laki itu adalah wong chu lun.

+ + + + +

Wong chu lun adalah seorang laki-laki sederhana, lebih menyukai sastra dan seni dibanding kungfu. Menurutnya perseteruan tidak harus diselesaikan dengan adu tenaga. Perbedaan kepentingan bisa diselesaikan dengan komunikasi jika manusia lebih mengenal seni dan bahasa. Dia lebih sering menghabiskan waktunya dengan membaca atau menulis. Yang paling disukainya adalah menulis puisi sebagai ungkapan perasaannya. Keindahan alam dan kejernihan sungai yang tse menjadi sumber utama inspirasinya. Karena kegemarannya itulah wong chu lun tidak memiliki banyak teman, karena kebanyakan pemuda desa huan tsuk lebih suka belajar kungfu dibanding yang lain. Satu-satunya teman bagi wong chu lun hanyalah thian hua jie.

Chu lun tidak mengingkari kecantikan alami hua jie, atau keramahannya yang banyak disukai masyarakat desa huan tsuk. Baginya sikap riang dan ceria hua jie lah yang menjadi daya tarik utamanya. Semuanya berpadu serasi dengan kemanjaan dan kerapuhan yang menjadi naluri sejati setiap wanita. Ada kalanya hua jie bepergian atau bermain dengan gwa the lie yang jago memanah, atau berdiskusi serius dengan seng khu nie yang mahir bermain pedang. Namun hua jie selalu kembali pada chu lun untuk bisa mengungkapkan sikap manjanya, dan chu lun selalu siap menerimanya.

Sikap riang dan ceria hua jie selalu mendominasi setiap pertemuan mereka. Selalu muncul ide kreatif tentang apa yang akan mereka lakukan dalam menghabiskan waktu dikala bersama. Diam-diam chu lun mengagumi salah satu bakat tersembunyi hua jie yang satu ini, oleh sebab itulah dia lebih memilih untuk menuruti apa saja yang diinginkan hua jie. Karena apapun yang diinginkan hua jie, akan membuat segalanya menjadi indah dan tak mudah dilupakan. Bagi chu lun segala kesediaannya mengisyaratkan tentang dari mana semua itu berasal, cinta.

Chu lun selalu mengucapkan mantra yang sama setiap dia menerima segala macam perlakuan hua jie kepadanya. Ketika hua jie menyuruhnya menghabiskan makanan yang dirasanya tidak enak dan terlalu pedas, dalam hati chu lun berkata, begitulah cinta. Makanan itu pun bisa dihabiskannya tanpa merasakan apa-apa. Sesudahnya hua jie bertepuk tangan kegirangan. Betapa ajaibnya mantra cinta. Ketika musim salju, hua jie pernah menyuruhnya menutup mata. Sekejap sekumpulan salju menutupi seluruh tubuhnya. Belum selesai sampai di situ, tiba-tiba chu lun merasa bola-bola salju mendarat di wajahnya. Sementara hua jie terdengar tertawa karena senang. Dalam hati chu lun mengucapkan mantranya, begitulah cinta. Rasa dingin yang luar biasa segara menghilang begitu saja.

Suatu hari, ketika selesai mandi di sungai chu lun sadar bahwa baju dan celananya telah hilang karena diambil secara diam-diam oleh hua jie. Artinya chu lun harus pulang tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Seusai dia mengucapkan mantra begitulah cinta, perasaan malu seperti melayang entah kemana.

Chu lun mengagumi betapa dahsyatnya kekuatan cinta. Segala yang tak menyenangkan yang dirasakan tubuh dan pikirannnya bisa menghilang tanpa terasa.

+ + + + +

Hua jie bukannya tidak memahami harapan dan keinginan ayahnya. Dia mengerti bahwa semua itu demi kebaikannya sendiri. Sejujurnya hua jie menikmati dunia yang diperkenalkan ayahnya. Kungfu dan segala filosofinya yang berkaitan erat dangan rasa tanggung jawab untuk melindungi diri ataupun orang lain, sangat menggugah hati dan pikirannya. Hua jie pun mengagumi orang-orang berbakat yang diperkenalkan ayahnya, mereka seperti memancarkan pesona yang luar biasa dimatanya.

Namun yang hua jie sendiri tak mengerti, semua itu tampak melelahkan dan membosankan. Dunia yang dia jalani dan dia tekuni, serta keberadaan orang-orang disekitarnya justru seperti terasa menjadi beban baginya. Semua beban itu seperti menghilang ketika dia bersama wong chu lun.

+ + + + +

Ketika memasuki musim dingin, tersiar kabar thian sam gong menderita sakit keras. Dia tak mampu berdiri dari tempat tidurnya, bahkan seluruh anggota tubuhnya tak mampu digerakkan. Segala macam tabib telah didatangkan untuk mencoba mengobatinya. Mereka masing-masing mempunyai pandangan sendiri-sendiri tentang sakit yang sedang diderita thian sam gong. Sebagian berpendapat bahwa thian sam gong menderita kelumpuhan total karena perubahan aliran darah dalam tubuhnya sebagai akibat ilmu kungfu yang sedang dipelajarinya. Sebagian lagi berpendapat bahwa thian sam gong mengalami gangguan pernapasan akibat terlalu memaksakan diri dalam mempelajari tenaga dalam. Namun mereka semua tak ada yang berhasil mengobatinya. Kejadian ini tak hanya membuat sedih hua jie dan ibunya, tapi juga seluruh rakyat desa huan tsuk. Seiring waktu rakyat desa menjadi semakin gelisah, karena keamanan desa sangat bergantung pada kepemimpinan thian sam gong.

+ + + + +

Berita sakitnya thian sam gong menyebar begitu cepat, tak hanya ke seluruh penjuru desa tapi juga sampai ketelinga para kawanan perampok yang bersembunyi di pedalaman hutan xu wung. Mereka masih menyimpan dendam karena kekalahan perang dua tahun silam. Berita itu tak hanya menyalakan kembali luka lama tapi sekaligus membangkitkan kembali keberanian mereka yang telah lama menghilang. Hal ini sudah pasti membuat ay mao fuk senang bukan kepalang. Sebagai pemimpin perampok sebetulnya dia sangat marah akan ketakutan anak buahnya, namun disisi lain dia juga mengakui kehebatan kungfu thian sam gong sangat jauh diatasnya. Dihadapan anak buahnya dia mengacungkan pedang sambil berseru, saatnya telah tiba.

+ + + + +

Keresahan seluruh masyarakat desa huan tsuk sudah pasti dirasakan oleh hua jie. Dia sudah menghubungi semua pemuda desa yang menguasai kungfu untuk bersiaga dan menggalang kekuatan. Namun hua jie tahu itu semua belum cukup. Karena ayahnya thian sam gong telah ada di hati seluruh rakyat. Ketika ayahnya sakit, maka sakitlah rakyat desa huan tsuk. Hua jie berpikir keras, mencoba mencari jalan keluar dari situasi ini. Menjelang malam dia teringat akan sebuah dongeng yang telah menjadi legenda yang sering diceritakan kepadanya sewaktu kecil oleh ibunya. Sebuah dongeng tentang keberanian seorang putri raja. Akhirnya hua jie tahu apa yang harus dilakukan untuk melindungi rakyat desanya.

+ + + + +

Memasuki tengah malam, masyarakat desa huan tsuk yang tengah bersiaga melihat sekumpulan api obor dari dalam hutan xu wung. Mereka semua bersiap-siap menyambut kedatangan para perampok tanpa kepemimpinan thian sam gong. Mereka menyadari akan tak adanya pilihan lain, tanpa thian sam gong segalanya akan menjadi jauh lebih sulit.

Tak lama berselang sekumpulan kawanan perampok muncul dari balik hutan. Sebagian dari mereka berkuda sambil mengacungkan pedang. Sebagian lain berlari dengan nafsu membunuh yang luar biasa.

Sementara rakyat desa pun bersiap dengan pedang terhunus sambil berteriak-teriak untuk menjaga semangat, karena hanya itulah yang bisa mereka lakukan untuk memacu keberanian. Tiba-tiba dari arah samping mereka muncul seseorang yang menunggang kuda. Melenggang penuh pesona mengambil tempat di depan masyarakat desa. Jubah perang dan pedang yang sangat tidak asing bagi semua mata yang melihatnya. Dia adalah thian sam gong. Seluruh rakyat bersemangat melihat kehadiran pemimpin mereka. Tak perlu lagi menutup-nutupi rasa takut, karena keberanian yang sesungguhnya telah mengemuka.

Kehadiran thian sam gong sudah pasti terlihat oleh kawanan perampok. Kenangan buruk dua tahun lalu seketika menguasai pikiran mereka. Menyurutkan semangat berkobar-kobar yang telah diusung sejak awal. Ekspresi penuh ketakutan mulai menghiasi wajah-wajah mereka. Kawanan perampok pun tercerai berai, dan melarikan diri kembali ke hutan. Ay mao fuk yang melihat kejadian ini mencoba untuk tetap meneruskan penyerbuan dengan pasukan yang tersisa. Namun ketika keadaan mulai dirasa tidak menguntungkan akhirnya ikut melarikan diri kembali ke hutan.

+ + + + +

Hua jie tahu bahwa rahasia itu tak mungkin bertahan lama. Sesudah sorak-sorai kemenangan itu pada akhirnya rakyat desa akan tahu bahwa ayahnya belum sembuh dari sakit. Dan akhirnya mereka juga akan mengetahui sosok yang bersembunyi dibalik jubah perang yang menggunakan pedang ayahnya.

Hua jie tak mau mencari pembenaran atas perbuatannya, namun sambutan rakyat desa sungguh diluar dugaannya. Mereka semua memuji keberanian hua jie, menganggapnya sebagai pahlawan dan menilai kehebatan hua jie tak jauh beda dengan ayahnya. Penilaian berlebihan ini menjadi beban yang maha berat bagi hua jie. Rakyat desa mulai melihatnya dari sisi yang berbeda, rasa tanggung jawab yang sebelumnya dipikul ayahnya beralih kepadanya. Wong chu lun memahami konsekuensi yang ditanggung hua jie atas keputusannya. Dia mendengarkan semua cerita hua jie dengan seksama. Ketika semua beban itu beralih menjadi tangis dan air mata, chu lun memberikan pundaknya.

+ + + + +

Ay mao fuk adalah yang terkejam dikalangan perampok, kekejamannya menebarkan rasa takut yang luar biasa pada seluruh anak buahnya. Setelah kegagalan penyerbuan itu ay mao fuk begitu murka. Dia tak segan-segan menghabisi nyawa anak buahnya yang terlihat melarikan diri sebelum perang hanya karena melihat sosok yang mereka kira thian sam gong.

Amarahnya kian menjadi-jadi setelah mendengar kabar bahwa yang menggunakan jubah perang dan pedang itu ternyata adalah putri thian sam gong. Kemarahannya menggerakkan semangat seluruh anak buahnya untuk melakukan penyerbuan ulang. Dia memerintahkan anak buahnya untuk tidak membunuh thian hua jie. Hua jie akan ditangkap hidup-hidup dan dibawa ke pedalaman hutan xu wung untuk dijadikan istrinya. Sebagai wujud pembalasan dendamnya pada thian sam gong dan seluruh rakyat desa huan tsuk.

+ + + + +

Setelah kemenangan terakhir seluruh rakyat desa huan tsuk tetap bersiaga, untuk mengantisipasi kemungkinan para perampok melakukan serangan ulang. Kekhawatiran mereka terbukti, nyala obor dan suara derap kaki kuda dari balik hutan xu wung adalah pertanda bahwa para perampok akan melakukan penyerangan kembali. Namun kini masyarakat desa huan tsuk sudah tak takut lagi. Mereka bersiap menyambut kedatangan para perampok dengan semangat gagah berani karena mereka telah memiliki pemimpin baru, thian hua jie.

+ + + + +

Tidak seperti sebelumnya, kali ini hua jie memilih sikap berterus terang. Memohon ijin untuk meminjam kuda, jubah perang dan pedang pada ayahnya. Thian sam gong menjawab dengan senyuman sebagai tanda dia merestui tindakan yang akan ditempuh putrinya. Seusai memohon pamit dan doa restu hua jie segera berlalu dari kamar istirahat ayahnya. Air mata mengalir membasahi pipi seorang thian sam gong, didikannya tidak sia-sia. Meskipun anaknya seorang perempuan, namun dia mewarisi jiwa ksatria ayahnya.

+ + + + +

Di salah satu sudut desa, seorang pemuda tampak mondar-mandir gelisah memikirkan sesuatu. Menurutnya situasi yang sedang terjadi adalah tidak seperti anggapan kebanyakan orang. Semuanya mengarah pada kemungkinan terjadinya kejadian buruk yang paling tidak ia inginkan. Kekhawatiran itu akhirnya memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu diluar kebiasaannya.

+ + + + +

Menjelang tengah malam, perang tak terelakkan. Kawanan perampok yang kini jauh lebih takut pada pemimpinnya sendiri menyerang desa huan tsuk dengan kekuatan penuh. Penduduk desa huan tsuk pun tak kalah semangatnya, mereka melakukan perlawanan dengan gagah berani dibawah kepemimpinan thian hua jie.

Di tengah-tengah pertempuran yang sedang berkecamuk, diantara sorak-sorai semangat serta suara gemerincing pedang, ay mao fuk melenggang sendirian memacu kudanya mendekati thian hua jie. Pertarungan antara keduanya pun terjadi, ayunan pedang ay mao fuk disambut sabetan tajam pedang hua jie. Sepertinya mereka seimbang, namun perbedaan tenaga diantara keduanya perlahan dapat dibaca oleh ay mao fuk. Dia tersenyum menyeringai sabagai tanda percaya diri yang kian meninggi, yakin dapat mengalahkan hua jie.

Hua jie telah mengerahkan semua jurusnya, namun itu semua tidak mampu menandingi kekuatan lawannya. Bahkan hua jie kian terdesak. Sebuah sabetan pedang penuh tenaga dari ay mao fuk mencoba ditangkis hua jie. Saking kuatnya tenaga yang dikerahkan musuhnya membuat hua jie terlempar dan terjatuh dari kudanya. Ay mau fuk pun turun dari kudanya sambil tertawa, kemenangan telah ada di depan mata. Hua jie tak mau menyerah, dia bangkit dan mengambil insiatif serangan lebih dulu untuk mengejutkan musuhnya. Namun karena konsentrasinya yang belum pulih karena terjatuh dari kuda, serta tenaganya yang hanya sisa-sisa, keuntungan tak lagi berpihak kepadanya. Serangannya dibalas ay mao fuk dengan ayunan pedang yang lebih keras. Tak ayal pedang hua jie terlepas dari genggamannya. Saat bersamaan kepalan tangan kiri ay mao fuk mendarat di wajahnya, hua jie pun terjengkang. Hua jie mencoba memaksa kesadarannya yang belum pulih sepenuhnya akibat pukulan tadi. Semuanya seperti sia-sia, tubuhnya seperti sulit untuk digerakkan. Habis sudah pikirnya, kekalahan dan kematian mulai membayangi alam pikirannya.

Tiba-tiba dilihatnya samar-samar seseorang menyelinap di belakang ay mao fuk, menghunuskan pedang ke punggung pemimpin perampok itu hingga tembus ke dada. Wajah itu tak asing bagi hua jie.

+ + + + +

Tawa ay mao fuk mendahului kemenangannya karena melihat musuhnya sudah terkapar tanpa senjata. Pembalasan dendam yang setimpal telah terbayang di depan mata. Tersisa satu langkah dan satu pukulan terakhir untuk memboyong calon istrinya. Namun satu langkah bagi ay mao fuk untuk menuntaskan pertarungan itu justru menjadi akhir yang menyakitkan sekaligus menyesakkan. Matanya terbelalak, rasa sakit luar biasa bercampur kaget karena melihat dari dadanya tersembul sebilah pedang yang ditusukkan dari punggungnya. Ay mao fuk segera berbalik arah untuk melihat wajah penyerangnya. Si penusukpun melepaskan pedangnya yang sudah menjadi bagian tubuh ay mao fuk. Sabetan pedang terakhir ay mao fuk sebagai reaksi atas kemarahan dan keterkejutannya merobek urat leher penusuknya hingga terkapar berlumuran darah. Seiring bersamaan ay mao fuk pun tumbang dengan mata terbelalak, seolah tak percaya akan kekalahannya.

Melihat pemimpinnya tewas dengan pedang tertancap di tubuhnya, semangat juang para perampok pun jatuh. Mereka melarikan diri bercerai berai meninggalkan peperangan. Rakyat desa huan tsuk pun bersorak-sorai menyambut kemenangan. Sesudah perang yang ditandai dengan kematian ay mao fuk tersebut, terdengar kabar bahwa hutan xu wung sudah tidak lagi berpenghuni. Para perampok telah membubarkan diri.

+ + + + +

Hua jie yang telah bangkit segera berlari menghampiri orang yang telah menyelamatkan nyawanya. Dia mengguncang-guncangkan kedua bahu penolongnya yang tengah terkapar itu sambil menyebut nama penolongnya berulang-ulang. Tangis dan air mata hua jie mengalir deras tak tertahankan melihat perjuangan hidup dan mati tersaji di depan matanya.

Wong chu lun merasakan napasnya hanya satu dua, merasakan dingin yang luar biasa hingga menggigil menguasai sekujur tubuhnya. Samar-samar dia melihat wajah orang yang sangat dicintainya. Sayup-sayup dia mendengar hua jie memanggil-manggil namanya. Antara sadar dan tidak sadar chu lun mencoba membangun konsentrasi. Mencari kejernihan hati untuk mengucapkan mantranya. Ketika akhirnya hatinya mampu berkata “begitulah cinta”, rasa dinginnya berangsur-angsur menghilang. Semuanya menjadi ringan tanpa beban. Pemandangan dihadapannya beralih serba putih dan berkabut. Wong chu lun pun tersenyum, karena hua jie selamat. Dia tidak merasakan sakit lagi. Hanya perasaan cintanya yang masih ada, menemaninya sepanjang masa.

+ + + + +

Angin berhembus kencang di desa huan tsuk, menyambut musim gugur yang akan segera tiba. Daun-daun kering yang berserakkan di setiap permukaan bumi seperti membentuk pola di atas permadani. Hua jie tengah duduk di samping pusara wong chu lun, tangannya menggenggam beberapa lembar puisi karya chu lun sepanjang hidupnya. Sepeninggal wong chu lun, hua jie telah membaca puisi-puisi itu berkali-kali, namun tak pernah bosan membacanya. Puisi yang sarat dengan kata-kata indah dan bahasa alam yang mempesona, yang mengiringi cinta sebagai tajuk utamanya. Puisi yang membuka mata hati hua jie tentang siapa dirinya, yang menjawab semua keraguan dan kegelisahan hatinya. Kata-kata indah yang bercerita tentang kekuatan cinta yang menjadi teman setia hua jie dalam menjalani hidup di hari-hari berikutnya.

Ketika akan beranjak dari pusara, tak ada lagi tangis dan air mata. Hua jie berpamitan sambil tersenyum. Hatinya mengucapkan kata-kata yang mampu menggeletarkan sukmanya, menghapus semua kesedihannya, memberikan kekuatan yang maha hebat pada raga dan pikirannya.”Zhe yang de ai, begitulah cinta” Angin pun berhembus menyibakkan rambutnya. Menyapa lembut halus wajahnya.




*******************************************************************

No comments: