Wednesday, December 2, 2009

SIGHTING


Malam baru saja selesai diguyur hujan, langit nampak bersih dan bintang-bintang tampil kembali mempercantik gelapnya malam setelah sejak sore bersembunyi dibalik mendung tebal. Suasana ini selaras dengan hasrat kebanyakan orang untuk memilih beristirahat atau berelaksasi lewat berbagai cara. Namun hal ini tidak berlaku bagi bejo dan lukman. Sebagai alumnus padepokan pondok hijau daun, serta darah muda yang mengalir dalam tubuh mereka, keheningan malam justru menggugah jiwa kependekaran mereka untuk membahas masalah-masalah dunia persilatan yang sedang mereka hadapi. Berbeda dengan kebiasaan sebelumnya, kali ini mereka bermaksud mendiskusikannya dengan sahabat mereka mat holil yang juga teman seperguruan.

“Begini mat,” bejo memulai pembicaraan, ”Saudara sepupuku baru saja menempati rumah kontrakan baru, tapi mereka merasa nggak nyaman karena terganggu oleh suara-suara makhluk halus yang ada di rumah itu. Lalu mereka menghubungiku dan minta bantuanku”

“Lalu kamu menyanggupinya?” tanya mat holil

“Ya, aku bilang akan kucoba”

“Kita berdua sudah ke rumah mereka mat, tepatnya di ruang gudang belakang, aura pekatnya sungguh luar biasa. Kita sudah mengerahkan tenaga dalam maksimal untuk mengusir makhluk halus itu, namun gagal. Tenaga mereka jauh lebih kuat dibanding kita” sambung lukman. Nada suaranya mantap, memberi kesan seperti pendekar yang sudah malang melintang di dunia persilatan, gayanya juga mirip dengan para pemburu hantu yang sering masuk tv.

“Siapa yang menyuruhmu mengusir mereka?” tanya mat holil

Lukman dan bejo nampak terkejut dengan pertanyaan itu, saling berpandangan dan sedikit bingung.

“Begini saja mat,” bejo mencoba menetralisir suasana, “Kita datang kesini dengan tujuan meminta pertolonganmu, mungkin kamu punya cara yang berbeda untuk menyelesaikan masalah ini”

“Waduh cara apa itu, aku nggak tahu, aku nggak pernah berurusan dengan makhluk halus” jawab mat holil dengan setengah tertawa.

“Ayolah mat, kasihan saudaraku, mereka sekarang dikuasai rasa takut tinggal di rumah itu”

Lukman mencoba menengahi seraya menyampaikan ajakan yang lebih halus, “Menurutku bagaimana kalau besok malam kita bertiga coba kesana dulu, kita lihat siapa tahu dengan kita bertiga mungkin ada yang bisa kita lakukan untuk menolong saudaranya bejo”

“Betul mat, tolonglah pliis” bejo setengah merajuk.

Sambil garuk-garuk kepala mat holil menjawab, “Ya sudah, coba kita lihat besok, tapi aku nggak janji bisa menolong mereka lho”

“Nggak papa mat, pokoknya kita mencoba saja, bisa nggak bisa itu belakangan” bejo sedikit lega dengan kesediaan mat holil.

Malam kian larut, mereka sepakat untuk mengakhiri pertemuan itu.

+ + + + +

Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, keesokan malamnya mereka bertiga berangkat menuju rumah saudaranya bejo. Seperti sudah diduga mereka disambut dengan antusias dan penuh harapan, apalagi sekarang mereka datang bertiga, mereka di persilahkan langsung menuju gudang belakang rumah.

Sesampai di depan gudang mereka saling berpandangan, sambil bersikap siaga seperti orang mau perang.

Mat holil menawarkan ide, “Kalian berdua kan sudah pernah mencoba masuk ke gudang sebelumnya, sekarang cobalah lagi”

Bejo dan lukman setuju dengan usulan itu, setelah mengambil nafas panjang dan berdoa mereka masuk ke dalam gudang. Setelah beberapa menit mereka keluar dengan muka pucat sambil geleng-geleng kepala.

“Bagaimana?” tanya mat holil.

“Seperti kemarin, masih susah” jelas bejo, “Coba gantian kamu yang masuk mat”

“Bismillah” mat holil pun masuk ke gudang.

Selang beberapa menit mat holil keluar dengan ekspresi sedikit heran, “Aku nggak melihat apa-apa tuh”

Gantian bejo dan lukman yang bingung, demikian pula si penghuni rumah.

“Kok bisa?” tanya lukman.

“Begini saja, coba kalian berdua masuk lagi” usul mat holil

Karena tidak punya usulan lain dan ditambah rasa penasaran, bejo dan lukman masuk kembali ke dalam gudang.

Tak lama kemudian mereka keluar gudang dengan reaksi dan ekspresi yang tak jauh berbeda dengan sebelumnya, pucat dan geleng-geleng kepala.

“Kok bisa ya” ganti mat holil yang bertanya, “Coba aku masuk lagi”

Setelah keluar dari gudang, ekspresinya pun sama dengan sebelumnya, “Sama tuh, aku nggak melihat apa-apa”

Bejo dan lukman kehabisan akal dan tak mampu berkata-kata. Apalagi si penghuni rumah, ketidaktahuannya tentang dunia supranatural, ditambah kebingungannya melihat perbedaan sikap para pemburu hantu dihadapannya membuatnya tak mampu berpikir apa-apa.

Mat holil memecah keheningan sejenak itu, sambil menepuk lengan si penghuni rumah dia berkata, “Sudah, nggak usah dipikir, kita ngobrol dengan santai saja di teras depan”

Usulan itu diterima sepenuhnya tanpa ada sedikitpun penolakan. Suasana di teras sudah lebih mencair, ditemani suguhan teh manis dan jajanan yang disediakan, kebingungan yang sebelumnya terjadi menguap sedikit demi sedikit bersama udara malam yang dingin.

Mat holil mengawali pembicaraan, “Begini mas, saran saya, jangan berpikir ada atau tidak ada. Jalani saja hidup sampeyan dengan keluarga seperti biasa. Sering-seringlah berdoa kepada Tuhan, memohon ampunan dan keselamatan. Akan lebih baik jika diadakan doa bersama seperti selamatan atau pengajian. Doanya sama lho, memohon ampunan dan keselamatan, jangan berdoa untuk mengusir setan. Pokoknya sekali lagi saya ingatkan, jangan berpikir ada atau tidak ada, semua itu urusan Tuhan”

Si penghuni rumah mendengarkan dengan seksama sambil mengangguk-angguk. Sementara bejo dan lukman masih setengah-setengah. Setengahnya mereka memahami apa yang diucapkan mat holil pada penghuni rumah, setengahnya lagi mereka tidak mengerti mengapa mat holil menyampaikan kata-kata seperti itu. Lebih jelasnya mereka tidak sepenuhnya memahami yang sedang terjadi, dan kemana arah tujuannya dari semua itu.

Setelah dianggap sudah cukup, akhirnya para pemburu hantu yang gagal beraksi itu berpamitan untuk pulang.

+ + + + +

Sudah pasti bejo dan lukman ingin sesegera mungkin sampai di rumah mat holil untuk membahas semua kejadian yang baru saja mereka alami. Namun keinginan itu sepertinya tidak bisa langsung kesampaian, karena sesampai di rumah mat holil sudah menunggu sahabat mereka paidi yang sepertinya sudah cukup lama menunggu kedatangan mereka bertiga. Paidi adalah sahabat mereka yang sekarang bekerja di luar kota, dan mereka sudah tidak saling bertemu selama sembilan bulan. Setelah saling bersalaman dan saling berbagi kabar, paidi menyampaikan maksud tujuan kedatangannya, “Ada sesuatu yang mau aku tanyakan pada kalian, beberapa hari yang lalu aku mimpi ketemu ular, artinya apa ya? Kok sepertinya serem banget”

“Ular artinya perempuan, mungkin kamu akan bertemu dengan seorang perempuan” jawab bejo

Lukman dengan gaya yang serius mencoba mengingatkan, “Artinya kamu harus hati-hati, karena mungkin perempuan ini akan menggoda kamu”

“Wah bisa selingkuh nih” kata beJo sambil tertawa, karena mereka semua tahu bahwa paidi sudah punya pacar, dan hubungannya juga sudah cukup lama.

Paidi tersenyum tipis sambil melihat mat holil, “Kalau menurutmu gimana mat?”

Mat holil tidak langsung menjawab, dia memilih untuk menyalakan rokoknya lebih dulu sebelum bertanya, “Sama pacarmu, hubunganmu sudah berapa lama?”

“Sekitar dua setengah tahun”

“Cukup lama juga ya” kata mat holil, “Kalau boleh memberi saran, mungkin sudah waktunya kamu membina hubungan yang lebih serius”

“Maksudmu menikah gitu?” tanya paidi

Perasaan bingung paidi sudah pasti dirasakan dua kali lipat oleh bejo dan lukman. Belum selesai dibahas kebingungan yang tadi, sudah ditambah lagi dengan kebingungan berikutnya. Yang sedang ditanyakan mimpi tentang ular, yang dibahas pernikahan.

“Menikah itu kan ada prosesnya, mungkin bisa diawali dengan pertemuan antar keluarga dulu, selama ini keluarga kan belum pernah ketemu. Belum tentu langsung melamar, tapi paling tidak ada kejelasan tentang arah hubunganmu dengan pacarmu. Setahuku perempuan dimanapun sangat mengharapkan kepastian, dan mungkin sekarang adalah sudah saatnya, karena sekarang kamu sudah kerja, sudah punya penghasilan”

Paidi mendengar usulan itu sambil berpikir, tapi perlahan-lahan dia mengangguk-angguk tanda setuju, “Betul juga, dalam waktu dekat mungkin akan aku bicarakan dengan kedua orang tuaku”

Bejo sebetulnya akan mengajukan pertanyaan, tapi keduluan lukman, “Lalu apa hubungannya dengan mimpi ular tadi?”

“Lho aku memberi saran ini pada paidi atas dasar petunjuk kalian” jawab mat holil,”Kata kalian mimpi ular berarti paidi akan di goda perempuan, lha dari pada mewaspadai perempuan dikemudian hari yang belum pasti seperti apa orangnya, kan lebih baik mencegahnya dengan melakukan sesuatu yang mungkin sudah pada waktunya dilakukan”

“Melamar itu?” tanya lukman yang masih belum mengerti

“Ya iya lah, masa ya iya dong” jawab mat holil setengah bercanda

Bejo yang sedari tadi mengamati mat holil sambil berpikir, mulai nyambung sedikit demi sedikit. Awalnya dia tersenyum, lama-lama dia tertawa, “Ngerti aku, ngerti”

“Ngerti gimana?” tanya lukman yang penasaran dengan tertawanya bejo

“Begini lho luk, kalo paidi nanti ketemu perempuan itu, belum tentu dia tidak tergoda. Nantinya pasti akan timbul masalah, jadi gunanya mimpi itu tujuannya supaya dia terhindar dari masalah yang mungkin akan terjadi” jawab bejo, masih dengan tertawa

Lukman memang agak lambat loadingnya, tapi lama kelamaan dia mengerti juga, “Oh, jadi mimpi itu justru petunjuk bagi paidi supaya dia bisa terhindar dari masalah”

“Betul, betul, dan caranya adalah dengan melamar tadi” jawab bejo senang karena lukman sudah ikut memahami.

“Tunggu dulu” mat holil buru-buru memotong, “Melamar tadi adalah usahanya, bukan caranya, tetap saja cara yang pasti kita tidak tahu. Yang tahu pasti caranya hanya Allah, makanya aku tadi menyarankan pertemuan keluarga dulu”

“Ya,ya,ya, setuju” lukman mengamini

Bejo mengangguk-angguk tanda ikut setuju

Sedari tadi paidi mengikuti komunikasi ketiga sahabatnya dengan serius, akhirnya dia bisa tersenyum, ikut memahami, kemantapan hatinya kian tergali.

Belum selesai kedamaian suasana itu bergulir, lukman sudah memantik pembicaraan baru, “Nah, kalo yang di rumah saudaranya bejo tadi gimana mat?”

“Ya hampir sama, kan kalian yang menunjukkan sama aku dan penghuni rumah tentang keberadaan makhluk halus di gudang itu, masalah sebenarnya kan kenapa dia ada dan kenapa dia mengganggu si penghuni rumah” jawab mat holil

“Betul, lalu?” simak bejo dengan serius

“Si penghuni pada awalnya kan merasa terganggu karena adanya suara-suara dari gudang itu, lalu dia berasumsi mungkin gudang itu ada penunggunya, padahal sebenarnya dia kan tidak diberi penglihatan. Dia hanya berpikir, dari situlah jadi timbul rasa takut, sedangkan kalian berdua yang mungkin diberi penglihatan olehNya justru mempertegas keberadaan makhluk halus itu, akibatnya rasa takut si penghuni rumah semakin menjadi-jadi”

“Mmmm….” Bejo masih berpikir.

“Lalu kenapa dia kamu suruh untuk berhenti berpikir ada atau tidak ada, kenapa tidak kita usir saja makhluk halus itu?” desak lukman.

Mat holil sedikit heran mengapa sahabatnya masih juga belum bisa mengerti, “Lho gimana sih, sama dengan mimpi paidi tadi lho. Keberadaan makhluk halus tadi hanya petunjuk bagi si penghuni rumah supaya terhindar dari permasalahan di kemudian hari”

Sempat terjadi keheningan sejenak, bejo dan lukman masih berpikir, paidi terpaksa ikut-ikutan berpikir meskipun dia tidak tahu pasti masalahnya, mat holil memilih untuk menyalakan rokok lagi karena yang tadi sudah habis.

Bento akhirnya connect juga, “Oh ngerti, ngerti, makanya saudaraku kamu suruh untuk sering berdoa dan mengadakan pengajian”

“Memangnya akan terjadi masalah apa?” lukman masih belum mengerti.

“Ya mana aku tahu, yang jelas, berdoa itu kan mendekatkan manusia dengan Tuhan nya, orang yang dekat dengan Tuhan pasti akan selalu dalam bimbinganNya, orang seperti itu pasti lebih sering terhindar dari masalah” jelas mat holil dengan ekspresi tidak berdosa.

Bejo mulai tertawa, makin lama makin keras, “Tambah jelas aku, semuanya ada hubungannya”

Ekspresi lukman nampak kurang berkenan dengan tawanya bejo, bagi dia itu seperti menghina ketidaktahuannya.

Bejo melanjutkan, “Aku jadi ingat kata-kata almarhum mbah guru dulu, ingat nggak waktu beliau menjelaskan tentang ketajaman indra lewat penglihatan ?”

Situasi mendadak berubah menjadi hening, ketiadaan suara bercengkerama dengan kesunyian malam, mereka semua bergerak kemasa lalu, saat mereka masih dalam masa asah, asih dan asuh sang guru.

Lukman sempat memecah suasana, “Oh ngerti aku, aku ingat, ini pernah disampaikan mbah guru. Ya ampun bodohnya aku”

Bejo tersenyum, ikut senang karena akhirnya lukman mengerti juga. Keheningan datang kembali, kenangan masa lalu hadir menyapa kedalaman hati mereka semua.

Dimata mereka almarhum mbah guru adalah seorang yang sangat sederhana, tidak terikat dengan simbol-simbol keduniawian. Dengan cara yang sabar, bijaksana serta jenaka mampu membuka cakrawala pengetahuan tentang makna kehidupan bagi murid-muridnya. Keheningan malam, kemilau bintang dan bulan serta hembusan angin seperti menjadi sahabatnya ketika dia berbicara. Dia berpesan, bahwa hidup adalah ujian. Bagi mereka yang diberi kepekaan lebih seperti penglihatan, akan diuji melalui penglihatan itu sendiri. Karena mereka sebenarnya tidak melihat yang tak terlihat, tetapi melihat yang tidak seharusnya dilihat. Penglihatan adalah ujian yang jauh lebih berat dibanding materi, bagi yang tidak mampu mengendalikannya akan terjebak di alam yang tidak nyata selama di dunia. Itulah sebabnya ada manusia yang menghabiskan seluruh hidupnya dengan memburu hantu, menafsirkan mimpi atau menggandrungi hal-hal yang gaib, mereka menjadi lupa dengan tugas utamanya sebagai manusia. Ujian akan selalu menemani perjalanan hidup mereka yang diberi penglihatan, agar terasah, terasih dan terasuh, hingga mereka bisa memahami makna hidup yang sebenarnya dan memahami amanahnya sebagai manusia. Mereka inilah yang disebut menemukan kesadaran, karena mereka melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda dengan manusia kebanyakan, karena mereka berpikir tentang sesuatu hal yang tidak dipikirkan manusia lain. Insya Allah mereka inilah yang bakal meraih kesuksesan di dunia dan akherat, karena mereka melihat yang tak terlihat, dan berpikir yang tidak terpikirkan.

Suara sayup-sayup adzan subuh membuyarkan kenangan masa lalu mereka, pertanda pertemuan itu harus diakhiri. Serangkaian hikmah melalui beberapa kejadian tadi, serta wejangan mbah guru telah tertanam di kedalaman alam batin mereka. Jabat erat, saling berbagi senyum, dan saling mengucap salam mengiringi akhir pertemuan itu. Mereka saling menyadari, bahwa perjalanan masih panjang, masih banyak yang harus dipelajari, masih banyak yang mesti dibenahi. Tak ada kata usai dan tak ada kata berhenti, selamanya, sepanjang masa hidup, hingga awal dan akhir bertemu di ruang dan waktu yang sama.


Berterima kasihlah pada para guru

yang telah membukakan pintu langit dan bumi

dimana tersebar sejuta hakekat

Berkenan memecah kebekuan

lewat kerendahan hati

yang menjadi guru dari segala guru

dan menjadikan hati sebagai muridnya



In Memoriam “Guruku Bapakku”

and the best brotherhood ever,

koko and kakang klawu



**********************************************************

1 comment:

berto undercover said...

jadi kangen ya om ma suhu.
tapi kalo dalam cerita ini, aku siapa ya om ???
hihihihihihihi