Friday, December 11, 2009

SURGA DI TANAH PAPUA


Seandainya ada sebuah tempat di muka bumi yang bisa dianggap mampu mempretasikan keindahan surga, mungkin tempat itu adalah desa kobowre kabupaten Nabire. Sebuah desa di pedalaman papua yang letaknya sangat jauh dari kota, tepatnya di perbatasan kabupaten Nabire dan Manokwari. Perpaduan dataran tinggi dan rendah yang membentang dari daratan hingga tepi pantai. Semua terlihat serba hijau, asri dan alami. Sebuah sungai yang jernih mengalir diantaranya, bercengkerama dengan sejuk dan bersihnya udara. Burung-burung yang bernyanyi di atas dahan, menambah keindahan dalam buaian.

Masyarakat desa kobowre hidup berkecukupan, berlimpah ruah akan kekayaan alam. Selain bertahan hidup dengan bercocok tanam, mereka juga menjala ikan di laut, sesekali mereka berburu binatang liar di tengah hutan. Mereka adalah bagian dari alam, satu tak terpisahkan.

Komunikasi masyarakat desa kobowre dengan dunia luar hanya sebatas administrasi pemerintahan dan perdagangan, sebatas jika ada perahu atau kapal dagang yang merapat di tepi pantai. Kekayaan alamnya yang melimpah serta keterbatasan hubungan dengan dunia luar, memungkinkan terciptanya kehidupan yang tenang dan damai. Kedamaian ini dirasakan oleh semua masyarakat desa kobowre, tidak terkecuali gadis kembar identik, kaksuat dan kaksuit.

+ + + + +

Tak jauh beda dengan kembar identik yang lain, kaksuat dan kaksuit tak hanya memiliki kemiripan secara fisik. Mereka juga memiliki kesamaan dalam gerak, kesenangan dan perasaan.

Kemana kaksuat pergi kaksuit pasti akan mengikuti, jika kaksuit menyenangi sesuatu, kaksuat akan mengamini. Jika kaksuat tertawa kaksuit pun tertawa, jika kaksuit menangis kaksuatpun menangis. Dimana ada kaksuat disitu pasti ada kaksuit, demikian pula sebaliknya. Mereka selalu tampak bersama-sama dalam berbagai suasana, baik suka maupun duka.

Namun itu semua berubah ketika mereka menginjak dewasa. Segala persamaan berubah menjadi perbedaan. JIka kaksuit ingin mendatangi sebuah tempat, kaksuat justru ingin meninggalkannya. JIka kaksuat menyukai sesuatu, kaksuit akan menyukai yang lain. Tak ada lagi yang sama dari mereka. Perbedaan itu kian hari kian menajam hingga sering berujung pertengkaran. Tak jarang kaksuit melukai tubuh kaksuat, dan tak jarang pula kaksuat menyakiti perasaan kaksuit. Di suatu waktu tubuh kaksuat terluka, di waktu lain kaksuit berlinang air mata. Tak ada lagi tawa yang sama, tak ada lagi tangis yang serupa. Kini mereka tak hanya berbeda, tapi juga saling memusuhi. Lama berjalan, seiring waktu tak berkesudahan.

+ + + + +

Suatu hari ada sebuah kapal dagang asal makasar yang merapat. Kapal itu adalah milik saudagar puan daeng malaranggeng, masyarakat desa biasa memanggilnya puan. Mereka sudah tak asing lagi, karena puan sering datang berdagang di kobowre, tiga atau empat bulan sekali.

Kedatangan puan kali ini berbeda dengan sebelumnya, karena puan mengikutsertakan putri tunggalnya yang kini beranjak dewasa. Puan ingin menunjukkan pada putrinya tentang tempat-tempat yang sering dikunjunginya, sekaligus mempersiapkan putrinya sebagai penerus kerajaan dagang keluarganya. Oleh puan, putrinya dikenalkan pada masyarakat setempat. Sebagai teman bermain selama persinggahan, putrinya dikenalkan pada teman-teman sebayanya. Putri puan bernama puan lino martotot, atau biasa dipanggil totot.

Ketika pertama kali dipertemukan, totot dan si kembar sama-sama terkesima. Mereka merasakan adanya suatu chemistry, suatu perasaan unik yang membuat mereka saling tertarik satu sama lain. Mereka merasa seperti pernah berjumpa sebelumnya. Jiwa mereka mungkin telah bertemu lebih dulu melalui déjà vu.

Setelah melihat totot dihadapan mereka, untuk pertama kalinya kaksuat dan kaksuit saling berpandangan seraya berbagi senyuman. Untuk sementara perang berakhir, perdamaian mulai menghiasi taman hati mereka berdua.

Sejak pertemuan itu, mereka bertiga selalu tampak bersama. Bermain, berlari-lari, bernyanyi-nyanyi, bersuka cita di mana saja. Di padang rumput, di bawah pohon rindang, di tepi sungai hingga tepi pantai. Persahabatan alami yang berkolaborasi dengan pesona keindahan alam desa kobowre. Jiwa seolah berkata, bahwa surga itu ada.

Tak sulit bagi mereka untuk menjalin keakraban, dan tak ada batas bagi mereka untuk saling mempercayai. Mereka berbagi hasrat, berbagi rasa, dan berbagi cerita di setiap suasana. Jika totot menyampaikan hasratnya, kaksuat akan menyambutnya, kaksuit akan mengikutinya. JIka totot mengungkapkan perasaannya, kaksuit akan memikulnya, kaksuat akan menyimaknya. Senang dan sedih selalu bersama, tak ada yang mampu memisahkan mereka.

Mereka seperti saling bercermin satu sama lain. Kaksuat seperti melihat cerminan hasratnya, sedangkan kaksuit seperti melihat cerminan perasaannya. Demikian pula dengan totot, dia seperti melihat dirinya terbagi dua dalam tubuh kedua sahabat kembarnya.

+ + + + +

Misi dagang puan daeng malaranggeng telah usai, hampir semua barang telah habis terjual, artinya masa kebersamaan totot dengan si kembar telah selesai. Tiba waktunya bagi totot untuk pulang kembali ke tanah makasar. Mereka saling berpandang tanpa berkata-kata, semesta laksana berhenti bergerak, tak ada hembusan angin, dan burung-burung tak lagi bernyanyi untuk mereka. Kesedihan mulai menari-nari, membuka hati jiwa perduli. Namun mereka mengerti, waktu yang tersedia tak akan pernah mampu mencukupi curahan hati.

Sekejap kaksuit berlari mengambil sebuah pisau, kemudian dia mengiris sendiri telapak tangannya. Tanpa disuruh kaksuat pun melakukan gerakan serupa, seraya berkata pada totot, “Berikan telapak tanganmu”

Sambil mengulurkan telapak tangannya totot bertanya, “Untuk apa semua ini ?”

Mereka saling bergenggaman, bersama darah yang mengalir di telapak tangan, “Agar moghwa selalu mempersatukan persahabatan kita dalam ikatan darah”

“Siapa mohgwa ?”

“Mohgwa adalah dewa penguasa langit, darat dan lautan. Meskipun tanah tempat kita berpijak terpisahkan oleh laut, atas perkenanNya tak akan ada yang mampu memisahkan persahabatan kita”

Totot tersenyum mendengar penjelasan singkat itu, meskipun tak terlalu memahami, dia mampu menerjemahkan kemurnian suara kasih yang terpancar dari hati kedua sahabatnya.

+ + + + +

Kapal mulai bergerak, totot berdiri di buritan, dalam pelukan ayahnya dengan senyum mengembang. Dia melambaikan tangan, “Jangan bersedih sahabatku, karena kamu adalah cermin hasratku. Jangan menangis kekasih hatiku, karena kamu adalah cermin perasaanku. Biar semesta yang menerjemahkan kebahagiaan dan kesedihan ini dengan bahasa mereka sendiri”

Kaksuat dan kaksuit pun membalas lambaian tangan itu dengan senyum penuh arti. Semesta bergerak kembali, angin semilir berhembus, burung burung bernyanyi lagi, menyapa jiwa di sanubari.

Kini kaksuit dan kaksuat kembali berdua seperti dulu, bersama lagi, seperti tak ada perselisihan yang terjadi. Mereka telah sama-sama menyadari, mereka berbeda namun saling melengkapi. Jika mereka bertemu logika, kaksuit akan mempercayakan pada kaksuat untuk mencerna, jika mereka berhadapan dengan kepekaan, kaksuat akan menyerahkan pada kaksuit untuk menyikapi. Kaksuit adalah kaksuat, dan kaksuat adalah kaksuit. Mereka adalah satu tetapi dua, adalah dua tetapi satu. Sepanjang masa, selama-lamanya.




Wahai sepasang embun di cawan suci,

bercerminlah pada semua pelantun kehidupan

Demi satu sungai yang mengalir

menuju samudera hikmah nan maha luas




For the unforgettable,

my two little wings




**********************************************************


1 comment:

jumarlina mambo said...

kaksuit..suiit...suuiiit:D