Di suatu sore yang cerah di pedalaman kilimanjaro, sekumpulan anak macan tengah asyik bermain, berlari-lari berkejaran di padang ilalang yang dikelilingi pepohonan. Berguling-guling, menerjang dan melompat dari satu tempat ke tempat yang lain tiada beban, sebuah gambaran kesenangan dan keceriaan yang hampir selalu berlangsung di keseharian. Meskipun mischa adalah macan betina, namun kegesitannya tak kalah dibanding teman-teman pejantannya. Instingnya terkadang melampaui yang lain, tak jarang insiatifnya menjadikannya sebagai pemimpin bagi teman-temannya. Dari kejauhan igor ayahnya sesekali mengamati dan mengawasinya dengan sepasang mata kasih yang bijaksana.
Igor tak pernah memaksakan keinginannya pada putri satu-satunya, baginya anak adalah karunia istimewa dengan kehendak bebas di dalamnya. Tugasnya hanya mengawasi perkembangan putrinya, agar akalnya berkembang, namun tiada meninggalkan jiwanya. Selama kesenangan menjadi keinginan jiwanya, igor akan membiarkannya. Namun jika kesenangan berasal dari akal pikiran yang dipengaruhi lingkungan pergaulan putrinya, igor akan bersusah payah mencabik-cabiknya. Karena kebahagiaan sejati berasal dari jiwa, dan jiwa jugalah yang akan menuntun anaknya untuk mencapai cita-citanya.
Igor tak pernah lelah dalam memberikan wawasan kehidupan pada putrinya. Bila putrinya menolak, baginya adalah pertanda bahwa putrinya mulai belajar menentukan jalan hidup yang dipilihnya. Igor selalu mengingatkan berulang-ulang agar putrinya bertanggung jawab atas pilihannya sendiri, dan bersedia menanggung segala konsekuensinya. Ketika pilihan putrinya kemudian tidak bermanfaat atau bahkan justru mendatangkan kerugian, igor akan mengerahkan segala kemampuannya, menempuh segala cara untuk menutupinya. Sesudahnya igor akan meluruskannya melalui sudut pandang penuh kearifan yang dia peroleh melalui pangalaman hidupnya.
Ketika putrinya terjatuh dari pohon, igor tidak memarahinya, dia berusaha dengan susah payah agar putrinya sembuh dari luka yang dideritanya. Kemudian di waktu berikutnya igor menjelaskan tentang keterbatasan kaum macan dalam memanjat pohon. Sepertinya ada kemiripan fisik antara mereka dengan macan tutul, namun secara anatomi sungguh berbeda. Kuku dan kelenturan tubuh yang dimiliki macan tutul memudahkannya dalam memanjat pohon hingga ke cabang pohon yang sulit dijangkau. Baginya pengalaman terjatuh dari pohon adalah waktu bagi anaknya untuk belajar bercermin dari perbedaannya dengan macan tutul, agar putrinya mengenal dirinya sendiri, mengenal keterbatasannya.
Ketika putrinya melanggar batas wilayah yang telah ditandainya melalui bau air seni di pohon maupun rerumputan, yang berakibat putrinya dikejar-kejar kawanan hyena, igor melindunginya. Aumannya yang memekakkan semesta membuat kawanan hyena ketakutan lalu mundur dan melarikan diri. Menurutnya ini adalah waktu belajar bagi putrinya untuk tidak melampaui batas, untuk mengenal habitatnya sendiri dan mengenal bakat yang dimilikinya.
Langit memerah pertanda senja, waktu bermain telah usai, anak-anak macan pun kembali pada pelukan induknya. Bagi mischa, saat menjemput malam adalah waktu baginya untuk bermanja-manja dalam pelukan ibunya. Kelelahan yang dialaminya seperti sirna begitu saja ketika dia berada dalam dekapan ibunya. Sebuah sentuhan magis, bau badan khas ibunya, rengkuhan halus namun bertenaga, menimbulkan kehangatan yang luar biasa baginya. Ibunya tak hanya menghangatkan tubuhnya, tapi juga bagi jiwanya. Sekali lagi, igor mengawasi keduanya dari kejauhan, di atas batu besar di tepi padang ilalang yang menjadi tempat kesukaannya. Sesulit apapun hari yang terlewati seperti tak berarti ketika melihat bahasa kasih antara istri dan anaknya.
+ + + + +
Suatu ketika tampak mischa duduk berdiam diri, dia tidak bergabung dengan teman-temannya yang asyik bermain dan bersuka cita, ini diluar kebiasaannya.
Igor menghampirinya seraya bertanya, “Mengapa kamu berdiam diri ? Mengapa keceriaan teman-temanmu tak mampu menggugah hasratmu?”
Mischa tak bergeming, dia tak menatap ayahnya, pandangannya tertuju pada obyek yang lain, dan tak berarti apa-apa.
“Ceritakanlah pada ayah, barangkali ayah bisa membantumu”
Mischa masih menutup bibirnya, tak bergerak, tak ada isyarat akan terbitnya kata-kata. Ibunya mendekati mischa, berpaling pada igor sambil mengedipkan matanya, “Sudahi dulu pertanyaanmu, anakmu masih tak ingin bicara, biarkan keheningan menjadi raja bagi dirinya untuk sementara”
Igor beranjak pergi, kedipan mata ibunya adalah isyarat pengambil alihan pengendalian situasi dengan cara yang berbeda. Sebuah pendekatan halus yang berasal dari naluri kewanitaan yang telah berlangsung turun temurun sejak kehidupan telah ada. Igor mengerti, pertanyaannya akan terjawab melalui cerita istrinya dilain waktu. Yang igor syukuri, baik dia maupun istrinya sama-sama perduli pada ketenangan jiwa putrinya.
Yang mischa tidak pahami, kediamannya menyiksa hati dan pikiran ayahnya.
+ + + + +
Suasana hati mischa seperti cuaca, mudah berubah tanpa bisa diduga. Hari ini dia sudah bermain kembali bersama teman-temannya, sepulangnya wajahnya sudah cerah ceria. Igor memperhatikannya, ibunya menggelengkan kepala, pertanda agar igor tidak mengusiknya. Igor berlalu dari hadapan mereka, semuanya seperti baik-baik saja, tapi keresahan seperti membayangi setiap gerakannya.
Keesokan harinya mischa pulang dengan banyak percikan darah di tubuh dan sekitar mulutnya, artinya dia dan teman-temannya baru saja mendapat mangsa. Mischa mendekati ibunya, berbaring, dan ibunya membantu menjilati membersihkan tubuhnya. Igor mengawasinya, mischa kini semakin jarang berbicara dengannya, keresahan mulai berganti kekhawatiran. Menurut igor, kemanjaan sesekali ada gunanya, namun dalam skala berlebihan dapat mengganggu proses kemandirian. Tapi dia tidak berminat untuk membahasnya dengan istrinya, karena yang akan terjadi bukannya kesepahaman akan tetapi perdebatan yang tak ada habisnya.
+ + + + +
Musim penghujan menyapa bumi kalimanjaro, mendung tebal , suara guntur dan petir yang bersahut-sahutan menjadi bahasa alam di keseharian. Bahkan terkadang dalam satu hari matahari tak menampakkan sinarnya. Disuatu sore yang ditandai dengan gerimis itu, mischa belum menampakkan batang hidungnya, pun demikian teman-temannya. Kekhawatiran mulai menyapa Ibunya, igorpun merasakan hal yang sama. Ketika hari beranjak malam, belum ada tanda-tanda akan kehadiran mischa, kekhawatiran mulai beralih kegelisahan, sementara gerimis masih enggan menghentikan nyanyiannya. Masa penantian sudah dianggap lebih dari cukup bagi igor, dia mulai beranjak mencari mischa demi menghentikan kegelisahan yang kini sudah menjadi bagian dari dirinya.
Batas wilayah sudah dilewati igor, dia menggunakan indra penciumannya untuk menelusuri jejak mischa. Langkah demi langkah, waktu demi waktu, igor kian jauh dari wilayah kekuasaannya. Tak jarang dia melewati wilayah penguasa lain, dimana beberapa pasang mata seperti mengawasinya dengan waspada. Igor sadar, lengah berarti statusnya adalah mangsa. Dengan langkah anggun dan penuh keberanian igor melewati semuanya.
Langkah igor terhenti di kaki bukit, indra penciumannya merasakan bau darah. Kedua telinganya terbuka, matanya menatap tajam situasi dihadapannya, puluhan hyena sedang berpesta. Igor mencengkeram kakinya, mensiagakan cakarnya, auman rendahnya menyampaikan isyarat agar para hyena menepi, agar igor bisa melihat wajah mangsa mereka. Keberanian igor sedikit mengendurkan nyali para hyena, dilihatnya mangsa mereka, mereka adalah teman-teman mischa. Igor memalingkan wajahnya pada para hyena dengan auman yang lebih keras sebagai ekspresi kemarahan sekaligus menanyakan keberadaan putrinya, kali ini para hyena tidak mau menerima. Mereka bergerak maju mendekati igor yang mereka anggap merusak pesta, auman keras igor sebagai peringatan akan statusnya sebagai penguasa rimba tak lagi digubris para hyena. Karena igor hanya sendirian, keberaniannya tak berarti bagi puluhan hyena.
Kemarahan menghinggapi sekujur tubuh igor, setelah melihat teman-teman anaknya yang binasa dan tak adanya kejelasan tentang nasib anaknya. Gerakan menantang hyena baginya adalah sebuah penghinaan besar bagi harga diri kaum macan.
Para hyena sudah di sekeliling igor, auman berulang-ulang dikumandangkan sebagai tanda igor siap menghadapi tantangan para hyena, perkelahian tak terelakkan. Serangan awal hyena dapat dibalas dengan sapuan kedua kaki depan igor, beberapa hyena terpelanting karenanya, namun hyena yang lain terus merengsek ke tubuhnya. Igor memutar tubuhnya terus menerus sambil melakukan serangan, hyena tak menyerah. Auman igor bersahutan dengan gonggongan para hyena, pertarungan kian tak seimbang. Setelah berputar-putar untuk kesekian kali, cakar dan gigitan para hyena tak lagi dapat ditepis igor, sebuah serangan dari samping yang sudah tak dapat lagi dia hindari menjatuhkan tubuhnya, igor pun tumbang. Sekejap sekawanan hyena mengerubutinya dari semua sisi, menutupi semua pandangannya, hingga dia tak bisa melihat apa-apa, dan akhirnya tak merasakan sakit lagi di sekujur tubuhnya.
+ + + + +
Mischa sedari tadi bersembunyi di balik rerimbunan menyaksikan perkelahian antara ayahnya dengan para hyena. Sebelumnya mischa berencana menyelamatkan diri memanfaatkan kelengahan para hyena yang sedang berpesta namun tertunda karena melihat kehadiran ayahnya.
Kakinya yang sebelumnya gemetar karena melihat teman-temannya dijadikan mangsa, perlahan-lahan mulai sirna. Rasa takut dalam dirinya beralih menjadi takjub melihat keberanian ayahnya yang luar biasa, betapa ayahnya sama sekali tidak gentar meskipun berhadapan dengan musuh sedemikian banyaknya. Namun ketika perkelahian mulai berjalan tidak seimbang, kesedihan mulai menyapa perasaannya. Dia tidak tega untuk menyaksikan kelanjutannya, dia memilih beranjak pergi meninggalkan tempat persembunyiannya. Rasa takut dan sedih bercampur miris berkecamuk menguasai pikirannya, perasaan bersalah menghakimi setiap ayunan langkahnya. Ketika telah mencapai jarak tertentu langkahnya terhenti, sesuatu memaksanya berpaling, sebuah auman panjang yang sangat menyayat terdengar menusuk hingga ulu hatinya, tangis dan air mata pun jatuh tak tertahankan. Setiap tetes air mata, menjadi jejak langkah kepulangannya menuju kepelukan ibunya.
+ + + + +
Sepeninggal ayahnya, kehidupan mischa menjadi jauh berbeda. Dia menjadi jarang berbicara, tak ada lagi senyum untuk dibagikan, tak ada lagi tawa untuk diperdendangkan. Mischa lebih suka menyendiri, tak mau lagi bergabung dengan teman-temannya yang masih tersisa. Ibunya dengan penuh rasa sedih hanya bisa mengawasi, karena mengerti bahwa perasaan bersalah telah menjadi bagian dari putrinya. Perasaan sedih yang berganda, karena dia kehilangan suaminya dan kehilangan jiwa anaknya dalam waktu yang bersamaan.
+ + + + +
Sebagaimana biasanya, ketika siang berganti malam, mischa merebahkan diri dalam pelukan ibunya, namun kali ini matanya jauh lebih sulit dipejamkan dibanding dulu. Ibunya tidak kehilangan kehangatan, namun entah mengapa seperti ada sesuatu yang membuat matanya ingin selalu terjaga. Seperti sebelumnya, dalam pelukan ibunya sesekali dia menegakkan lehernya, berpaling ke arah batu besar di tepi padang ilalang, namun kali ini dia tak melihat ayahnya.
Suatu malam mischa memutuskan untuk bangun, dan melangkah menuju batu besar tersebut. Sesampainya dia duduk merebahkan diri seperti kebiasaan ayahnya. Dipandangnya sekitar, dilihatnya ibunya yang sedang tidur, dan disapanya bintang gemintang. Untuk pertama kalinya dia mengerti yang dirasakan ayahnya ketika duduk di atas batu itu. Sebuah perasaan tanggung jawab atas cinta dan kasihnya pada anak dan istrinya seperti tidak menjadi beban, karena bintang-bintang di langit menghiburnya dengan kemilaunya yang bijaksana. Semua keindahan itu membuat mischa terpesona, beban yang dipikulnya seperti melayang entah kemana. Ketika angin berhembus dan menerpa wajahnya untuk kesekian kali, mischa pun tertidur. Peraduan menjemputnya, mimpi hadir menghiasi taman hatinya.
+ + + + +
Ayahnya menghampirinya sambil bertanya, “Mengapa kau disini, mengapa kau tidak tidur dalam pelukkan ibumu?”
Mischa berpaling pada arah suara itu, “Ayah, bukankah kamu sudah mati?”
“Yang mati hanyalah tubuh dan pikiranku, tidak bagi sukmaku yang berselimut cintaku padamu” jawab igor “Aku akan selalu hidup dalam hatimu, merasakan semua kesedihanmu dan juga bahagiamu”
Antara percaya dan tak percaya mischa melanjutkan kata-katanya, “Kesedihanku jelas tergambar dalam kata-katamu, bagaimana aku mengusirnya agar aku bisa membuat ayah bahagia?”
“Buanglah perasaan bersalahmu, tak ada yang perlu disesali karena semuanya sudah terjadi, karena ayah tak pernah menyalahkanmu. Bagi ayah, itu semua adalah bagian dari proses pendewasaanmu”
“Ayah, adakah kekuatan yang mampu membasahi jiwaku yang kering, agar aku mampu menepiskan semua kegelisahanku berkaitan dengan kematianmu?”
“Takdir sudah ditentukan anakku, tak ada satupun yang mampu mengubahnya. Andai kamu tidak berbuat kesalahan pada hari itu, takdir tetap akan menjemputku dengan cara yang berbeda” jelas igor, “Maka berhentilah menyalahkan dirimu sendiri”
“Mendengar kata-kata indahmu, aku merasakan keteduhan sekaligus penyesalan, mengapa aku tidak mendengarkanmu sejak dulu”
Igor tersenyum, “Karena kamu sekarang mendengar kata-kataku lewat telinga hatimu, ber-akalah, gunakan kecerdasan hatimu agar kamu bisa berdamai dengan segala kesalahan yang pernah kamu lakukan. Terimalah semua yang pernah terjadi, jadikanlah sebagai pelajaran agar kamu menjadi lebih baik di kemudian hari”
“Aku melihat cinta pada binar matamu, sinarnya menyelimuti sekujur tubuhku, bagaimana aku membalasnya setelah ketiadaan wujudmu?”
“Demi cintaku yang abadi, bangkitlah buah hatiku, jadilah diri sendiri, temukan bakat yang diberikan langit kepadamu agar kamu berguna bagi siapa saja yang membutuhkanmu. Waspadai keinginan yang tidak perlu, jadikanlah kesenangan di sekitarmu menjadi kesenanganmu, jangan sebaliknya, karena kamu ada untuk mereka. Demi sisa waktumu, cintailah ibumu sampai akhir hayatmu, jadikan dia sebagai wujud yang mewakili jiwaku untuk dicintai. Senantiasa bersabarlah, dan tetaplah rendah hati, karena kesabaran dan kerendahan hati yang luar biasa membentuk yang berwujud menjadi legenda yang akan dikenang sepanjang masa melalui semua keturunannya”
Kata-kata ayahnya seperti meruntuhkan tembok keangkuhan mischa, meluruhkan semua beban, menjernihkan telaga pikirannya, tubuhnya seperti melayang di angkasa.
Igor merapat, merengkuhkan kedua kaki depannya untuk memeluk mischa seraya berkata, “Tidurlah, beristirahatlah, sudah waktunya beban perasaan bersalah menjauhi kedalaman hatimu. Hidupmu akan jauh lebih indah, lebih dari apa yang pernah kamu bayangkan”
Mischa pun memejamkan mata sambil tersenyum, untuk pertama kalinya dia tertidur dalam dekapan ayahnya. Keteduhan yang mempesona, yang tak mungkin bisa diungkapkan dengan kata-kata.
+ + + + +
Arak-arakan mega masih enggan beranjak pergi, menyisakan beberapa celah diantaranya, sehingga matahari berkesan seperti malu-malu menampakkan sinarnya. Mischa membuka matanya, terjaga dari mimpinya. Dia segera melihat sekeliling, segaris sinar matahari menyapa batu tempat tidurnya, meracuni aliran darahnya sehingga dia terbangun dari singgasana peraduannya. Dilihatnya wajah ibunya yang nampak sudah sedari tadi duduk disisinya sambil memandanginya dengan wajah sedih.
Mischa menunjukkan ketulusan senyumnya, lewat binar matanya dia berkata, “Ibuku cintaku, jangan bersedih, semuanya telah berlalu. Aku tak ingin membenarkan semua perbuatanku di masa lalu, namun aku juga tak berminat untuk menghakimi kesalahanku sendiri. Biarkan semuanya menjadi guru bagi sikapku di kemudian hari. Yang aku ingin engkau tahu, betapa bangganya aku pada ayahku. Dia adalah teladanku, perantara langit bagi diriku. Selama bintang masih menampakkan kemilaunya di malam hari, aku tak akan pernah sendiri, ayah akan selalu membimbingku”
Ibunya menangis sambil memeluk mischa dengan sangat erat, dia bahagia karena jiwa putrinya telah terbebas dari sesuatu yang membelenggunya, dia terharu karena kini dia melihat igor suaminya dalam diri mischa.
Sekumpulan awan pekat di langit akhirnya berkenan pergi juga, membuka tirai cahaya bagi matahari untuk bersinar lagi di bumi kilimanjaro.
Kasihanilah mereka
yang bertebar duri diantara langkahnya
Beruntunglah mereka
yang tergelar permadani
serta wewangian menemukan jalannya
karena para pendahulu
telah menyingkap tabir senja
Untuk semua anak kehidupan titipan Sang Dewa,
I love you all...
**********************************************************


No comments:
Post a Comment